Ayo Pintar Memilih Pemimpin

318

Buanaindonesia.com- Banyaknya Partai Politik (Parpol) serta dibukanya calon perseorangan (independent) membuka peluang untuk mencalonkan diri sebagai pemangku jabatan/pemberi kebijakan. baik itu wakil rakyat, Bupati, Gubernur dan Presiden. Kuncinya, berdompet tebal serta popularitas.

Ambisi mereka memang luar biasa. Boleh dibilang setinggi langit, walau tanpa memperhitungkan kemampuan diri. Mampukah para pegila jabatan tersebut memimpin dan mengemban amanah kepercayaan masyarakat?Wallahualam.
Itu semua bukan menjadi persoalan. Yang penting bagaimana caranya untuk meraih mimpi dan kesuksesan meskipun dengan cara yang tak lazim, atau dengan menghalalkan segala cara.
Para kandidat mulai tebar pesona melalui alat kampanye berupa baligo. Tim sukses mereka memasang di tempat-tempat strategis. Diantaranya, alun-alun, perkotaan, pasar, serta tempat lainnya yang kerap dikunjungi orang banyak. Bahkan, uniknya lagi baligho dipasang tepat di bawah pohon-pohon besar. Mereka tak menyadarinya, kalau penghuni pohon besar biasanya mahluk halus. Kenapa para kandidat yang katanya pro rakyat saling mendahului memasang alat peraga kampanye di bawah pohon besar?.
Mungkin mereka menganut istilah Sunda, “sugan we atuh katuliskeun jurig(siapa tahu di tuliskan oleh setan). Atau memang menggambarkan sebuah sistem “Lingkaran Setan”. Selain itu, ada di antara mereka tebar pesona melalui pengajian rutin, menyumbang fakir  miskin serta sumbangan sosial lainnya. Itu memang syah-syah saja.
Jika kilas balik kemasa kampanye Pileg periode 2009-2014. Salah seorang calon DPR RI dari partai besar hadir dalam sebuah pengajian rutin di Kecamatan Sukawening. Saat itu dia berkata dihadapan para ulama, masyarakat serta  Kepala Desa (Kades), jika terpilih, akan membantu pembangunan rehabilitasi masjid.
Ternyata, janji manis itu sama sekali tak dipenuhinya. Padahal, masyarakat setempat mengharapkan bantuan tersebut untuk menyelesaikan pembangunan tempat melaksanakan ibadah umat Islam itu. Seiring waktu, yang sudah biarkan berlalu. Itu merupakan sebuah cermin atau sekelumit gambaran cerita segelintir orang yang gampang mengumbar janji.
Kini, masyarakat harus lebih pintar, selektif dalam memilih dan memilah mana figur yang senantiasa bisa mewakili aspirasi kalangan bawah. Jangan terlena dengan buaian janji manis, jangan tergiur tampang dan popularitas jika tidak ditopang dengan skill individu serta wawasan yang tinggi.

Cerita tersebut memang menggambarkan realita kehidupan masa kini. Memang tidak semua calon bertabiat seperti itu. Masih banyak yang berkarakter baik. Hilangkan kesan “Ngusung wakil rakyat mah lir ibarat ngadodorong mobil butut. geus  hirup mah ninggalkeun”(mengusung wakil rakyat ibarat mendorong mobil tua mogok, setelah bisa jalan meninggalkan si pendorongnya)(Oleh: Deden Solihin)