Petinggi Mandiri Terlibat Dalam Kasus Pembobolan ?

1.203 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Kejaksaan Agung menengarai petinggi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terlibat dalam dugaan kasus pembobolan senilai Rp 1,5 triliun oleh PT Tirta Amarta Bottling Company di bank pemerintah itu di Commercial Banking Center Bandung I, 2015.

Hingga saat ini, penyidik jaksa agung muda tindak pidana khusus baru menetapkan tiga tersangka dari pegawai biasa bank tersebut. Mereka yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Komersial Banking Manajer Bank Mandiri, Surya Baruna Semenguk, Frans Eduard Zandra yang menjabat Relationship Manager dan Teguh Kartika Wibowo, Senior Kredit Risk Manajer. Selain tiga orang dari Bank Mandiri, Kejagung juga menetapkan Direktur PT TAB Company, Rony Tedy.

Jaksa Agung, HM Prasetyo pada Jumat, 26 Januari 2018 menyatakan, nantinya Kejagung akan menentukan tersangka baru.

“Ini kan kasusnya konspirasi antara si pengambil kredit dan pemberi kredit, apakah memenuhi prosedur dan memenuhi persyaratan, termasuk prinsip kehati-hatian yang harus dipenuhi oleh masyarakat perbankan, khususnya Bank Mandiri,” kata dia.

Kajagung menyebut, Rony merupakan pengusul pengajuan kredit. Terkait apakah dana itu digunakan untuk pribadi, ia menegaskan, pihaknya akan menyelidiki secara serius.

“Yang pasti ada di antara uang di dalam kredit itu tidak sesuai dengan yang dinyatakan dalam proposal, bahkan dipakai untuk hal lain,” tambahnya.

Lanjut dia, tindakan para tersangka menyalahi dan menyimpang dari apa yang sudah seharusnya dilakukan pihak perbankan, termasuk tenggat waktu pengembaliannya.

“Yang bersangkutan pemohon kredit itu, minta perpanjangan tapi malah ditambah lagi pinjamannya. Yang jelas saat ini negara dirugikan hingga Rp1,5 triliun,” katanya.

Kasus tersebut bermula pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TABco/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Bandung.

Perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp 880.600.000.000, perpanjangandan tambahan plafond LC sebesar Rp40 miliar sehingga total plafond LC menjadi Rp50 miliar. Serta fasilitas Kredit Investasi sebesar Rp250 miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit terdapat data aset PT TAB yang tidak benar dengan cara dibesarkan dari aset yang nyata.
Sehingga berdasarkan Nota Analisa pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 seolah-olah kondisi keuangan debitur menunjukkan perkembangan.

Akhirnya perusahaan itu bisa memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit pada 2015 sebesar Rp1,170 triliun. Selain itu, debitur PT TAB juga telah menggunakan uang fasilitas kredit antara lain sebesar Rp 73 miliar. Mestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan KI dan KMK, tetapi dipergunakan  untuk keperluan yang dilarang untuk perjanjian kredit.

( Dari Berbagai Sumber )