Menuju Kursi Sumsel Satu

796 dibaca

Oleh : Nixson, SH.MH

Berbicara tentang sebuah  demokrasi, maka tidak terlepas dari namanya politik. Politik disebuah negara demokrasi menurut hemat saya merupakan cara untuk mencapai pemegang amanah rakyat, artinya bahwa cara tersebut haruslah mengandung nilai-nilai norma dan sopan santun, nilai-nilai pendidikan politik,  dengan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan serta upaya memperbaiki kondisi negeri ini untuk menjadi lebih baik agar ultimate to goal dari negara ini yaitu mewujudkan kesejahteraan dan menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat.

Politik bukanlah pencapaian kekuasaan oleh suatu kelompok, agar kelompok tersebut dengan kekuasaan dengan mudahnya mencapai kepentingan. Memang ada kelompok yang masih beranggapan bahwa yang sejati didalam politik adalah “kepentingan” tetapi dengan tegas saya menolak itu, yang sejati didalam politik adalah capaian perwujudan kesejahteraan rakyat. Salah satu ciri dari negara demokrasi adalah pemilihan penyelenggara pemerintahannya dalam hal ini  Eksekutif dan Legislatif, dilakukan oleh rakyat dengan cara dipilih langsung oleh rakyat karena kekuasaan tertinggi pada negara demokrasi adalah ditangan rakyat.

Melihat fenomena  Pilkada Sumsel yang akan berlangsung bulan Juni Tahun 2018 ini tampaknya akan semarak  karena diikuti oleh empat pasang kandidat yang  masing-masing kandidat mempunyai kekuatan yang cukup berimbang. Hal ini dikarenakan  Gubernur yang menjabat saat ini tidak dapat lagi mencalonkan diri karena sudah dua periode menjabat sebagai gubernur.

Empat pasang kandidat yang akan memperebutkan kursi nomor satu di Sumsel ini merupakan putra terbaik masyarakat Sumsel dan merupakan wajah-wajah yang cukup dikenal oleh masyarakat Sumsel. Mereka adalah Ishak Mekki- Yudha Pratama, Dodi Reza- Giri Ramanda, Herman Deru- Mawardi Yahya dan Aswari-Irwansyah.

Jika dilihat dari peta politik masing-masing pasangan ini cukup berimbang dan mempunyai kelebihannya masing-masing sehingga diprediksi persaingan pilkada Sumsel Tahun ini cukup ketat. Ishak Mekki yang merupakan Wakil Gubernur saat ini dan pernah menjabat Bupati dua periode merupakan calon yang cukup senior dan berpengalaman. Ishak Mekki maju dengan menggandeng tokoh Muda Yudha Pratama yang merupakan pengusaha muda dan akademisi. Perpaduan ini cukup menarik untuk saling melengkapi.

Dodi Reza merupakan Bupati Musi Banyuasin saat ini merupakan putra dari Gubernur Sumsel Alex Nurdin. Sebelumnya Dodi Reza merupakan anggota DPR RI dari Partai Golkar, tentu dengan jabatan sebagai Bupati dan mantan anggota DPR RI merupakan alat tawar yang cukup tinggi di tambah lagi Gubernur saat ini adalah orang tuanya. Dodi Reza maju menggandeng tokoh politik yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD Sumsel yaitu Giri Ramandha Kiemas. Meski muda beliau ini adalah Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Sumsel yang cukup berpengalaman. Sebagai Ketua Partai tentu dirinya mempunyai basis massa disetiap Kabupaten di Sumsel. Perpaduan Dodi Reza dan Giri Ramandha N.Kiemas ini dikenal sebagai pasangan muda berpendidikan, kreatif dan inovatif.

Selanjutya pasangan Herman deru dan Mawardi Yahya. Pasangan ini dua-duanya adalah mantan bupati tentu cukup berpengalaman dalam dunia politik maupun birokrasi. Herman Deru merupakan mantan Bupati OKU Timur  dua periode sedangkan Mawardi Yahya merupakan mantan Bupati Ogan Ilir juga dua peiode. Kedua pasangan ini mempunyai elektabilitas cukup tinggi dan dinilai sangat berpengalaman.

Pasangan terakhir adalah Aswari Rivai dan Irwansyah. Syaifudin Aswari merupakan Bupati Lahat dua priode. Aswari sudah lama mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon Gubernur Sumsel dan merupakan Ketua DPD Partai Gerindra Sumsel yang mempunyai massa partai di semua kabupaten kota di Sumsel. Dirinya menggandeng Irwansyah yang merupakan Walikota Pangkalpinang. HM Irwansyah Ssos MSi juga putra mantan Sekda Provinsi Sumsel H Sofyan Rebuin  juga sudah berhasil menjadi walikota yang track recordnya cukup bagus termasuk pemimpin yang bersih.

Keempat kandidat ini masing-masing mempunyai peluang yang sama tinggal adu strategi dan program kerja untuk meraih simpati masyarakat. Dengan kekuatan imbang ini diperkirakan pilkada Sumsel akan sedikit panas dan dikhawatirkan akan saling menjatuhkan yang dapat menimbulkan gesekan di grass root.

Tidak sampai disitu, proses saling jelekkan dan menyebar luaskan isu-isu yang kontra produktif diperkirakan akan mewarnai pilkada sumsel 2018. Setiap detik kita akan di suguhkan dengan informasi-informasi yang sama sekali tidak menjadikan kita sebagai orang yang cerdas secara politik, karena referensi yang dimunculkan adalah informasi tentang kejelekan kelompok ataupun individu tertentu yang mereka anggap sebagai lawan, yang seharusnya informasi tersebut tidak perlu dihadirkan di sosial media, karena secara tidak sadar apa yang diinformasi kan oleh pengguna akun di sosial media merupakan konsumsi informasi orang seluruh dunia, artinya bahwa kita sendiri yang telah menjelek-jelekan kelompok ataupun individu yang nanti akan menjadi pemimpin diprovinsi  ini.

Padahal jika kita berfikir dengan jernih, mereka yang hari ini sedang berkompetensi untuk menjadi pemimpin di provinsi ini adalah putra-putra terbaik Provinsi Sumsel yang telah melalui berbagai proses dan seleksi hingga mereka bisa mencapai kompotensi itu. Kedepannya, dimulai dari hari ini, STOP saling fitnah, saling jelekkan antar kelompok dan golongan, saling hujat antar suku dan agama, beranggapan bahwa kelompok kami lah yang terbaik, kelompok kami lah yang pantas memimpin, karena sejatinya kita  ini ada karena keragaman dan pengakuan perbedaan yang kita miliki.

 Penulis adalah Pemerhati Masalah Hukum dan Politik tinggal di Banjar masin Alumnus Pascasarjana USU

 

Bagaimana Menurut Anda?