Kinanti Lumpuh Diduga Efek Imunisasi Rubella. Ini Kata Bupatinya

321

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Kinanti anak dari Ai Lisna afifah warga  Kampung Kondang RT 01 RW 04 desa Kertajaya Kecamatan Cibatu Garut mengalami kelumpuhan setelah mendapat Imunisasi Rubella. Kinanti akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung setelah mendapat kepastian ruang perawatannya, Selasa, malam 11 Oktober 2017.

Undang Herman, salah seorang kerabat keluarga Kinanti mengatakan, Kinanti Lumpuh pasca mendapat Imunisasi Rubella dan dirawat di ruanf ICU RSUD Dr.Slamet. Dari keterangan dokter, karena keterbatasan alat serta kesediaan obat yang ada di RSUD maka Kinanti harus di rujuk ke RSHS Bandung,

” Setelah menunggu baru semalam dia bisa diberangkatkan ke RSHS Bandung,” ujarnya.

Undang menjelaskan, dari informasi yang diterima selain keterbatasan alat, ketersediaan obat juga menjadi kendala,apalagi harga obat itu sangat mahal, berkisar Rp.5 juta sekali pakai,

” Bukan hanya sekali itupun,harus beberapa kali, yang tentunya makan biaya puluhan juta,” kata Undang.

Masih kata Undang, dirinya dan keluarga heran dengan pernyataan manajemen RSUD Dr.Slamet.  Pada 10 Oktober 2017 melalui kabid humas dan  dr Zein, pihak RSUD sudah kordinasi dgn DINKES ( Dinas Kesehatan ) Kabupaten Garut menyatakan tidak punya anggaran untuk membantu pembelian obat tersebut,

” Padahal itu sudah menjadi tanggung jawab negara karena adanya imunisasi Rubella dan korban Kinanti warga kurang mampu,” jelasnya.

Kasus Kinanti ternyata jadi perhatian juga Bupati Garut H. Rudy Gunawan. Kepada Buana Indonesia Media Network, Bupati menyatakan ikut prihatin atas kondisinya saat ini. Masih kata Rudy, untuk penelitian dan proses penyembuhan lebih lanjut pihak RSUD menyarankan untuk merujuk Kinanti ke RSHS Bandung,

” Mengingat keterbatasan alat alat labolatorium yang ada si RSUD dan ketersediaan obatnya,” Kata Rudy Gunawan.

Ditanya soal pernyataan manajemen  RSUD tentang tidak adanya anggaran untuk pembelian obat Kinanti, Bupati menjawab, apabila keluarga tidak mampu meski tidak ada anggaran pun demi kemanusiaan wajib dibantu, sebagai pejabat daerah selayaknya harus menyelesaikan,

” Saya akan periksa apabila benar pejabat tersebut bicara tidak ada anggaran dan hari ini juga obat yang diperlukan kinanti akan kita sediakan,” pungkas Rudy.

Kasus seperti ini bukan saja kali ini terjadi. Sebelumnya banyak diberitakan Siswi SMPN 4 Demak, Niken Angelia mengalami kelumpuhan setelah mendapat vaksin campak dan rubella (MR) di sekolahnya.

Lalu Di Citeureup Bogor, Gina Naziba Yasmin (11) pelajar kelas VI (enam) Sekolah Dasar (SD) yang meninggal dunia pada Minggu, 20 Agustus 1017 lalu.

Menanggapi ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F Moeloek memastikan pemberian vaksin measles rubella (MR) aman bagi anak. Vaksin untuk mencegah penyakit campak Jerman ini menjadi bagian dari program imunisasi nasional yang digalakkan pemerintah.

Nila memastikan keamanan tersebut setelah sebelumnya ada penolakan dari sebagian masyarakat, terutama orang tua murid di sejumlah daerah.