Siaga 1 Di Ibu Kota, Penjagaan Berlapis di Komplek Parlemen Senayan MPR/DPR/DPD RI.

5.569 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA – Ledakan yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu Pagi (13/5/2018), Kapolda Metro Jaya, Irjen Idham Azis, meningkatkan pengamanan gereja dan objek vital di Jakarta dan sekitarnya.

Hal tersebut disampaikannya melalui surat telegram yang diterbitkan Minggu sore, terkait ledakan bom yang terjadi di tiga lokasi gereja di Surabaya. “Mulai 13 Mei 2018, pukul 08.00 WIB, kepada seluruh jajaran Polda Metro Jaya dinyatakan dalam status Siaga Satu, sampai ada ketentuan lebih lanjut”, Kata petikan telegram Kapolda  Metro Jaya.

Sebelumnya Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Machfud Arifin, turut memerintahkan pengamanan dan penutupan seluruh gereja di Jawa Timur pasca terjadinya tiga ledakan tersebut.

Perintah juga disampaikan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol. Frans Barung Mangera. beberapa saat setelah Kapolda, Panglima TNI dan Gubernur Jawa Timur meninjau lokasi ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Surabaya.

Sedangkan di Jakarta, Siaga 1 dimulai dengan melakukan pengamanan di objek vital dan Gereja di Ibu Kota Negara, termasuk Gedung Parlemen MPR/DPR/DPD di Senayan.

Pantauan awak media dilokasi, saat memasuki gerbang belakang di komplek MPR/DPR/DPD – RI, di Senayan, Jakarta, Jalan Jendral Gatot Subroto, No 6, Senin (14/05/2018), ada hal yang tidak tampak seperti hari biasanya.

Seluruh anggota petugas Pengamanan Dalam (PAMDAL) Gedung Parlemen dengan ketat, tegas serta penuh ketelitian, para petugas memeriksa satu – persatu, orang beserta barang bawaan mereka, termasuk wartawan, tidak luput dan turut diperiksa oleh petugas.

Tampak terlihat saat pemeriksaan tersebut, tidak ada terkecuali, baik pegawai, karyawan, tamu, serta awak media, semua yang masuk melalui gerbang belakang harus melewati pemeriksaan dulu dengan menunjukan Id Cardnya bila pegawai dan karyawan di tempat tersebut.

Sedangkan tamu, diminta untuk menunjukan Kartu Tanda Pengenal (KTP) sebagai tanda masuk menuju dalam komplek senayan, Gedung MPR/DPR/DPD.

Sebelumnya, bila kita memasuki atau mengunjungi komplek Gedung ini, tidak ada penjagaan berlapis seperti sekarang ini. Dari gerbang belakang hanya pemeriksaan rutinitas biasa saja.

Rudi yang minta namanya disamarkan, salah satu Petugas Pengamanan Dalam (PAMDAL) di Gedung Parlemen, saat diwawancarai, mengaku pemeriksaan itu dilakukan sesuai perintah langsung dari pimpinan untuk menjaga keamanan. sehingga dapat mencegah hal yang tidak diinginkan.

“Pemeriksaan ini dilakukan, untuk mencegah kemungkinan masuknya orang – orang tidak bertanggung jawab. Seperti yang terjadi di beberapa tempat di Surabaya”. Katanya.

Berakhirnya pemeriksaan seperti ini, sambung Rudi, kembali kepada perintah dari atasan. menjalankan tugas saja. Apa lagi situasi saat ini benar – benar mengkawatirkan dan dalam keadaan Siaga .

“Kami di sini hanya menjalankan tugas dan perintah saja, demi keamanan ditempat ini, jangan sampai kecolongan seperti di tempat lain”, katanya.

Insyallah jangan ada kejadian apapunlah, harap Rudi. Selain itu, kata dia, ia bersama petugas lainnya mengaku melakukan pemeriksaan dengan super ketat bagi yang ingin memasuki halaman dan Gedung Dewan.

“Siapapun yang datang, baik itu pegawai sekretariat, karyawan, tamu dan awak media yang masuk ke komplek tiga Lembaga Negara ini, harus melewati pemeriksaan dengam seksama. Jadi, ya harap dimengerti dan dimaklumi”. Imbuhnya.

Sementara, Deded (33), Staf Dewan DPD – RI (Dewan Perwakilan Daerah) kepada media ini, dia sangat mendukung dengan adanya pemeriksaaan seperti ini sangat bagus, kata dia.

Ini semua demi keamanan dan kenyamanan di komplek parlemen ini, tukasnya. Apalagi dalam menjaga keamanan dan ketertiban, sehingga kita dapat terhindar dari hal yang tidak kita inginkan, saya sangat mendukung, tutur dia.

Dengan kita melihat kejadian – kejadian seperti sekarang ini. Siaga 1, sangatlah penting, selain disini, pastinya untuk Objek Vital lainnya juga berlaku. Ini sangat tepat diberlakukan, jangan sampai di dalam Komplek MPR/DPR/ DPD, terjadi hal – hal yang tidak dinginkan, katanya.

Menurut Deded, dengan adanya pengamanan extra ketat seperti ini, adalah hal yang lumrah, sehingga harus dapat dimengerti dan juga dapat dimaklumi, ini semua demi keselamatan dan keamanan kita juga, imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakannya, selama 10 tahun dia bekerja di sini, ini kali kedua dia merasakan hal yang sama dirasakan, dulu saat kejadian bom Sarinah Thamrin. Dan ini yang kedua kalinya pasca Mako insiden Mako Brimob Kelapa Dua dan bom Surabaya, tukasnya.

Deded juga mengatakan, sangat ironis kita melihat kejadian yang terjadi dalam bulan ini. Apalagi dengan kejadian bom di Surabaya, sungguh sangat menyedihkan.

“Pelaku teror tersebut, sanggup melibatkan anak – anak dalam aksi terornya, padahal anak – anak tersebut seharusnya kita lindungi dan sayangi”, katanya.

Deded, yang mengaku sebagai Alumni Pesantren Bustanul Ulum, Madrasah Ulumul Qur – An, Langsa, Aceh Timur, menambahkan, saat ia mengenyam pendidikan agama di tempat tersebut, para ustad beserta gurunya mengajarkan, kita tidak dibenarkan untuk membeci maupun menyakiti dan memusuhi antar umat beragama, kenang dia.

Islam itu agama yang sangat indah, masih kata dia, dapat selalu hidup dengan saling bertoleransi antar sesama umat beragama. Dengan adanya kejadian – kejadian seperti ini, itu di luar dari pada ajaran Islam, tandasnya.

Seperti di zaman Rasullulah SAW, lanjut Deded, setahunya, dalam menyiarkan Agama Islam, banyak cobaan yang datang bertubi – tubi kepada Baginda Rasullulah SAW, tetapi Baginda Rasullullah SAW, menghadapinya dengan penuh kesabaran dan kesantunan, ucapnya.

Maka dari itu, kata dia, mari kita tanamkan jiwa kesabaran yang kokoh dalam hati kita, serta ilmu Agama Islam yang sesuai dengan Al – Qur’An dan Hadist, sehingga kita tidak mudah dipengaruhi oleh ajaran di luar Agama Islam, harapnya.

Dengan demikian, kata Deded, mari kita mulai bersama untuk menyelamatkan serta melindungi Umat Islam dari bahaya ajaran sesat teroris yang bisa memperdaya kita.

Dengan kejadian – kejadian seperti sekarang ini, kita semua, seluruh Elemen Masyarakat, Pemerintah, Legeslatif, dan TNI/POLRI, harus bersatu dan bangkit dalam melawan tindakan kekejaman para teroris.

Semua demi keutuhan, serta keamanan Umat Beragama yang tetap berada dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sesuai dengan 4 Pilar Kebangsaan : Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang harus diimplementasikan dalam kehidupan, tutup Deded.