BUANAINDONESIA.COM, ACEH – Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, yang bekerjasama dengan WWF Indonesia Northen Sumatera, melepaskan anak penyu “tukik” sebanyak 46 ekor, Ke Laut Samudera Hindia. Minggu, 26 Maret 2017, bertempat di Pantai Aroen Meubanja, Keude Panga, Kabupaten Aceh Jaya.
Turut hadir pada pelepasan anak penyu tersebut, Darwati A. Gani (Anggota DPRA- Provinsi Aceh), bersama beberapa pecinta penyu lainnya.
Mereka melepaskan anak penyu “tukik” jenis belimbing (Dermochelys Coriacea), sebanyak 46 ekor, di garis pantai merentang sepanjang tujuh kilometer dari keude panga, hingga alue piet, dari tempat peneluran/koservasi penyu pantai aroen meubanja.
Pada acara tersebut Darwati A. Gani mengatakan, dirinya sangat mendukung penuh kegiatan konservasi yang selama ini dilakukan tim konservasi penyu aroen meubanja.
Dijelaskan Darwati, ini salah satu cara kita turut menjaga pelestarian penyu, dan ini akan menjadi sebuah magnet nantinya, di Kabupaten ini, sebagai daerah tujuan pariwisata.
Sambung Darwati A. Gani, penyu yang dilepas ini adalah penyu berjenis belimbing, termasuk kategori penyu raksasa dan langka. Ujar ia, untuk saat ini butuh keseriusan kita untuk melakukan konservasi penyu, kalau memang ingin anak cucu kita melihatnya nanti, imbuh Darwati.
Diterangkan Darwati A. Gani, melihat dari situasi di lapangan tingginya angka pemburu penyu, sambung Darwati tidak tertutup kemungkinan habitat penyu ini akan hilang nantinya, dan anak cucu kita, suatu saat nanti hanya akan mendengar cerita saja,
“Persisnya seperti Dinosaurus, yang saat ini tinggal cerita dan gambar dalam khayalan”, tutupnya.
Di tempat yang sama, Ketua Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Dedi Penyu, turut menyampaikan kepada, Darwati A. Gani, selaku Anggota Dewan Provinsi Aceh,
“Untuk semua konservasi yang sedang dilakukan di Aceh, mendukung dengan apa yang dilakukan oleh Dinas terkait”
Dan ditempat tersebut, sang wakil rakyat menjawab,
“Iya, saya akan memperjuangkannya”, jelas Darwati.
Sedikit Dedi penyu bercerita, pada masa lalu, di sepanjang garis pantai Panga, aceh jaya, terdapat bermacam jenis penyu yang kerap naik ke darat buat bertelur. Dari tujuh jenis penyu ada di Dunia, enam terdapat di pantai tersebut, kenangnya.
Namun, karena terjadi perburuan besar-besaran, hewan itu nyaris punah. Ucap Dedi, kita harus bersyukur, dari tujuh jenis penyu didunia, enam diantaranya ada di Indonesia, sebut Dedi penyu, kepada Buanaindonesia.
Lanjut dijelaskan Dedi, untuk jenis penyu belimbing paling besar bobotnya bisa sampai 800 Kilogram di sini juga ada jenis penyu lekang (Lepidochelys Olivacea). Penyu bisa bermigrasi ke Australia, New Zeland, Philiphina bahkan sampai California, kata Dedi.
Lagi Dedi menjelaskan, penyu-penyu tersebut naik ke permukaan pantai Indonesia untuk bertelur, sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai belahan dunia.
Namun, ujar ia, dari setiap penyu yang bertelur itu, tidak lebih dari 20 persen, yang bisa bertahan hidup, baik karena serangan predator alam, maupun perburuan manusia, sebut Dedi.
Tambah Dedi, ada perencanaan yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Dedi bersama Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, akan mengundang Bupati Aceh Jaya, Muspida, Muspika Mukim, Dpr-K, BKSDA, Polhut, Tokoh Masyarakat Aceh Jaya,Tokoh Pendiri Aceh Jaya, WWF Indonesia, Lsm Kuala, Krka dosen UTU (Universitas Teuku Umar), dan beberapa lainnya seperti Forum Das Krueng Sabee. Demikian, tutup Dedi penyu.










