DISPORAPAR Kota Subulussalam Sosialisasi Duta Wisata

16.249 dibaca

BUANAINDONESIA, ACEH – Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kota Subulussalam hari ini selasa 09 Mei 2017 laksanakan Sosialisasi Duta Wisata di Gedung Serba Guna Pendopo Walikota dengan mengangkat tema Mari Tingkatkan Peran Serta Masayarakat Dalam Meningkatkan Destinasi Pariwisata di Kota Subulussalam.

Sebagai nara sumber pada acara tersebut Ketua Koordinator Wilayah III HPI DPD Aceh Satiman,SE, Ratna Nauli Gultom dari pelaku bisnis wisata desa Silimarupa Pulau Samosir dan dua orang turis manca Negara Benoit warga Negara Belgia dan Jade warga Negara Inggris volunters eco wisata.Acara tersebut dihadiri para camat dan kepala desa sepemko Subulussalam yang memiliki potensi objek wisata.

Kadis Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kota Subulussalam Hj. Sartina NA, M. Si membuka resmi acara tersebut. Dalam sambutannya Sartina mengatakan, tujuan diadakan acara itu, untuk meningkatkan peran para pelaku wisata yang ada ditingkat kecamatan sampai desa. Dan meningkatkan animo generasi muda kita terhadap bisnis pariwisata. ‘Banyak objek wisata yang ada dikota Subulussalam ini yang belum diketahui khalayak ramai apalagi luar daerah. Untuk itu dengan adanya acara ini kita mulai membangun kembali wisata kita yang lama tidur panjang dimasa-masa lalu.Sekecil apapun Objek wisata yang kita miliki itu tetaplah asset kita.Prioritas dari DisporaPar tahun ini adalah meningkatkan bidang pariwisata. Kota Subulussalam banyak memiliki objek wisata baik dari objek keindahan alam, situs bersejaarah dunia dan seni budaya adat istiadat yang belum digali dengan baik.Saya mengucapkan terimakasih kepada para pemuda kita yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Pecinta Alam Subulussalam (KOMPPAS) yang telar mengeksplorasi objek wisata alam yang ada di kota kita ini.Yang selama ini tidak banyak diketahui masyarakat luas,” ujar Sartina.

Ratna Nauli Gultom menyampaikan pengalamannya yang telah menjajakan hasil pertaniannya hingga ke Uni Eropa, dengan hal-hal yang sederhana dan biasa saja yang ia lakukan sehari hari sebagai petani.Hal-hal biasa tersebut mungkin diluar negeri adalah hal yang unik dan mungkin luar biasa menurut mereka. “Jadi bila ingin menarik wisatawan asing tidak perlu membuat hal yang luar biasa tetapi mulai lah dengan memanfaati hal sekitar kita. Kehidupan sehari-hari, adat istiadat, budaya keseharian kita adalah objek wisata bagi mereka yang memilki budaya dan adat yang  berbeda.”Kata Ratna.

Ratna menyampaikan, disamosir menyajikan wisata cara bercocok tanam tradisional kita, selain Danau Toba yang sudah terkenal. Sehingga mereka betah berlama-lama dinegeri samosir karna ingin mengenal lebih dekat lagi budaya lokal. “Ciptakanlah produk-produk wisata dari hal-hal sekitar kita. Bukan membuat sesuatu yang tidak sesuai dengan adat istiadat kita sehari-hari. Alam Indonesia dimata turis asing adalah surganya dunia.Apapun yang kita tanam pasti akan tumbuh tidak seperti didaerah lain yang menunggu pergantian musim.Negara lain banyak melirik Indonesia, jadi berbanggalah menjadi bangsa Indonesia, Indonesia adalah produk Tuhan yang paling sempurna, memilki kulit tidak hitam dan tidak putih dengan tekstur yang mulus, di daerah khatulistiwa yang subur dengan lautan yang luas tempat berkumpulnya berjuta bahasa beribu budaya.” uajrnya.

“Daun sirsak dicampur andaliman, kunyit , jahe dan sere saya olah jadi produk Detok telah saya pasarkan ke Uni Eropa. Semua bahan – bahan tersebut saya ambil dari pekarangan rumah tanpa membeli.Tentunya ini merupakan bisnis yang lumayan, hal ini terjadi karena ketertarikan wisatawan yang sempat tinggal dilingkungan kita sehari-hari.Hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari bagi wisatawan bisa menjadi hal yang luar biasa bagi mereka.Bagi pemuda Kota Subulussalam yang ingin belajar  membuat solar panel silahkan datang ke Silimarupa di Samosir,” Imbuh Ratna Nauli Gultom.

Wisatawan Manca Negara Jade (inggris) dan Benoit (Belgia )menyampaikan kesan dan pesannya tentang wisata di Indonesia khusunya Aceh, mengatakan mereka sangat tertarik dengan gunung-gunung,flora,fauna dan adat budaya yang ada di Pulau Sumatera.Jade mengatakan bagaimana caranya berwisata dengan biaya rendah.Dan kedua wisatawan tersebut sangat prihatin dengan karakter masyarkat kita yang masih kurang peduli dengan kebersihan objek wisata alam.

Ketua Korwil III Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI ) DPD Aceh dalam pemafarannya mengatakan berbicara Duta wisata banyak hal yang harus dikuasia seorang duta antara lain berkemampuan berbahasa asing yang baik dan aktif, menguasai bahasa daerah,mengetahui objek wisata tersebut baik lokasi dan sejarahnya dan memiliki karakter. “Aceh telah lama tidak kedatangan Turis karena isu keamanan.Tapi saat ini Aceh sedang galak memprogramkan “Halal Tourism”.Baik buruknya pariwisata tergantung duta atau guide yang dimilki daerah tersebut” ujar Satiman.

Masih menurut Satiman sebenarnya saat ini gnung-gunung yang ada di Kota Subulussalam sudah dipantau NGO Uni Eropa. Dan mereka sudah pernah ke air terjun 4 tingkat, dimana kawan-kawan pecinta alam pun belum mengetahuinya. “Jadi berhati-hatilah masyarakat Subulussalam jangan sampai didahului orang luar untuk mempromosikannya dalam bisnis Tour Wisata Asia.Paket-paket tour harus segera dibuat dan dipromosikan oleh swasta dan pemerintah. Dan yang tidak kalah penting kesiapan Sumber Daya Manusianya itu sendiri harus terus ditingkatkan.” Pungkas Satiman.

Bagaimana Menurut Anda?