Saat Istri-Istri Ekspatriat Hatam Al Quran

247

BUANAINDONESIA.COM, JABAR – Istri – istri ekspatriat tidak selalu identik dengan kehidupan mewah atau menjafi kaum sosialita saja. Di Bandung Jawa Barat, komunitas istri – istri ekspatriat ini meng influence satu sama lain untuk berbuat kebajikan dan berbagi pada sesama. Mereka yang berkumpul dalam wadah Srikandi ini, acapkali membuat kegiatan bernafaskan religius, seperti yang hari ini terlihat di kawasan Pasteur Bandung.

Inisiator Srikandi, Mariati Simatupang Otten mengatakan, awalnya Srikandi ini didirikan dari aktivitas arisan sesama mereka, para wanita yang bersuamikan warga negara asing

” awalnya kita arisan dari kiya -kita yang ‘mix married ya, yang bersuamikan orang luar ya, ” Kata wanita yang bersuamikan pria berkewarganegaraan Belanda ini

Sambung Mariati, kegiatan mereka mulai dari tadarus ( membaca Al Quran ) hingga kegiatan sosial seperti pemberian santunan anak yatim piatu

” Kami gak melulu ngopi – ngopi cantik, kongkow, mau sampai kapan ya, kita ini semakin berumur, sudah seharusnya memikirkan bekal ( di akhirat ). Kami mengajak yang belum bisa ngaji, yuk kita sama – sama ( belajar ). Al Quran itu perlu dipelajari, diamalkan, ” Ucap dia.

Mariati optimis, dengan memiliki wadah seperti Srikandi ini, para wanita bersuamikan pria asing ini bisa saling berbagi segala permasalahan mereka terutama bisa saling berbagi ilmu agama. Kegiatan mereka hari ini, disamping meng hatam Al Quran dan santunan anak yatim mereka juga mengukuhkan kepengurusan Srikandi yang diharapkan nantinya bisa terbentuk di seluruh Jawa Barat

Di Indonesia sendiri masih sangat minim data valid yang menyebut berapa persisnya jumlah ‘ mix married’ yang dicatatkan.

Mengutip pernyataan Ketua Masyarakat Perkawinan Campuran Indonesia Juliani W Luthan, pada tahun 2015 jumlah pelaku kawin campuran diperkirakan mencapai tiga juta orang. Dan itu terus meningkat tiap tahunnya. Data kawin campur itu juga belum terstruktur dengan baik.

Para pengurus MT Srikandi

Untuk sebagian awam Indonesia sendiri, isu ini belum banyak diangkat kepermukaan. BBC melansir Berdasarkan data dari 30 negara pada 2010, Eurostat memperkirakan satu di antara 12 pernikahan di Eropa melibatkan pasangan berbeda-beda kewarganegaraan.

Di Swiss, perbandingannya satu di antara lima, di Inggris sekitar satu di antara 11. Di Australia, hampir satu di antara tiga pernikahan pada 2014 merupakan kawin campur. Di Singapura, negara yang notabene negara tetangga Indonesia jumlah pernikahan campuran sendiri mencapai titik tertinggi pada 2014 sejak 1997, pernikahan campuran tercatat 37% dari seluruh pernikahan yang ada, naik 23% pada 2003. Sedang Biro Sensus Amerika Serikat mencatat bahwa pada 2011, di antara 21% rumah tangga di Amerika, setidaknya salah satu pasangan dilahirkan di luar wilayah Amerika Serikat.