{"id":27650,"date":"2017-03-06T11:05:48","date_gmt":"2017-03-06T04:05:48","guid":{"rendered":"http:\/\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/?p=27650"},"modified":"2017-03-07T03:10:55","modified_gmt":"2017-03-06T20:10:55","slug":"sudahkah-kita-berkarakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/","title":{"rendered":"Sudahkah Kita Berkarakter ?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong> Oleh : Prof Muhibbin Syah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melalui catatan sejarah dan mass media, kita mengetahui banyak bangsa yang terkenal karena memiliki karakter yang sangat tangguh. Pada zaman PD I dulu, bangsa Rusia mampu bertahan dan akhirnya menang melawan kekuatan Napoleon Bonaparte yang waktu itu sangat perkasa dan bernafsu menguasai seluruh daratan Eropa. Selanjutnya, dengan ketangguhan karakternya bangsa ini terus berkembang dan mencapai sukses besar dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi hingga kini. Selain itu,\u00a0 bangsa Jepang yang pada PD II diporak-porandakan oleh tentara sekutu plus AS dapat bangkit dan berdiri tegak di antara bangsa-bangsa lainnya. Bahkan, dengan ketangguhan karakternya sejak tahun 1960-an bangsa ini telah membuat bangsa-bangsa lain terheran-heran menyaksikan kemajuan sains, teknologi dan ekonominya sehingga muncullah istilah <em>Japanese miracle<\/em> (keajaiban Jepang) dan<em> the misterious east<\/em>\u201d (negeri timur yang penuh rahasia).\u00a0 Fenomena kebangkitan Rusia dan Jepang di atas menunjukkan betapa besarnya peran kekuatan karakter suatu bangsa yang ditandai antara lain dengan watak-watak seperti: \u00a0mandiri, disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Karakter bangsa kita masa kini<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagaimana halnya dengan bangsa kita? Bangsa Indonesia dalam banyak hal kelihatan sebagai bangsa yang memiliki karakter kuat sebagaimana yang kita ketahui pada masa-masa jauh sebelum kemerdekaan dan juga pada masa-masa ketika mencapai dan mempertahankan kemerdekaaan dari penjajahan Belanda. Namun sayang, selama dasa warsa terakhir ini karakter bangsa Indonesia tampaknya tidak setangguh dulu lagi. Bahkan, karakter bangsa kita akhir-akhir ini terkesan rapuh, sehingga Indonesia menurut Gunnar Myrdal seperti yang dikutip Yahya Muhaimin (2009) dapat dikategorikan sebagai <em>soft state <\/em>(negara lembek)<strong>.<\/strong> Banyak anggota masyarakat Indonesia, termasuk kaum terpelajar, yang \u00a0berjiwa labil dan emosional. Dalam menghadapi perbedaan pandangan keagamaan khususnya yang berkaitan dengan politik sering sering dilakukan dengan cara-cara yang kurang atau tidak Islami. Di antara mereka tidak sedikit yang dengan mudahnya menuduh munafiq bahkan \u201dtersesat\u201d kepada orang atau kelompok lain seraya menyatakan hanya pendapatnyalah yang benar, dan oleh karenanya harus diikuti agar masuk surga. Bahkan, di antara mereka cukup banyak yang tidak mau (mengharamkan diri) menyembahyangkan janazah Muslim yg tidak mengikuti kemauan politiknya! Konotasinya jelas, bahwa siapa pun yang tidak mengikuti pandangan yang mereka klaim sebagai kebenaran mutlak itu akan masuk neraka! Dengan demikian, mereka telah mengambil posisi Rasulullah atau bahkan posisi Allah yang berhak menentukan surga-neraka bagi umat manusia. Sungguh terlalu!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sebagian bangsa kita juga terkesan tidak berdisiplin dan tidak kreatif bahkan terkesan malas terutama dalam hal-hal yang memerlukan pemikiran yang mendalam dan komprehensif. Akibatnya, hasil karya mereka pun tidak kompetitif dalam arti tidak mampu memenangkan persaingan yang menguntungkan dalam jangka waktu panjang. Di kalangan kaum <em>elite<\/em>, kelemahan karakter bangsa ini berdampak buruk dan luas antara lain meruyaknya kejahatan korupsi di kalangan oknum pejabat, oknum aparat dan oknum wakil rakyat. Buktinya, meskipun banyak orang yang ditayangkan di TV dan diberitakan di pelbagai medsos sebagai pelaku korupsi dan gratifikasi, masih selalu saja ada oknum pejabat dan wakil rakyat yang korup dan <em>cengar<\/em>&#8211;<em>cengir<\/em> saat disorot kamera TV. Sudah putuskah urat malu mereka?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Kajian Karakter dan Akhlak<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kosa kata <em>karakter<\/em> berasal dari bahasa Latin yang telah diserap ke dalam bahasa Inggris, <em>character.<\/em> Dalam bahasa Indonesia, <em>karakter<\/em> dapat diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan\/ tabiat\/watak (KBBI, 1991: 445), sedang dalam English Dictionary and Thesaurus kata <em>character<\/em> berarti <em>the combination of traits and qualities distinguishing the individual nature of a person<\/em> yakni gabungan segala sifat yang membedakan hakekat individual seseorang (McLeod, 1989: 161). \u00a0Dalam The Penguin Dictionary of Psychology, <em>character<\/em> dipandang sebagai <em>kesatuan seluruh ciri\/sifat yg menunjukkan hakikat seseorang<\/em> (Reber, 1988:116).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam kajian psikologi, karakter diasumsikan berkembang sejalan dengan tahap-tahap perkembangan manusia dalam rangka mengganti insting (<em>instinct<\/em>) rendah yang cenderung bersifat hewani. Karakter berkembang seiring dengan perkembangan psiko-fisik manusia dan pengalaman\/pendidikan yang diperolehnya. Alhasil, sebenarnya kebaikan dan ketangguhan karakter seseorang bergantung pada pengalaman pendidikan dan pengalaman hidup orang tersebut. Lalu, kenapa ada orang yang berpendidikan dan berpengalaman cukup berkarakter buruk? Jawabnya, boleh jadi ia tidak mendapat pendidikan yang \u201cbaik\u201d dan lebih sering berinteraksi dengan lingkungan yang buruk misalnya pertemanan dan institusi yang korup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara itu, dalam kamus Arabic-English \u201cAl-Mawrid\u201d (Ba\u2019albaki, 2007:168) <em>character<\/em> diartikan sebagai <em>tabiat<\/em> dan <em>sifat<\/em>. Selanjutnya, secara lebih luas dalam kamus Arab-Inggris \u201cQamus al-Tarbiyah\u201d (al-Khuli, 1981:61) <em>character <\/em>dimaknai <em>kesatuan ciri-ciri pribadi seseorang yang melekat selamanya, seperti akhlak<\/em>.\u00a0 Dari makna yang telah dikemukakan tadi tampak jelas keterkaitan antara karakter dengan akhlak meskipun kita tidak dapat menyatakan bahwa akhlak itu persis sama dengan karakter. Namun perlu dicatat, bahwa dalam kajian psikologi karakter diyakini membuat manusia melakukan sesuatu secara otomatis (<em>instintive<\/em>). Orang yang berkarakter <em>amanah<\/em> misalnya, secara instintive akan berusaha keras menyerahkan barang yang ia temukan kepada pemiliknya karena barang tersebut bukan kepunyaannya. Banyak pengalaman positif sekaligus mengagumkan sebagian orang (termasuk saya sendiri)\u00a0 ketika belajar dan berinteraksi dengan orang-orang bule. Pengalaman subjektif saya (ketika berkunjung ke beberapa negara Barat dan ketika belajar di negeri berbudaya Barat) menunjukkan betapa unggulnya karakter bangsa-bangsa sekuler itu! Inilah sebuah contoh nyata! Loket saya yang berisi beberapa belas dolar, kartu ATM dan kartu mahasiswa tercecer di sebuah pantai saat saya berakhir pekan bersama istri dan anak balita saya. Sore harinya, saat saya bingung sambil mencari loket di seluruh sudut <em>flat<\/em> (apartement), telepon berdering dan seorang perempuan memberi tahu bahwa ia telah menemukan loket itu di antara gundukan pasir di pantai yang kami kunjungi. Singkatnya, karena saya berterus terang tidak punya uang untuk naik bis atau <em>tram<\/em> apa lagi taksi untuk mengambil loket di kawasan perumahan yang berjarak sekitar 15 KM itu, sang penelepon datang bersama anak balitanya dan menyerahkan loket tadi dengan suka rela. Lalu, saya tunjukkan <em>hospitality<\/em> (keramahtamahan) seraya membuat <em>a good conversation<\/em> dengan penuh keakraban sambil menikmati teh sore. Sungguh! Hingga saat ini saya belum dapat membayangkan hal itu terjadi di sini, di negeri Pancasila yang mayoritas penduduknya Muslim!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selanjutnya, <em>akhlak<\/em> secara sangat sederhana berarti: budi pekerti, kelakuan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991: 17). Kosa kata ini berasal dari kata Arab <em>akhlaq <\/em>yang merupakan jamak dari kata <em>khuluq<\/em> yang secara ringkas berarti: watak (karakter), perangai, dan sikap batin. Secara lebih luas, <em>akhlak<\/em> dapat diartikan sebagai kondisi jiwa\/mental yang darinya lahir perilaku atau perbuatan. Menurut al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Ilyas Ismail (2009), <em>akhlak<\/em> menunjuk pada keadaan jiwa sekaligus perbuatan nyata, sehingga ia merupakan konsistensi hubungan antara sikap mental dengan perilaku. Selain itu, akhlak juga berarti adat yang dengan sengaja dikehendaki adanya atau \u2018<em>azimah<\/em> (kemauan) yang kuat untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan yang bisa mengarah pada kebaikan atau keburukan. Namun, perlu dicatat bahwa kebiasaan (<em>habit<\/em>) yang tidak dengan sengaja dikehendaki, bukan akhlak melainkan adat atau kebiasaan semata. Demikian pula \u2018<em>azimah<\/em> yang mendorong orang melakukan sesuatu sekali atau beberapa kali, tidak termasuk akhlak tetapi kemauan biasa, seperti seseorang yang mengetahui kawannya sakit lalu ia berniat menjenguk dan melaksanakan niatnya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong> Membangun Karakter dengan Pendidikan Akhlak<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pembangunan karakter melalui pendidikan pada dasarnya berorientasi pada kepentingan berbangsa dan bernegara menurut falsafah dan tradisi sebuah bangsa di sebuah negara yang sangat mungkin berbeda dengan bangsa dan negara lainnya. Ada sejumlah butir karakter yang bersifat universal yang diajarkan baik secara langsung maupun tidak di lembaga-lembaga pendidikan, seperti: kedisiplinan, kejujuran, dan keadilan. Namun, dalam ajaran akhlak masih banyak butir-butir karakter lainnya yang penting dan dapat menopang terlaksananya karakter disiplin, amanah dan adil tersebut yakni: ikhlas, santun, berpikir positif, hemat, hormat kepada orangtua dan guru, dan sebagainya. \u00a0Oleh karena itu, bagi para pelajar muslim pendidikan akhlak diperlukan bukan hanya untuk membangun akhlak saja melainkan juga karakter mereka. Apabila gagasan pendidikan akhlak diorganisasikan sedemikian rupa dan diselenggarakan secara intensif baik melalui pembelajaran khusus (kurikuler) maupun pembelajaran ekstra-kurikuler, maka hampir dapat dipastikan sama artinya dengan pendidikan karakter yang sering dicanangkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berdasarkan paparan singkat di atas, ada tiga hal yang perlu dicatat pada akhir uraian singkat ini. Pertama, martabat dan kejayaan sebuah bangsa banyak bergantung pada tingkat\u00a0 kebaikan dan ketangguhan karakter bangsa tersebut. Kedua, terdapat hubungan makna dan esensi antara karakter dengan akhlak. Ketiga, pembangunan karakter bangsa Muslim termasuk bangsa Muslim Indonesia dapat dilakukan melalui pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam bentuk intensifikasi pendidikan akhlak dengan mengedepankan peneladanan dan pembiasaan di sekolah\/madrasah dan keluarga. Dalam memastikan implementasi butir-butir akhlak mulia atau <em>al-akhlaqul karimah\/akhlaq karimah <\/em>(bukan akhlaqul karimah!) di lingkungan sekolah dan keluarga itu, diperlukan adanya <em>reward<\/em> (ganjaran edukatif) dan <em>punishment<\/em> (hukuman edukatif).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Penulis Adalah<\/strong> <strong>Guru Besar UIN Bandung, penulis <em>Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru <\/em>(PT Remaja Rosdakarya, Bdg.) dan <em>Psikologi Belajar<\/em> (PT Rajawali Pers, Jkt.)<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff\"><strong>Buana Indonesia Hits And News Radio Online<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff\">Agung Suryamal : Kadin Jabar Akan Fasilitasi Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia Ke Jepang<\/span><\/p>\n<!--[if lt IE 9]><script>document.createElement('audio');<\/script><![endif]-->\n<audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-27650-1\" loop=\"1\" autoplay=\"1\" preload=\"auto\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/Agung-suyamal-soal-pengiriman-tenaga-kerja-ke-jepang_wav_Output_1.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/Agung-suyamal-soal-pengiriman-tenaga-kerja-ke-jepang_wav_Output_1.mp3\">http:\/\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/Agung-suyamal-soal-pengiriman-tenaga-kerja-ke-jepang_wav_Output_1.mp3<\/a><\/audio>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-26462\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?resize=640%2C427\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"427\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?w=2100&amp;ssl=1 2100w, https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?resize=1024%2C683&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?w=1280&amp;ssl=1 1280w, https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2016\/11\/agung-suryamal-sosmed-1.jpg?w=1920&amp;ssl=1 1920w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Prof Muhibbin Syah Melalui catatan sejarah dan mass media, kita mengetahui banyak bangsa yang terkenal karena memiliki karakter yang sangat tangguh. Pada zaman PD I dulu, bangsa Rusia mampu bertahan dan akhirnya menang melawan kekuatan Napoleon Bonaparte yang waktu itu sangat perkasa dan bernafsu menguasai seluruh daratan Eropa. Selanjutnya, dengan ketangguhan karakternya bangsa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":38,"featured_media":27329,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true},"categories":[837],"tags":[840],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/02\/Muhibbin-Syah.jpg?fit=654%2C490&ssl=1","jetpack_publicize_connections":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sudahkah Kita Berkarakter ? - BUANAJABAR.CO.ID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Prof Muhibbin Syah Melalui catatan sejarah dan mass media, kita mengetahui banyak bangsa yang terkenal karena memiliki karakter yang sangat tangguh. Pada zaman PD I dulu, bangsa Rusia mampu bertahan dan akhirnya menang melawan kekuatan Napoleon Bonaparte yang waktu itu sangat perkasa dan bernafsu menguasai seluruh daratan Eropa. Selanjutnya, dengan ketangguhan karakternya bangsa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BUANAJABAR.CO.ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-03-06T04:05:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-03-06T20:10:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/02\/Muhibbin-Syah.jpg?fit=654%2C490&#038;ssl=1\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"654\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"490\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#website\",\"url\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/\",\"name\":\"BUANAJABAR.CO.ID\",\"description\":\"HOAK ITU BUKAN KITA\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/02\/Muhibbin-Syah.jpg?fit=654%2C490&ssl=1\",\"width\":654,\"height\":490},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/\",\"name\":\"Sudahkah Kita Berkarakter ? - BUANAJABAR.CO.ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2017-03-06T04:05:48+00:00\",\"dateModified\":\"2017-03-06T20:10:55+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#\/schema\/person\/5720b406c779c3155a14730d11e35d1d\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/sudahkah-kita-berkarakter\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#\/schema\/person\/5720b406c779c3155a14730d11e35d1d\",\"name\":\"Admin\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27650"}],"collection":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/38"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27650"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27650\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27675,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27650\/revisions\/27675"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27329"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27650"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27650"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27650"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}