Prospek Cerah Bisnis Ayam Kampung KUB, Bertelur Ratusan Butir

80.812 dibaca
Ratusan peserta bimtek budidaya ayam kampung KUB di Balitnak, Ciawi, Kabuapten Bogor, berfoto bersama sebelum memulai kegiatan pelatihan Selasa 17 April 2018 (BUANA INDONESIA NETWORK/Acep Mulyana)


BUANAINDONESIA.CO.ID, BOGOR- Saat ini ayam kampung belum menjadi sebuah pilihan bisnis ternak dan dipelihara secara intensif. Selama ini masyarakat masih memelihara ayam kampung secara tradisional, sederhana, belum diberikan pakan yang bagus dengan bibit seadanya.

Namun Badan Penelitian Ternak (Balitnak) bersama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangnak) Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah berhasil mengaplikasikan inovasi teknologi yang mampu memproduksi ayam Kampung Unggul Balitbangnak (KUB). Jika biasanya ayam kampung hanya bertelur sekitar 10-12 butir dengan waktu tak tentu, namun kini dengan sentuhan inovasi teknologi mampu menghasilkan ratusan butir telur.

Advertisement

Tentunya, jika ayam kampung sudah bisa memproduksi ratusan telur maka prospek bisnis ternak unggas ini begitu cerah. Ayam KUB adalah ayam kampung hasil seleksi dari berbagai jenis ayam kampung di Indonesia yang dihilangkan sifat mengeramnya dengan sentuhan teknologi tertentu. Dengan menghilangkan sifat mengeramnya, maka ayam kampung menghasilkan lebih banyak telur hingga berlipat dari biasanya.

Kepala Balitnak Dr. Soeharsono, saat memberikan bimbingan teknis (bimtek) kepada 200 peserta pelaku usaha dan kelompok ternak di Balitnak Ciawi, Kabupaten Bogor, Selasa 17 April 2018. menjelaskan  beberapa keunggulan ayam kampung KUB produktivitas telurnya tinggi bisa mencapai 180 butir/ekor/tahun dengan bobot telur 35-45 gram.

“Ayam kampung KUB ini juga menghasilkan telur tetas yang menghasilkan anakan (DOC). Anakan ini nanti dipelihara selama 70 hari hingga bisa dipotong dengan bobot mencapai 1 kilogram. Kebutuhan pakannya untuk mencapai bobot ayam 1 kg sebesar 2,8 kg. Ayam kampung KUB juga lebih tahan penyakit serta dagingnya tentu jauh lebih enak dibandingkan ayam broiler atau ayam negeri,” jelasnya.

Soeharsono mengatakan, dengan menghasilkan lebih banyak telur maka prospek dan pangsa pasar ayam kampung KUB jauh lebih baik. Kalau diasumsikan per orang memelihara 100 ekor ayam KUB dikalikan 180 telur/ekor maka akan menghasilkan 18.000 telur per tahun. Apabila saat ini harga telur eceran Rp2.000/butir maka dalam setahun bisa menghasilkan Rp36 juta.

Selain mengembangkan ayam kampung KUB, Balitnak pun mengembangkan teknologi Ayam Sensi-1 Agrinak yakni singkatan dari Sentul terseleksi pertama karya Balitnak Balitbangtan, yang merupakan salah satu galur murni ayam lokal pedaging unggul.

Prospek bisnis ayam kampung Sensi-1 Agrinak ini pun cukup menjanjikanm di mana harga ayam kampung saat ini relatif dinamis. Di Jabodetabek bisa mencapai Rp32.000 per kilogram dan di luar Jawa bisa mencapai Rp50.000 per ekornya.

“Pangsa pasar ayam kampung lebih kepada pilihan kelas menengah atas. Masyarakat biasanya akan lebih memilih ayam kampung dibanding ayam negeri. Usaha ayam kampung KUB dan ayam Sensi-1 Agrinak ini diharapkan bisa membumi dan mensubstitusi konsumsi ayam broiler (ayam negeri), baik dagingnya maupun telurnya,” paparnya.

Soeharsono berharap penerapan teknologi ayam kampung ini bisa sampai kepada pelaku usaha, mitra, kelompok ternak, dan masyarakat umumnya.

“Jadi kalau mau beternak, kalau tidak ada bibit tidak bisa. Dunia pertanian akan sukses kalau tersedia bibit unggul. Balitnak hadir dalam menyediakan galur-galur ayam unggul yang bisa dibibitkan pada dunia usaha atau kelompok ternak atau bisnis di bidang peternakan yang selanjutnya bisa dikembangkan di wilayahnya masing-masing. Balitnak memberikan pelatihan atau bimbingan teknis. Selain itu, setelah Bimtek peserta juga bisa bersilaturahim untuk mendalami lagi pengetahuan dan keterampilannya,” imbuh Soeharsono.