Diduga Penyakit Difteri, Dua Warga Aceh Jaya Dirujuk Kerumah Sakit Banda Aceh

66

BUANAINDONESIA.CO.ID, CALANG – Dua warga Aceh Jaya diduga terjangkit penyakit Difteri yang sangat mudah menular serta berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.

Informasi yang diperoleh, dua warga itu sejak hari Sabtu, 6 Januari 2018 telah dirujuk ke RSUZA Banda Aceh.

Direktur RSUD Teuku Umar Kabupaten Aceh Jaya dr. Suryadi saat dihubungi, membenarkan jika pihaknya sudah merujuk dua pasien dengan kasus difteri.

“Kedua pasien tersebut merupakan kakak beradik yang dibawa oleh orang tuanya ke IGD RSUD Teuku Umar pada Jumat, 5 Januari 2018 lalu. Setelah ditetapkan diagnosa awal Susp Difteri, lalu kedua pasien tersebut lansung dirujuk ke RSUZA”. kata Suryadi.

Dijelaskannya, Kedua pasien tersebut merupakan warga Desa Keutapang, Kecamatan Krueng Sabee, yang masih berumur lima tahun.

“Masni, orang tua dari dua bocah berusia 5 dan 3 tahun tersebut mengatakan, sebelumnya, mereka pergi liburan ke Indrapuri, Aceh Besar, liburan akhir tahun”, ujarnya.

Setelah beberapa hari kembali dari sana, masih kata Masni, kedua anaknya mengalami gejala demam dan panas, hingga akhirnya dibawa  ke IGD RSUD Teuku Umar, Jumat lalu.

Untuk diketahui, Difteri disebabkan bakteri Corynebacterium diptheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernapasan bagian atas, hidung dan kulit.

Gejala demam yang tidak terlalu tinggi, namun yang terjadi adalah adanya selaput yang menutup saluran napas. Selain itu, bakteri tersebut juga mengakibatkan gangguan jantung dan sistem syaraf.

Walaupun gejala yang paling mudah terlihat adalah pada mulut dan tenggorokan, sambung Suryadi, difteri juga dapat dikenali dari beberapa tanda lain, seperti pembengkakan pada kelenjar leher, hidung berlendir, demam dan menggigil, batuk, perasaan tidak nyaman, gangguan penglihatan, bicara yang melantur, kulit pucat, serta berkeringat dan jantung berdebar.

Segera ke fasilitas kesehatan terdekat, apabila anak anda mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor) atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khusunya anak berusia kurang dari 15 tahun, seperti yang dikutip dari situs Kementerian Kesehatan RI.

Bagaimana Menurut Anda?