Kondisi Produksi dan Harga Karet di Sumatera Selatan pada Saat Perang Dagang Amerika Serikat dan China

4.488 dilihat

Opini

Nurhikmah

Advertisement

  Politeknik Statistika STIS

Karet alam adalah salah satu tumbuhan dalam sektor perkebunan yang diambil getahnya atau disebut latek. Karet sendiri  dikenal karena elastisnya, ada dua jenis karet yaitu karet alam dan karet sintetis. Karet sintetis adalah yang terbuat dari minyak mentah. Karet di gunakan di banyak produksi dan peralatan di seluruh dunia. Namun dalam permintaanya dalam ke dua jenis karet tersebut saling mempengaruhi, dalam suatu hal ketika harga minyak mentah naik maka permintaan akan karet alam meningkat dan pada saat suplai karet alam terganggu maka permintaan akan karet sintetis juga naik.

Sumatera selatan merupakan provinsi  terbesar di indonesia dalam produksi karet. Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua setelah Thailand. Menurut data BPS tahun 2018, sumatera selatan menyumbah 27,06 persen dalam produksi karet nasional. Sebanyak 838,6 ribu hektar luas tanaman karet dengan menghasilkan sebanyak 982,4 ribu ton selama tahun 2018. Menurut data terakhir  pada kuartal 1 tahun 2019 ini, terjadi penurunan produksi hingga 40 persen 583 ribu ton yang menjadikan ekspor karet juga menurun hingga 22 persen dilangsir dari berita antara.

Penurunan produksi disebabkan karena beberapa hal di antaranya terjadi kemarau Panjang pada kuartal 1 dan 2 yang mengakibatkan daun pohon karet berguguran dan kurangnya air sehingga mengganggu produksi karet. Selain itu juga terdapat serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp yang menyebabkan turunnya produksi karet alam secara signifikan di atas 15 persen menurut Kepala Bidang Pengelolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Rudi Aprian.

Keadaan ini juga menyebabkan sejumlah pabrik karet di sumatera selatan ini mengurangi jam kerja karena kekurangan pasokan bahan baku dari petani. Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumsel Nur Ahmadi mengatakan umumnya pabrik-pabrik karet memberlakukan tiga shift dan kini hanya melakukan satu sampai dua shift sehari.

Kenapa harga karet semakin turun?

Jika dilihat dari hukum ekonomi ketika suplai berkurang maka harganya akan naik, ini tidak berlaku untuk karet ini pada hari ini  harga karet terus menurun menjadi 156.90 Yen/kg  (6/10/2019) yang sebelumnya 166 Yen/kg pada (15/8/2019) berdasarkan sumber Bloomberg. Penurunan harga karet ini disebabkan karena tujuan ekspor terbesar Indonesia yaitu china sedang mengalami perlambatan ekonomi akibat perang dagang dengan amerika yang mengakibatkan pembatasan ekspor karet.

Faktor lain yang menyebabkan anjloknya harga karet alam adalah pembetukan harga berjangka internasional di singapura(SICOM) yang menjadi acuran transaksi pebisnis karet.

 “Sudah lama disinyalir bahwa mekanisme pembentukan harga (price discovery platform) di SICOM tidak sepenuhnya mencerminkan faktor fundamental supply dan demand karet alam dunia,” kata Rudi.

Kemudian, harga karet di pasaran internasional juga tergantung dengan kurs valas, yakni harga komoditas memiliki hubungan dengan nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS. Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet dunia. Lalu, faktor lainnya yakni perkembangan industri otomotif dan ban.  Saat ini, kata dia, terjadi penurunan ekonomi global sehingga terjadi menurunan permintaan terhadap mobil. Sementara karet alam dikonsumsi sebanyak 70 persen untuk industri ban dunia. Sementara itu factor yang lain juga banyak yang berganti ke karet sintetis karena dianggap lebih mudah.

Hal ini tentu dikhawatirkan oleh para petani yang dirundung ketidakpastian penghasilan. Menyikapi hal tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengakui sudah memiliki solusi.

Ilustrasi – Presiden Joko Widodo meninjau hasil sadapan karet usai Silaturahmi Bersama Petani Karet di Perkebunan Rakyat Desa Lalang, Sembawa, Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu (9/3/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj.

“Pertama, kita pakai untuk di dalam negeri, dicampurkan dengan aspal. Kedua, Kementan sudah bertemu delegasi dari Malaysia dan Thailand untuk menahan 260 ribu ton ekspor, jadi bisa lah harga naik,” tuturnya di Palangkaraya, Kamis (18/7/2019).

Pada 2019 harga karet masih di bawah standar yakni hanya sekitar US$1,3/kg FOB, sehingga harga karet di tingkat petani hanya sekitar Rp5.000/kg – Rp7.000/kg, dan di kelompok tani berkisar Rp8.000/kg – Rp9.000/kg

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Frman Mochtar mengatakan harga komoditas karet diperkirakan bakal membaik pada 2020 karena dipacu oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara global. Kenapa bisa membaik? Firman mengatakan bahwa sebagian besar Lembaga dunia menyakini bahwa kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal  yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir akan berakibat positif pada tahun 2020 di semua negara.

Optimis itu telah dinyatakan oleh IMF yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan tumbuh dari 3,2 persen menjadi 3,5 persen pada tahun 2020. Semoga ini benar benar terjadi sehingga biasa menambah kesejahtraan bagi petani karet di Indonesia.

 

Advertisement