HUT Aceh Jaya Ke – 16 Salah Satu Tokoh Pendiri ini Ceritakan Kenangan Terpahit

7.530 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Adnan Nyak Sarong, dengan sapaan akrab Cutlem, Putra kelahiran Krueng Sabee, salah satu tokoh pendiri Kabupaten Aceh Jaya, yang pernah menjabat Ketua PWI Aceh, dan Anggota DPD RI 2004, mengatakan, kabupaten Aceh Jaya saat ini memasuki usia remaja 16 tahun.

“Pahit getirnya Kabupaten ini, dari sejak berdirinya tahun 2002, sudah kita rasakan semuanya, khsusnya masyarakat Aceh Jaya. Semoga kedepan Kabupaten ini menjadi lebih baik lagi”. Kata Adnan Selasa (10/04/18)

Salah satu kenangan yang terpahit, kata Adnan, adalah peristiwa tsunami yang menghantam wilayah kelahirannya. Ditengah suasana terbelenggu dengan status Darurat Militer (Darmil).

“Waktu itu, cuaca pagi Minggu 26 Desember 2004, sangat cerah. Tidak ada tanda-tanda mendung, badai atau hujan, Jarum jam persis menunjukkan pada posisi pukul 07.56. Bumi pun tiba-tiba bergoyang, warga berhamburan dan berlarian. Suasana mencekam semakin menegangkan. Lalu gaduh, riyuh, diiringi hiruk pikuk dan histeris pun tak bisa dihindari. Hentakan gempa berhenti hanya hitungan menit saja, kemudian bumi kembali bergoyang untuk kedua kalinya namun lebih dahsyat”, katanya.

Dikatakannya, Teriakan “Allahuakbar,… Allahuakbar,… Allahuakbar. Lailahaillah,…Lailahaillaaaah”. Terdengar dimana-mana seperti saling bersahutan. Sementara kaum ibu juga berteriak, “Allah eee,…Allahuuu, pakiban nyoe” (Ya Allaaaah, bagaimana ini).

Kala itu, lanjut dia, seluruh warga praktis sudah berada di luar rumah.”Graaam, gruuum,” bunyi patahan dan seketika masjid Baitai Makmur Kruengsabe itu pun lenyap dari pandangan mata, “Kebanyakan masjid rubuh diterjang gelombang tsunami, sangat sedikit yang rubuh akibat goncangan gempa berkekuatan 8, 9 skala richter”. Katanya.

Dalam suasana galau dan kacau, sambung dia, hanya dalam interval waktu hitungan puluhan detik saja, gempa ketiga kalinya kembali mendedangkan bumi Meureuhom Daya. “Kekuatannya relatif lebih rendah dibandingkan gempa pertama dan gempa kedua. Namun tidak berselang waktu lama peristiwamaha dahsyat awal abad millenium itu meluluhlantakkan Kota Calang, Ibukota Kabupaten Aceh Jaya.

“Kabupaten ini lahir kembar, yaitu Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten Nagan Raya, dari pemekaran Kabupaten induknya Aceh Barat.

Dalam segi proses pemekaran , Aceh Barat sebagai kabupaten tertua di Pantai Barat Selatan Acehi, lebih duluan menetaskan si sulung, Kabupaten Simeulue pada 1999. “Bedanya, Kabupaten Simeulue dan Singkil berjuang sejak 1959, Kabupaten Abdya mulai berjuang sejak 1962”. Katanya.

Sementara Aceh Jaya, diikrarkan hari Rabu, 15 September, tahun 1999, pukul 20.14 Wib, bertempat di kediaman H. Syamsunan Mahmud, Sukaramai (Blower), Banda Aceh.

Mulusnya proses pemekaran saat itu, tidak lain, semata berkat “buah eforia reformasi. Persis gerakan, didorong dari bawah, ditarik dari atas.

Mottonya,  peuili raket wate ie raya (mengayuh rakit ketika banjir), jika tidak akan sok (kandas) di hamparan sungai. Ie raya dimaksudkan, eforia reformasi. “Maka kami bergegas berkerja siang dan malam. Alhamdulillah, wazikrillah, tepat 10 April 2002si “bayi kembar” itu pun meukua (keluar suara) petanda keluar dari “rahim” induknya si Aceh Barat.

Usia Aceh Jaya ketika itu, baru dua setengah tahun. Ibarat bayi sedang tertatih-tatih, tetapi punah diterjang gempa dan gelombang tsunami raya. Ini tsunami terdahsyat sepanjang  abad  di dunia ini.

Selain meluluhlantakkan pusat Pemerintahan Ibukota Kabupaten di Calang. Lima pusat wilayah kecamatan (Teunom, Panga, Krueng Sabee, Setia Bhakti, dan Sampoiet) semua rata dengan tanah. Bahkan sebagian bumi di pesisir amblas dan menjelma menjadi samudra.

“Yang tersisa hanya semata wayang, Kecamatan Jaya. Maka sejak peristiwa alam terbesar ini, tamatlah riwayatnya babak pertama Aceh Jaya”. Imbuhnya.

Penandatanganan Prasasti kabupaten baru ini dilakukan oleh Mendagri Hari Sabarno, pada Sabtu, 16 Juni 2002 di halaman gedung Dirjen Bangdes, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. “Penandatanganannya dilakukan secara kolektif untuk 21 kabupaten/kota se indonesia”. jelasnya.

Nama calon kabupaten penghasil komodity kopra, nilam, rotan, kayu, karet dan ikan dan kuwini ini, terdiri dari panca nama, “Aceh Barat jaya, Aceh Meureuhom Daya, Aceh Jaya, Aceh Daya dan Aceh Barat Laut. Dari lima nama yang kami usul ini, pihaknya, jatuh pada nama cantik, Aceh Jaya”. Katanya.

Apa yang kita lihat sekarang ini, baik dari tinjauan pembangunan pisik belaka maupun sisi pemerintahannya adalah wajah baru babak kedua potret Aceh Jaya. Kecuali hanya bangunan tua di pusat Pemerintahan Jaya yang tidak terjangkau gelombang tsunami.

Hanya di sini adanya wajah perpaduan babak pembangunan sebelum tsunami dan pembangunan babak pasca tsunami.

Dilihat dari segi kehancuran pusat Pemerintahan di Aceh Minggu, 26 Desember 2004 yang terkena gempa dan gelombang tsunami, Aceh Jaya adalah satu – satunya kabupaten yang mengalami kehancuran terparah. 19.150 jiwa warga raib seketika.

Sementara pembangunan pisik, sekolah unggul, masjid indah banyak  bertengger di kabupaten lain. Aceh jaya hanya tinggal nama.

Bagaimana Menurut Anda?