Demokrasi Bisa Terkotak-Kotak Karena Isu Putra Daerah

1.499 dibaca
Pakar Politik Sumatera Selatan, Tarech Rasyid.

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANYUASIN – Merebaknya isu putra daerah untuk memimpin Kabupaten Banyuasin lima tahun mendatang, dianggap bisa membuat demokrasi di Banyuasin terkotak-kotak, hal tersebut diungkapkan Pakar Politik Sumatera Selatan, Tarech Rasyid.

“Isu putra daerah dan non putra daerah dalam perhelatan Pilkada Serentak 2018, tidak relevan untuk dijadikan sebagai isu kampanye di tengah-tengah masyarakat. Sebab, Banyuasin merupakan Kabupaten yang mempunyai keberagaman aneka warna budaya masyarakat yang mendiami Kabupaten Banyuasin, yang terdiri dari berbagai suku, agama dan ras seperti, Suku Bugis, Jawa dan Bali dan, beberapa agama yang dianut,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, pemimpin Banyuasin kedepan mesti memahami keinginan dan kebutuhan masyarakat, bukan membuat slogan yang menjadikan sekat antara penduduk asli maupun pendatang.

“Isu ini tak relevan dalam konteks Pilkada sekarang,” kata Tarech saat diwawancarai melalui telepon selulernya. Senin, 1 Januari 2018.

Lanjut Tarech, saat ini yang dibutuhkan masyarakat adalah pemimpin yang memahami keinginan dan kebutuhan masyarakat.

“Jika isu itu dipakai hanya memecah belah persatuan masyarakat, buni sedulang setung saja, dengan begitu demokrasi Pilkada Banyuasin akan terkotak-kotak. Kemauan dan kebutuhan masyarakat tentu menjadi standar kemauan masyarakat memilih calon pemimpinnya,” lanjutnya.

Begitupun, bahwa isu tersebut akan terkecualikan dan dapat diterima sebagai alat kampanye ke masyarakat, hanya jika secara track record calon tersebut memang terbukti selama ini telah berbuat dan memahami keinginan masyarakat.

“Kalau itu (secara track record baik), ya malah lebih baik, justru akan punya ikatan moral yang lebih baik dalam membangun daerah,” tambahnya.

Perlu diketahui, geliat Pilkada serentak di Sumatera Selatan semakin memanas. Khususnya di Kabupaten Banyuasin, selain berjibaku di persyaratan agar lolos verifikasi KPU, bakal-bakal calon juga mulai menggencarkan slogan dengan mengusung berbagai isu, diantaranya soal isu putra daerah dan non putra daerah.

EDITOR: WN

Bagaimana Menurut Anda?