Ada Hikmah Dibalik Musibah Banjir

314
Drs Lubis Rahman

Siapa mau rumahnya kebanjiran, Tapi itulah kenyatannya, Musibah banjir merendam rumah mereka, Tidak usah khawatir saudara-sudaraku dibalik semua itu tentu ada hikmahnya. Karena Dia (Allah) lebih mengerti, dibalik banjir yang sekarang melanda beberapa daerah di negeri tercinta ini  yang lebih parah adalah melanda DKI Jakarta. Tinggal lagi bagaimana kita mensyukuri, menyikapi musibah banjir itu sendiri. Bagi yang beriman musibah banjir merupakan ujian Allah, bila kita mampu mengatasinya maka kita akan lulus dari ujian itu dan kita naik kelas.

Bagi yang imannya kurang  akan menggerutu bahkan cendrung bisa menyalahkan Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil kenapa kami mendapat musibah banjir.Kalau bisa ucapan seperti itu jangan sampi terucap dibibir kita,jika itu yang terjadi sungguh kita tidak pandai bersyukur.

Musibah banjir menguji iman sesorang terutama yang akan maju sebagai Caleg, mau membagi hartanya untuk membantu sudaranya yang lagi tertimpa musibah banjir,atau ‘cuek itik’ tutup telinga dan pejamkan mata biarlah anjing menggonggong kapila tetap berlalu tetap gunakan uang yang ada untuk kepentingan maju sebagai Caleg itupun belum tentu menang,tapi kalau dibantukan kepada saudara kita yang sedang mendapat ujian musibah banjir tersebut apalagi  dengan ikhlas sudah pasti dapat ganjaran pahala dari Allah SWT.

Sementara menurut Habib Rizieq musibah banjir itu bisa jadi ujian,peringatan atau azab, Jika musibah banjir kita syukuri terutama bagi yang sedang mengalami saat ini bukan menjadikan kita akan jauh dari Allah melainkan akan  lebih mendekatkan diri kita kepada Yang mendatangkan banjir itu sendiri.

Buat saudara-sudara kita yang punya akan terdorong  lebih peka dan peduli untuk menolong kepada sesama, disaat suadara kita yang lagi mendapat musibah ini untuk memberikan sebahagian rezeki yang kita terima untuk mengurangi beban suadara kita tersebut.

Jika musibah banjir ini kita gunakan dengan tolok ukurnya ilmu akal maka akal kita terutama yang kini lagi mendapat musibah banjir  tentu tidak akan menerimanya atau menolaknya. Sebaliknya bila kita gunakan ilmu kekuasaan Allah maka musibah banjir tersebut tentu akan menerimanya, dan berbaik sangka kepada Yang Maha Rahman dan Rahim.

Mungkin menurut kita terutama yang mendapat musibah banjir  bahwa itu tidak baik, tapi kalau menurut Allah maka itulah yang terbaik. Yakin dan percayalah  baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah,sebaliknya baik menurut Allah sudah tentu baik pula menurut kita yang menjadi masalah adalah  mungkin saja iman kita belum sampai ke sini. Baik menurut Allah  itulah yang akan terjadi.

Mungkin juga karena ada air yang tersumbat, dan mungkin juga hati kita yang tersumbat karena disibukan dengan urusan duniawi, sehingga lalai untuk selalu berkomunikasi sama Allah lewat BB 24434, 2 (Sholat Subuh), 4 (Sholat Dzuhur), 4 (Sholat Ashar), 3 (Sholat Maghrib), 4 (Sholat Isya) Dalam menghadapi musibah, “Agar kamu tidak  bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, Dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri ” (Alhadid 23). Diambil dari Ilmusipil.com.

banjir di ibukota negara ini seakan menjadi sesuatu yang sulit untuk dibereskan sehingga seringkali dijadikan tema kampanye calon pejabat DKI jakarta dengan janji akan mengatasi banjir dengan tuntas, manusia bisa berusaha namun tetap Tuhan yang menentukan. Intinya adalah sebagus apapun perencanaan dan pelaksanaan program mengatasi banjir yang sudah dibuat jika tidak diimbangi dengan perilaku baik sebagian besar warga Jakarta maka hukum sebab akibat pasti terjadi. misalnya jika membuang sampah disungai maka saluran menjadi tersumbat sehingga air meluap ke jalan atau perumahan, jadi agar tidak banjir maka perlu budaya membuang sampah dengan benar atau kalau perlu jangan ada yang namanya sampah.

Terkait dengan musibah banjir ini ada puisi Hammad Ramadhan dan Alex R Nainggolan Berjudul Terjebak

Air Banjir
Engkau terjebak air banjir
berdiri menunggu dua malam
di ketinggian
tapi langit tak lagi biru
cuma mendung yang menggantung
aroma dingin menebar
matahari mati suri
berapa lama lagi air akan surut?
sebelum segalanya menyisa
bersama tumpukan lelah dan lumpur
engkau terjebak air banjir
ditikam kesunyian
tanpa komunikasi
listrik yang mati
telepon genggam yang mati
hujan mengguyur lagi
entah apa yang sedang kauperbuat sekarang?
sementara nyeri dingin air melulu tumbuh
berenang ke tepian hatimu
menyumbat ingatanku yang panjang padamu
ah, mengapa belum juga ada kabar darimu?

Oleh: Drs Lubis  Rahman (Penulis adalah Wartawan, Alumni Fakultas Ushuliddin/Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang)