{"id":27790,"date":"2017-03-13T07:20:09","date_gmt":"2017-03-13T00:20:09","guid":{"rendered":"http:\/\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/?p=27790"},"modified":"2017-03-13T16:31:56","modified_gmt":"2017-03-13T09:31:56","slug":"menjaga-lisan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/","title":{"rendered":"Menjaga Lisan"},"content":{"rendered":"<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-27792\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.com\/news\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/KH.-Prof-Dr-Miftah-Faridl-1-300x198.jpg?resize=300%2C198\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"198\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/KH.-Prof-Dr-Miftah-Faridl-1.jpg?resize=300%2C198&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/KH.-Prof-Dr-Miftah-Faridl-1.jpg?w=480&amp;ssl=1 480w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">\u201c Berkatalah yang benar dan baik, atau tidak berkata apa-apa\u201d. Demikian Rasulullah mengisyaratkan kepada kita. Isyarat yang sarat makna itu menjadi pedoman bagi kita untuk tetap santun dalam berkata, dan tidak pernah menebar pesan kebencian. Berkata memang menjadi fasilitas pergaulan dengan sesama yang tetap teruji paling efektif. Ia tetap digunakan meski media telah berlari meninggalkan kehidupan. Pertanyaan sederhananya, mengapa Rasulullah menggunakan istilah \u201clidah\u201d untuk mewakili aktivitas berkata ini? Lidah, seperti disebutkan di atas, merupakan satu dari sedikit media untuk berkomunuikasi.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Secara fisik, lidah adalah salah satu anggota badan yang banyak menentukan dan sekaligus mencerminkan kualitas moral dan keimanan seseorang. Ia memerankan fungsi strategis bagi kebutuhan hidup manusia. Ia fasilitas yang dapat mengirimkan pesan-pesan yang dibutuhkan dan pada saat yang sama, ia juga kerap dapat menyakitkan. Nabi sendiri berpesan, ada dua anggota badan yang dapat menyebabkan manusia celaka dan masuk neraka yaitu Farz atau kemaluan, dan lidah atau lisan.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Dengan lidah seseorang bisa mendapat kemuliaan dan dengan lidah pula seseorang dapat terpeleset ke jurang kehinaan. Tidak sedikit pemimpin yang di hormati dan di kagumi rakyatnya karena ucapan-ucapanya, dan tidak sedikit juga pemimpin yang di benci rakyatnya karena ucapan-ucapannya. Bukankah Rasulullah telah menyediakan sebuah teladan bagaimana dirinya dicintai umat karena perkataannya.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Tidak cukup sampai memberikan sebuah teladan, Rasulullah hingga merasa perlu mengingatkan secara eksplisit agar tetap menjaga lidah.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Kemuliaan ataupun kehinaan seseorang banyak ditentukan oleh ucapan-ucapannya. Lalu bagaimana al-Qur\u2019an melukiskan sebuah gambaran yang sangat indah tentang ucapan seseorang,<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">\u201cSiapa lagi orang yang paling baik ucapanya lebih dari orang yang selalu mengajak taat kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Turunannya pun bisa dipahami panjang. Mengajak taat kepada Allah adalah juga mengajak berbuat kebajikan dengan segara implikasinya. Sabda Rasul,<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">\u201cBarang siapa mengajak kepada kebaikan, maka akan mendapat pahala sebesar orang yang mengerjakannya.\u201d<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Masih di seputar ucapan atau kata-kata yang baik, Nabi mengajarkan bahwa \u201corang yang wafat dengan predikat Husnul Khotimah adalah antara lain apa bila pada saat dicabut nyawanya lidahnya sedang banyak menyebut nama Allah. Maka ada ajaran tentang talkin untuk mereka yang di duga sedang dekat dengan syakaratul maut. Rosul SAW berpesan \u201cKendalikan lidahmu ke arah kebaikan, sebab dengan itu kamu dapat mengalahkan syaitan\u201d<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Lukmannul Hakim ditanya tentang amal yang dapat mengangkat derajat kemulian seseorang, beliau menjawab \u201cBicara yang benar, jujur melaksanakan amanah, dan tinggalkan perbuatan atau perkataan yang tidak bermanfaat\u201d.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Begitu pentingnya menjaga lisan, hingga dia menyejajarkannya dengan kejujuran dan menjaga amanah.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Beberapa pujangga dari berbagai negara pun memberikan kalimat-kalimat bijak tentang lidah. Beberapa di antaranya: Raja Kisra berkata, Saya tidak menyesal terhadap apa yang belum saya ucapkan, tetapi saya bisa menyesal atas apa yang terlanjur sudah saya ucapkan\u201d. Seorang pujangga Cina \u00a0berujar, \u201cSelama saya belum melepas kata-kata, saya tetap \u00a0yang menguasainya; tetapi, kalau saya sudah melepas kata-kata itu, maka ia memiliki saya\u201d.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Terakhir, seorang Kaisar Romawi berkata, \u00a0\u201cSaya lebih mudah menahan apa yang belum saya ucapkan dari pada mengembalikan apa-apa yang sudah saya ucapkan\u201d.<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Sebuah telaah kritis menunjukkan sebuah indikasi yang dapat mengingatkan kita. Semakin banyak berbicara bisa semakin banyak pula berbuat salah, kecuali kalau isi pembicaraannya sesuai dengan al-Qur\u2019an atau as sunah Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah mengingatkan, \u201cSeseorang yang menyatakan sesuatu yang belum jelas baginya, maka ia akan terlempar di neraka sejauh timur dan barat\u201d (HR Muslim). Pada kesempatan lain beliau menegaskan ulang, \u201cOrang yang paling banyak dosanya pada hari kiamat nanti, adalah mereka yang paling banyak membicarakan sesuatu yang bathil\u201d (HR Abi Dunnya).<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Terkait dengan itu, beliau menggarisbawahi, \u00a0\u201cBarang siapa yang banyak bicaranya pasti banyak kesalahannya, dan orang yang banyak kesalahannya banyak dosanya, sedangkan orang-orang yang banyak dosanya maka nerakalah yang paling utama baginya \u2026\u201d (HR Abu Na\u2019im). Dan \u201cAmala yang paling dicintai oleh Allah ialah menjaga lidah\u201d (HR. Baihaqi).<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">\u201cIman seseorang tidak akan Istiqomah kecuali jika hatinya istiqomah, dan hati tidak akan istiqomah kecuali jika lisannya istiqomah\u201d (HR Amad).<\/p>\n<p dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Ilmu itu perhiasan dan diam itu keselamatan. Karena itu jika engkau berkata janganlah banyak-banyak. Menyesal karena diam hanyalah satu kali, sedangkan menyesal karena berbicara bisa berkali-kali. Seseorang bisa mati karena tergelincir lidah, dan tidak ada orang yang mati karena tergelincir kaki.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201c Berkatalah yang benar dan baik, atau tidak berkata apa-apa\u201d. Demikian Rasulullah mengisyaratkan kepada kita. Isyarat yang sarat makna itu menjadi pedoman bagi kita untuk tetap santun dalam berkata, dan tidak pernah menebar pesan kebencian. Berkata memang menjadi fasilitas pergaulan dengan sesama yang tetap teruji paling efektif. Ia tetap digunakan meski media telah berlari meninggalkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":27791,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true},"categories":[1076],"tags":[123,1077],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i1.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/KH.-Prof-Dr-Miftah-Faridl.jpg?fit=480%2C316&ssl=1","jetpack_publicize_connections":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menjaga Lisan - BUANAJABAR.CO.ID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"\u201c Berkatalah yang benar dan baik, atau tidak berkata apa-apa\u201d. Demikian Rasulullah mengisyaratkan kepada kita. Isyarat yang sarat makna itu menjadi pedoman bagi kita untuk tetap santun dalam berkata, dan tidak pernah menebar pesan kebencian. Berkata memang menjadi fasilitas pergaulan dengan sesama yang tetap teruji paling efektif. Ia tetap digunakan meski media telah berlari meninggalkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"BUANAJABAR.CO.ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-03-13T00:20:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-03-13T09:31:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/i1.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/KH.-Prof-Dr-Miftah-Faridl.jpg?fit=480%2C316&#038;ssl=1\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"480\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"316\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#website\",\"url\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/\",\"name\":\"BUANAJABAR.CO.ID\",\"description\":\"HOAK ITU BUKAN KITA\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/i1.wp.com\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2017\/03\/KH.-Prof-Dr-Miftah-Faridl.jpg?fit=480%2C316&ssl=1\",\"width\":480,\"height\":316},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/\",\"name\":\"Menjaga Lisan - BUANAJABAR.CO.ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2017-03-13T00:20:09+00:00\",\"dateModified\":\"2017-03-13T09:31:56+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#\/schema\/person\/192ab7f7ae894cec905ef7bdd459a2c0\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/menjaga-lisan\/\"]}]},{\"@type\":[\"Person\"],\"@id\":\"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/#\/schema\/person\/192ab7f7ae894cec905ef7bdd459a2c0\",\"name\":\"Prof Dr KH Miftah Faridl\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27790"}],"collection":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27790"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27790\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27797,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27790\/revisions\/27797"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buanaindonesia.co.id\/jabar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}