Dia Kah ‘ Sang Penyelamat ‘ Di Tengah Badai Politik Golkar ?

796 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Hari itu, Minggu, 5 November 2017 sejumlah orang menggelar aksi kampanye petisi di kawasan Car Free Day, Dago, Kota Bandung. Di spanduk yang mereka rentangkan tertulis jelas #KangDediDiDzalimi . Mereka yang hadir disana menyebut aksi itu menyebut bagian dari protes netizen terhadap keputusan DPP Partai Golkar  yang mendukung Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur. Mereka menilai hal ini mengebiri aspirasi kader dan simpatisan partai yang ada di Jawa Barat yang memang sebelumnya mengusung Dedi Mulyadi, ketua DPD partai Golkar Jabar sekaligus bupati Purwakarta untuk menjadi calon Gubernur dari Golkar. Aat Safaat Hodijat, salah seorang kader Golkar menggelindingkan petisi online, tak tanggung, jumlah penandatangan dalam petisi itu mencapai 7000 an penandatangan.

Dua pekan berlalu dari sana,  Ketua umum Golkar Setya Novanto (  kembali ) menjadi tersangka dalam kasus korupsi e KTP. Setnov menghilang saat sejumlah penyidik KPK mendatangi kediamannya di kawasan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Belum usai publik disuguhkan pemberitaan Setnov menghilang, kejadian mengejutkan mewarnai setiap pemberitaan media massa. Setnov terlibat dalam kecelakaan. Publik menanggapi nyinyir kejadian kecelakaan Setnov ini. Maklum saja, publik belum lupa dengan kabar Setnov tiba – tiba jatuh sakit saat ditersangkakan KPK dalam kasus e – KTP untuk pertamakalinya pada Juli 2017 lalu.

Rentetan kejadian tersebut  mengkristal menjadi wacana musyawarah nasional . Wacana ini luar biasa deras dan menjadi bola liar di internal Golkar. Kini desakan Golkar untuk segera mengganti ketua umumnya menguat kepermukaan, beberapa nama diakui elit partai berlambang pohon beringin ini telah dipersiapkan. Namun ada  figur yang menarik dari sekian nama itu, nama Panglima TNI Gatot Nurmantyo semakin menguat untuk menggantikan posisi Setya Novanto sebagai ketum Golkar. Rupanya sosok dan karier cemerlang jendral TNI ini membuat Golkar jatuh hati.

Bagaimana runutan peristiwa politik dirangkai para pengamat politik ? apa yang akan terjadi jika Golkar nantinya dipimpin Gatot ?

Berikut wawancara kami dengan Dr Yusuf Hermawan, Analis dan Pengamat Politik Senior dari lembaga kajian Aliansi Masyarakat Untuk Hak Asasi Manusia, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen ), minggu, 19 November 2017 di Bandung

BI : Bagaimana anda memandang peristiwa politik ini ?

Yusuf : Kami memandang ini sebagai peristiwa politik yang menjadi pertaruhan untuk Golkar. Suka atau tidak suka, runutan peristiwa politik dalam beberapa pekan ini tidak berpihak pada Golkar. Elektabilitas Golkar turun drastis, kami membaca ini sejak Setnov pertamakali menjadi tersangka. Lalu diusungnya Ridwan Kamil menjadi calon Gubernur oleh Golkar, saya lebih suka menyebutnya oleh Setnov CS nah puncaknya fenomena tiang listrik kemarin, badai politik buat Golkar. Nah badai ini kan juga pernah kita ingatkan ya sejak pertamakalinya Setnov ditetapkan tersangka , teman – teman wartawan masih ingatkan ? . Kami menilai mempertahankan Setnov sebagai ketum adalah langkah bunuh diri.

BI : Lalu apa yang harus Golkar lakukan saat ini ?

Yusuf : Percepatan Munaslub. Itu . Memang ada pilihan lain ?

BI : Dari sekian nama yang muncul, siapa kira – kira saat ini yang cocok menggantikan Setnov ?

Yusuf : Kami melihat Golkar banyak kader potensial ya, eksternal juga banyak saya kira, tapi kalau kita runut peristiwa – peristiwa kebelakang, kami kira Panglima TNI adalah salah satu jalan keluar yang paling mungkin bisa mempercepat membawa Golkar keluar dari badainya itu. Kenapa Gatot ? coba flashback lagi, nama Gatot punya kedekatan dengan partai ini. Dari fakta sejarah juga membeberkan itu, Golkar itu lahir dari rahim TNI. Saya kira di internal mereka juga ini bukan satu masalah ya. Pak Gatot magnet, bukan hanya untuk Golkar, tapi bagi partai lain juga. Kalau elit – elit bisa menarik Gatot menjadi ketumnya, saya kira itu luar biasa. Kami yakin, Golkar bisa bangkit lagi. Sosok pak Gatot bisa kembali merekatkan kubu – kubu yang kini bertikai, bisa kembali mempersatukan seluruh kekuatan Golkar, dari akar rumput hingga elit. Ingat, Pemilu itu makin dekat, Golkar tak ada pilihan lain selain segerakan menempatkan figur yang dapat persatukan mereka. Nilai jual Gatot tinggi lho, bisa sangat mungkin dengan adanya Gatot memperkuat posisi tawar di perpolitikan nasional

BI : Mengapa anda langsung menyebut nama Gatot ?

Yusuf : Memang ada nama lain, tapi saya kira tidak akan bisa mengimbangi nama Gatot. Bukan berarti yang lain tidak se kredible Gatot ya, tapi kalau boleh memilih, ya kami kira nama Gatot ini yang paling tepat melihat posisi Golkar sekarang ini. Silakan, nanti kita adu dengan sekian nama misalnya. Perlu digaris bawahi ya, ini dengan catatan Panglima berkenan dan sudah selesai tugas negaranya.

Nama Gatot sebenarnya bukan sekali ini saja disebut – sebut internal partai Golkar sebagai sosok ideal yang bisa dimungkinkan ditempatkan menjadi bagian dari partai tersebut. Idrus Marham sekalipun pernah menyebut nama Gatot jauh sebelum terjadinya fenomena Setnov .

“Dulu, Golkar didirikan oleh tokoh-tokoh dari TNI. Jadi, kalau ada jenderal masuk Golkar itu berarti kembali ke khitah,” ucap Idrus.

Bahkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily‎ oktober lalu menyebut – nyebut nama  Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Kata dia partai Golkar akan sangat senang jika dapat bergabung dengan Golkar

“‎Kalau dia (Gatot) selesai mantan Panglima masuk Golkar kita senang-senang saja,” tuturnya.

Masih dibulan yang sama anggota Komisi I DPR Fraksi Golkar Bobby Adhityo Rizaldi juga menyebut Golkar merupakan rumah yang cocok bagi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo jika ingin berpolitik.

“Kiranya memang tertarik masuk politik praktis, politik elektoral, mengabdi ke masyarakat setelah menjadi panglima, Partai Golkar siap memfasilitasi hal tersebut,” ucap dia.