35 Negara Bahas Terorisme Di Bali

944 dibaca

BALI, BuanaIndonesia.com -Terorisme telah menjadi ancaman keamanan dan perdamaian dunia yang semakin nyata dan terus meningkat. Di tahun 2014, aksi terorisme telah memakan 32.000 korban jiwa atau meningkat 80% dari tahun sebelumnya. Untuk itu, terorisme harus dilawan secara terpadu.

Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir dalam Ministerial Address yang disampaikannya pada 2ndCounter-Terrorism Financing (CTF) Summit di Nusa Dua Bali, tanggal 8-11 Agustus 2016.

” Di tahun 2014, aksi terorisme telah memakan 32.000 korban jiwa atau meningkat 80% dari tahun sebelumnya. Untuk itu, terorisme harus dilawan secara terpadu, ” Kata Fachir

Lanjut Fachir, meningkatnya aksi terorisme dan sebarannya juga makin meluas, ditandai dengan munculnya fenomena ISIL dalam beberapa tahun terakhir.

” Saat ini sudah terdapat lebih 33.000 orang bergabung dengan ISIL yang berasal dari lebih dari 100 negara, ” Papar Fachir

Masih kata Fachir Indonesia menyadari bahwa penanganan terorisme harus dilakukan secara seimbang antara hard approach yang mendorong penguatan penegakan hukum dengan soft approach yang memberdayakan semua lapisan masyarakat untuk menyebarkan nilai toleransi dan menolak ideologi radikal.

” Program deradikalisasi harus berjalan dengan baik untuk menjamin reintegrasi mantan teroris ke masyarakat, ” katanya

Disadari bahwa aksi terorisme menggunakan pendanaan, dan sudah menjadi kewajiban komunitas internasional untuk mencegahnya.

” Salah satu upaya terpadu yang harus dilakukan adalah mendorong penguatan strategi penanggulangan pendanaan terorisme di kawasan, antara lain melalui mekanisme Regional Risk Assessment, penguatan kerja sama antar Financial Intelligence Unit, dan mengembangkan sarana edukatif untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan terkait risiko pendanaan terorisme, ” Jelas Fachir

Kemlu bersama PPATK selama ini telah berperan aktif dalam berbagai forum melalui upaya diplomasi untuk memenuhi rekomendasi Financial Action Task Force (FATF) yang berujung pada dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara yang memiliki resiko pendanaan terorisme pada tahun 2015. Dikeluarkannya Indonesia dari daftar tersebut telah meningkatkan profil perbankan dan rating investasi Indonesia. Karena itu, Kemlu akan terus mendorong penguatan kerja sama internasional terkait pencegahan pendanaan terorisme, baik di tingkat regional maupun global.

” Di pertemuan kali ini bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai pencegahan pendanaan terorisme, menciptakan sistem Regional Risk Assessment di kawasan, serta membentuk strategi bersama untuk mencegah pendanaan terorisme, ” Ucap Fachir

Pertemuan ini diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Australia untuk mensinergikan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh kawasan Asia Pasifik terkait pencegahan pendanaan terorisme. Pertemuan diikuti oleh 35 negara dan 2 organisasi internasional termasuk perwakilan PBB.