3 unit Rumah Di Aceh Jaya, Di Lalap Si Jago Merah

8.492 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Sebanyak tiga unit rumah semi permanen yang berada di Dusun Kuala Merisi, Desa Keutapang, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, musnah dilalap si jago merah, pukul 14.30 WIB, Minggu, (2/12/2018).

Menurut informasi yang dihimpun buanaindonesia di lokasi, kebakaran itu terjadi disebabkan percikan api yang berasal dari meteran pada salah satu rumah milik Musliadi (53), yang disewakan kepada tiga orang anggota Polri, bertugas di Polres Aceh Jaya, yaitu Aditya Rahman (21), Andi Yusra (24) dan M.Tufilla (21).

Sesuai keterangan yang diterima, awalnya Musliadi mengetahui kejadian kebakaran itu dari Mak Dah (38), warga setempat yang melihat adanya percikan yang berasal dari meteran di salah satu rumah yang disewakannya. Lalu Musliadi langsung berlari menuju lokasi rumah terbakar, dia melihat tiga unit rumah milikinya yang disewakan itu sudah dilalap si jago merah, “Bersama warga yang mengetahui kejadian tersebut, langsung beramai -ramai membantu korban untuk melakukan pemadaman. Lalu, sekira pukul 14.40 WIB, satu unit Mobil Damkar Pemkab Aceh Jaya, tiba di lokasi kebakaran melakukan pemadaman”. Kata salah satu warga.

Api tersebut berhasil dipadamkan sekira pukul 15.00 WIB. tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, Namun kerugian diperkirakan mencapai Rp. 200.000.000-. Berikut jumlah material yang terbakar:- 3 Unit Rumah, 1 unit Honda merek Beat, warna putih dengan kondisi hangus. 1 unit Honda merek Verza dengan kondisi hangus, milik Inventaris Polres Aceh Jaya.

Sementara, salah satu hasil hasil laporan pihak Kepolisian Polres Aceh Jaya, melalui pesan WhatshApp kepada media ini, kasus kebakaran yang terjadi pada rumah Musliadi, di sebabkan akibat konslet arus listrik pada meteran rumah korban.

Senada juga disampaikan Musliadi, kepada pihak aparat hukum, bahkan, diuraikannya bahea sebelumnya korban pernah melaporkan kepada pihak PLN Kabupaten Aceh Jaya, prihal gangguan pada meteran rumah korban. akan tetapi, dari pihak PLN tidak menanggapi, serta tidak ada upaya untuk melakukan perbaikan pada meteran listrik tersebut.

Karnanya, adanya kejadian kebakaran itu, Musliadi (Korban), merasa keberatan. Dan berencana akan menempuh jalur hukum, terkait kerugian yang dialaminya.

Terpisah, Manager ULP (Unit Layanan PLN) Calang, Minggu malam 2 Desember 2018, melalui sambungan telepon seluler mengatakan, pasal laporan yang akan dilayangkan kepada pihaknya, itu haknya dari pelanggan. “Dari kami PLN bisa menjelaskan, batas PLN nya dari tiang hingga meteran, dan kami juga turut berduka dengan kejadian itu”. Jasnya.

Menurut Bian Wahyudi, pasal kebakaran itu, kalau meteran selagi ada pengaman tidak masalah,  “bila ada konslet, pasti langsung balik. Kemarin memang pernah ada laporan, informasinya, instalasi bangunannya yang terlalu keci,, Dia pakai serabut, sehingga tidak cukup untuk bebannya. Kalau secara PLN yang kita bahas, dari tiang hingga meteran, selepas meteran itu tanggung jawab pelanggan”, katanya.

“Bila ada konslet disitu, mcb lengkap semua, walaupun ada konslet dia tetap balik, itu bisa kita buktikan. Tidak ada masalah itu, sedangkan untuk bagian dalam kami tidak pernah menganggu. Wewenang PLN itu, dari tiang hingga sebatas meteran”. Imbuhnya.

“Kecuali, kata dia, mungkin ada yang disalah gunakan, apa mcb nya disambung langsung. Sedangkan untuk pasang awal kita kan jelas, semua lengkap, ada mcb nya, ada pengamannya semua. Setelah itu kan kita tidak tahu, bantah Bian, mungkin bisa saja disambung langsung, atau dibuka, atau di shoot, ya ga tau kita’, imbuhnya lagi.

Sebelumnya, diterangkan Bian Wahyudi, memang pernah ada laporan terkait kabel serabut yang ada di dalam rumah itu, setelah diperbaiki dan sudah diganti masalah pengamannya, karena ujar dia, sebelumnya tidak standar, jadi kita standarkan lagi.

Terkait hal itu, lebih lanjut dipaparkan Bian, pihaknya juga sudah menyampaikan pesan melalui petugas, serta dijelaskan, “Pak ini tolong diganti kabel – kabel yang kecil, jangan sampai terjadi kebakaran”. Jelasnya

“Jadi sekarang kejadian, kalau mereka menuntut, kita punya saksi dan bukti – bukti, bahwa kita sudah melakukan perbaikan. Bukan saat ada percikan api kita tidak pernah melakukan apapun”. tutup Bian Wahyudi.

Bagaimana Menurut Anda?