Jelang Muscab Pondok Pesantren NU Gelar Silaturahmi

1.314 dibaca

GARUT, Buanaindonesia.com- Menjelang Musayawarah Cabang (Muscab) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Garut, tanggal 30 Januari nanti, sejumlah ulama menggelar pertemuan bertajuk silturahmi.

Acara pertemuan yang digelar pimpinan ponpes Assadah Limbangan KH Amin Muhidin dan pimpinan ponpes Fauzan KH Aceng Abdul Wahid. Diikuti sekitar 250 peserta, terdiri dari 28 Pengurus  Majelis Wakil Cabang (MWC) dari 42 MWC NU, serta perwakilan Puluhan Pondok Pesantren NU yang tersebar di 42 kecamatan.

Informasi yang berhasil dihimpun, kedua pimpinan ponpes ini adalah calon ketua PCNU yang akan bertarung melawan incumbent dalam muscab NU nanti.

KH Aceng Abdul Wahid akrab dipanggil Ceng Wahid adalah calon ketua Tandfiziyah NU, sedangkan KH Amin Muhidin yang akrab dipanggil Ceng Mimin adalah calon ketua Syuro PCNU Garut.

“Saya tidak mencalonkan diri, tapi dicalonkan oleh beberapa MWC, di belakanganya para ulama dan guru saya, Insya Allah sudah 28 MWC mendukung saya,” ujar Ceng Mimin belum lama ini.

Ceng Mimin menuturkan, jika dirinya terpilih yang akan dilakukan adalah semata mata untuk kemajuan NU. Meluruskan dulu NU, mengembalikan NU ke relnya, baru nanti pada program kerja, “Sekarang rel NU Garut kurang pas, NU berkesan condong ke partai politik tertentu, kental berpihak itu kurang pas bagi kami,” tegasnya.

Dalam AD ART NU tidak boleh berpihak, harus sama ke parpol manapun. Menurut Ceng Mimin akibat berpihak, NU tidak besar malah jadi kerdil. Menurutnya satu parpol itu artinya kotak kecil, masuk ke parpol berarti NU menjadi kecil, “Semua Parpol di mata NU itu sama.”

Ceng Mimim mengatakan, bobot NU itu masalah aqidah dan amaliyah. Dirinya akan membina masalah aqidah aswaja (ahli sunah waljamaah) dari mulai pengurus PC, MWC dan masyarakat. Visinya adalah menjamaahkan jamaah, menahdohkan nahdliyin. Artinya Nahdliyin jangan tidur tapi harus bangkit, “Jamaah banyak dimana mana tapi belum tentu NU, padahal semua kulturnya adalah NU.”

Intinya kembali ke khitah NU, kata Ceng Mimin. Khitahnya adalah tidak berpihak kemanapun, tidak ke parpol manapun. Secara garis besar diatas kertas 60% dari penduduk Garut adalah warga NU.

“namun NU Garut sekarang terlihat yang kurang action, tanya pada pengurus NU yang sekarang,” tegasnya.

NU itu aswaja dan tidak bermusuhan dengan siapapun, tidak ada tabrakan radikalisme atau arogansi.

Dirinya akan membina NU kedalam (Internal), tidak akan dulu mengurus orang luar, supaya nantinya warga NU melek dan tahu jati diri NU.

Di tempat yang sama, calon ketua Tanfidziyah Ceng Wahid menuturkan Sebagai kader kalau sudah dicalonkan maka dirinya harus siap, “Secara pribadi saya sangat siap” tambahnya

Menurutnya Dewan Syuriah adalah pemegang kebijakan, tanfidziyah sebagai pelaksana, melaksanakan apa yanga menjadi kebijakan Dewan Syuriah.

“Saya harus membesarkan NU, karena Kondisi NU saat ini sebagian sedang tidur, walaupun NU adalah mayoritas. Kalau saya dipercaya, saya akan mengajak umat bersama elemen lain untuk membangun Garut kedepan lebih maju lagi,”imbuhnya

Dalam pertemuan tersebut Nampak para tokok pimpinan Pondok Pesantren , di antaranya KH. Syahid Pimpinan Ponpes Alfalah Cicalengka Bandung, KH, Alam Mamun Pimpinan Ponpes Qiroatus sabah Balubur Limbangan, Pimpinan Ponpes As-saadah Limbangan, Pimpinan Ponpes Wates Limbangan, KH. Rd.  Iip Pimpinan Pompes Sadang Sucinaraja, KH. Rd Dudu, Pimpinan Ponpes Sumur Cibatu, Pimpinan Pesantren Fauzan Sukaresmi, Pimpinan Ponpes Hidayahtul Fauzien Bayongbong, KH Aceng.Jaeni , Pimpinan Pondok Bantar Beas Bayongbong, KH Aceng elum Pimpinan Ponpes Suci Karangpawitan, Pimpinan Ponpes Salaman Fauzan Sukaresmi, Pimpinan Ponpes Negla Cikajang, Pimpinan Ponpes Al Halim Banyuresmi, KH Jujun Pimpinan Ponpes Al Goniyah Cigawir Selaawim Pimpinan Ponpes Najahan dan Sarohan Bayongbong. (Den)