Pria Asal Aceh Ini Sulap Limbah Jadi Rupiah

52

BIANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Pada umumnya barang bekas hanya dipandang sebelah mata, seperti pipa paralon PVC yang hanya menjadi barang tidak terpakai dan dipergunakan lagi. Limbah tersebut memang tidak ada artinya jika dibiarkan begitu saja tanpa sentuhan tangan – tangan kreatif dalam pengolahannya.

Untuk membuat dan dapat dipergunakan pipa tersebut menjadi barang berguna, dibutuhkan kreatifitas seni, kesabaran dan imajinasi tinggi dalam mengolahnya, sehingga barang bekas tersebut tetap memiliki nilai ekonomis.

Seperti yang dilakukan Zalmiadi (29) warga Gampong Alue Thoe, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Pemuda kreatif ini mampu mengolah pipa bekas paralon PVC menjadi lampu hias atau lampu tidur ditangan dinginnya.

” Dahulu pernah bekerja di Industri daur ulang limbah plastik, berawal dari tempat tersebut mendapatkan ide pertamanya mengolah bahan limbah menjadi berguna dan sumber ekonomi, karena melihat banyak pipa bekas yang masih layak pakai namum terlantar begitu saja”, kata dia, sabtu, 1 Desember 2017.

Tak mau berhenti sampai dirinya belajar melalui sosial media youtube

” Kemudian saya mencoba menelusuri youtube untuk mencari tau bagaimana cara mengolah barang bekas untuk dapat diproduksi kembali. Dimulai dengan belajar mengukir kaligrafi di median pipa bekas serta saya kembangkan lagi sendiri, seperti mengukir wajah dan lainnya, ” ujarnya.

Pria yang mengaku lulusan sarjana tafsir Hadist di UIN Ar – Raniry, Banda Aceh tahun 2012 lalu ini mengatakan, dalam hal kreatifitas tangan mampu melakukan banyak hal,

” Salah satunya seni ukir yang sudah lama digelutinya sejak masih duduk di bangku sekolah. Saya memang hoby mengolah barang bekas untuk diproduksi kembali, dan itu sudah sejak kecil saya lakukan”, sebutnya.

Masih kata dia, bahan untuk pembuatan lampu hias cukup sederhana dan modalnya kecil,

” Hanya saja pada pengukiran diatas pipa bekas ini yang membituhkan keahlian khusus dan bisa menghabiskan waktu 1sampai 2 hari, jika itu ukiran wajah. Bahan untuk pembuatan lampu hias hanya membutuhkan pipa bekas berukuran 3″ dan 4″, bola lampu, bor ukir, dan cat semprot. Memulai pertama kalinya membuat, pada awal tahun 2016, hingga sekarang. Sampai hari ini yang sudah saya rakit mencapai seratusan lampu hias dari berbagai model, baik model duduk, tempel dan gantung,” ujarnya.

Seperti model ukiran, bisa kaligrafi, foto wajah dan jam dinding. Harganya dimulai dari 80 ribu hingga 300 ribu rupiah. Sedangkan untuk pesanan sudah sampai ke Wilayah Medan, Palembang juga beberapa wilayah Aceh.

Untuk pendapatan dari hasil ini belum tetap. Karena ia baru membuatnya ketika ada pesanan saja,

” Terkadang dalam 1 bulan ada 8 -10 pesanan orang yang harganya farian tergandung model ukiran dan bentuknya (bisa mencapai Rp. 400-700 ribu). Selama saya membuat lampu hias di rumah, belum mempunyai tempat khusus, seperti keude dagangan atau warung, masih dor to dor saja, ” kata Zalmiadi

Namun kedepan ia berharap usahanya ini dapat dikembangkan jika alat yang dibutuhkan lengkap, seperti komputer untuk desain wajah dan kaligrafi sesuai keinginan serta dilengkapi printer.

Karena selama ini, tutur ia, untuk mendesainnya masih dilakukan di rental komputer, dikarenakan belum punya komputer dan printer pribadi

” Sedangkan bantuan dari pemerintah, baru saya ajukan permohonan di tahun ini, dengan membuat permohonan modal usaha mandiri kepada Bupati Aceh Jaya, ditujukan kepada Disperindag, dengan harapan dapat terbantu untuk pengembangan usahanya,” tutup dia.

Bagaimana Menurut Anda?