Dongeng sebagai Pembentuk Karakter Anak Didik

70
Farida, S.Pd, M.Si, Kepala UPTD Diknas Kecamatan Plaju Palembang saat memberi sambutan pembukaan “Pelatihan Menulis Cerita dan Mendongeng” di Aula SD Negeri 225 Plaju Palembang. Sabtu 7 Oktober 2017

BUANAINDONESIA.CO.ID, PALEMBANG- Guru sebagai pendidik dan pengajar, harus memiliki metode khusus  untuk menyampaikan materi pelajaran kepada murid yang tidak membosankan. Salah satu diantaranya adalah melalui penguasaan menyampaikan cerita atau kisah dengan mendongeng.

Apalagi, kalau kita ingat dulu waktu masih kecil, orang tua kita mentradisikan mendongeng menjelang tidur bagi anak. Secara perlahan dan tanpa sadar, pesan yang terkandung dalam dongeng itu, sampai sekarang masih demikian melekat.

“Kisah yang pernah diceritakan orang tua kita, misalnya sang kancil yang menolong buaya, dapat membentuk karakter anak, bagaimana memupuk sifat saling tolong antara sesama mahkuk, bukan saling bermusuhan. Nah, disinilah dongeng mampu membentuk karakter anak didik kita untuk memupuk saling kerjasama antar satu dan lainnya,”ujar Farida, S.Pd, M.Si, Kepala UPTD Diknas Kecamatan Plaju Palembang saat memberi sambutan pada pembukaan “Pelatihan Menulis Cerita dan Mendongeng” di Aula SD Negeri 225 Plaju Palembang. Sabtu  7 Oktober 2017.

Kak Inug (Slamet Nugroho, SS) seorang pendongeng asal Yogyakarta

Lebih lanjut Farida menjelaskan, melalui pelatihan ini ada dua hal yang penting, pertama bagi guru dan kedua bagi murid. Bagi guru menurut Farida, pelatihan ini dapat mendorong proses Belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan dan menggembirakan. Dalam hal ini, guru sudah selayaknya dapat menjadi pendidik yang membuat murid senang dan nyaman.

“Kalau guru menyampaikan materi dengan cara yang menarik, misalnya melalui dongeng, akan menciptakan suasana belajar yang segar dan tidak membosankan. Saat itulah proses pembentukan karakter anak, secara perlahan akan terbentuk melalui dongeng,”ujarnya.

Sementara bagi murid, pelatihan ini dapat mendorong proses kreatif terutama bagaimana tata cara menulis cerita yang baik.

“Saya berharap, baik guru dan murid dapat mengambil pelajaran keahlian dari dua materi ini, baik menulis cerita dan mendongeng,” tambahnya.

Pada event yang digelar atas kerjasama Majalah Anak “Super Kidz” Palembang dan UPTD Diknas Kecamatan Plaju Palembang ini, dihadirkan dua pembicara; Kak Inug (Slamet Nugroho, SS) seorang pendongeng asal Yogyakarta dan Mas Im (Imron Supriyadi), seorang Penulis cerita di Palembang.

Kak Inug mengawali materinya dengan gaya teaterikalnya. Kak Inug, kali itu benar-benar totalitas memperagakan bagaimana seorang pendongeng menyampaikan alur cerita di hadapan publik. Beberapa suara ia contohkan.

Melalui kisah kancil dan buaya, Kak Inug memperaktikkan bagaimana suara buaya dan kancil saat mereka berdialog. Tak ayal, puluhan peserta yang terdiri guru dan murid SD di Palembang itu termangu. Tapi sesekali tertawa dengan ulah Kak Inug yang bertingkah layaknya kancil yang ingin menipu buaya.

Sesi kedua, Imron Supriyadi menyampaikan materi teknik menulis cerita. Pada sesi ini, cerpenis Palembang ini menyampaikan trik menulis yang sangat simple. Mula-mula, anak-anak diminta menulis dalam waktu 5 menit.

Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang (DKP) ini kemudian meminta para peserta menulis perjalanannya dari sejak bagun tidur sampai di sekolah. Dua orang (Aninda dan Siti) kemudian diminta membacakan teks yang sudah ia tulis di hadapan murid lainnya.

Menurut Imron, melalui trik mereka menulis yang sederhana ini, untuk membangkitkan imaginasi setiap murid agar kelak bisa terlatih untuk mengolah kisah yang dialaminya dalam keseharian.

“Nanti kalau murid sudah terbiasa memainkan imaginasinya, baru kemudian kita isi kontennya. Tapi untuk tahap awal harus menulis hal yang terdekat dengan kita, sebab dalam setiap diri kita memiliki keinginan untuk menceritakan dirinya,”ujarnya.

Pada sesi ini, Imron menantang para peserta untuk menulis 200 halaman kisah kehidupannya masing-masing.

“Saya tantangan bagi semua peserta. Sekarang tanggal 7 Oktober 2017.  Satu tahun lagi, pada tanggal yang sama, 7 Oktober 2018, saya minta kepada para peserta untuk kirim tulisan ke email saya. Apa yang ditulis? Apa saja. Boleh kisah hidup murid atau para guru. Jangan bertanya, akan menjadi apa karya yang sudah dikirim. Buktikan dulu dengan menulis, baru nanti akan jadi apa tulisan yang sudah dikirim ke email saya,” ujarnya.

Sementara, Fisika Fikri, S.SI, Pemimpin Redaksi Majalah “Super Kidz” Palembang menjelaskan, kegiatan ini baru kali pertama dilakukan. Pekan depan kegiatan serupa akan digelar di sejumlah kecamatan lain, dengan menjalin kerjasama dengan UPTD Diknas se-Kota Palembang. (Rel)