Dugaan Sarkofagus, Peninggalan Zaman Pra Sejarah, di Lhok Gelumpang, Aceh Jaya

19.376 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Para pekerja yang sedang mengerjakan kegiatan sarana dan prasarana objek wisata Lhok Geulumpang di Kabupaten Aceh Jaya, menemukan adanya sebuah batu besar yang terletak di lokasi tersebut, memiliki keanehan-keanehan yang menurut mereka sangat tidak lazim bagi sebuah batu.

Berdasarkan laporan itu, disampaikan hal terkait penemuan tersebut kepada bidang PPSK yang sekarang Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Pada saat kunjungan lapangan pemeriksaan pekerjaan di lokasi, berdasarkan laporan tersebut kami turun kelapangan untuk melakukan survey dan mempelajari hasil survey dengan melibatkan Arkeolog dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Hal tersebut disampaikan Yudi Andika, selaku Narasumber dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Kamis (28/9), saat berlangsungnya acara Focus Group Discusion, Kajian Sarkofagus (Peti Kubur), bertempat di Hotel Pantai Barat, Calang, Kamis (28/9).

Menurut Yudi, batu yang di duga Sarkofagus, terletak di Lhok Geulumpang, merupakan salah satu Gampong berada di mukim Lageun, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, pada posisi koordinat 4°43’57.8″N 95°30’13.2″E.

Hasil identifikasi sementara di lokasi temuan, pada posisi bersebelahan dengan pantai, di belakang dari mushalla yang ada, terdapat sebuah batu yang berbentuk piramid.

Batu tersebut dalam kondisi tertutup dengan rimbunan semak berupa gelagat dan beberapa pohon perdu. Kaki dari batu tersebut tertanam oleh pasir laut, jika dilihat dari dasar pasir ketinggian batu mencapai 4 (empat) meter, diameter batu mencapai 3 (tiga) meteran.

Di bagian barat batu atau bagian yang menghadap ke pantai terdapat sebuah lekukan menggambarkan sebuah pintu masuk, ditutup dengan sebuah batu yang lebih kecil. Lekukan di duga pintu tersebut mempunyai ketinggian 100 cm, lebar 50 cm.

Temuan ini di duga sebagai benda peninggalan masa zaman pra sejarah, ungkap Yudi. Yaitu peti kubur atau yang lebih dikenal sebagai Sarkofagus.

Dari beberapa tipe Sarkofagus yang ada, batu ini dikategorikan sebagai Sarkofagus dengan pintu yang terletak disamping, jelas Yudi Andika.

Selain itu, di sekitar daerah temuan juga dilaporkan adanya gua-gua yang cukup potensial untuk diteliti akan adanya kehidupan masa pra sejarah.

Kemungkinan setelah gempa serta tsunami, beberapa gua yang terletak di pinggir pantai terkena dampaknya, dan menyingkap peninggalan masa lampau, seperti halnya beberapa gua yang terdapat di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, ditemukannya beberapa jenis peralatan batu dari masa pra sejarah disekitar pintu masuk, saat survey diadakan dengan melibatkan Tim dari Museum Aceh, tahun 2006. Hasil temuan saat ini tersimpan di museum tersebut, papar Yudi.

Hipotesa sementara, ujar dia, objek batu yang ditemukan di Lhok Geulumpang, dengan ciri-ciri yang terdapat, patut di duga sebagai sebuah peti kubur masa pra sejarah. Yang mana diterangkan secara rinci, Sarkofagus adalah suatu tempat untuk menyimpan jenazah, Sarkofagus umumnya dibuat dari batu.

Kata Sarkofagus berasal dari Yunani, objek tersebut adalah salah satu peninggalan Zaman Megalithikum berfungsi sebagai keranda dari batu besar, berbentuk lesung atau palung dengan tutup diatasnya, berfungsi pada zamannya sebagai kubur batu atau dolmen.

Terkait temuan serta tindak lanjut, Yudi mengatakan, telah dilaporkan secara tertulis kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, mendapat balasan berupa permintaan laporan detil kondisi batu tersebut dan lokasi temuan.

Pembicaraan tentang tindak lanjut tersebut telah dilakukan dengan melibatkan bidang PPSK, yang sekarang menjadi Bidang Sejarah  dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, serta melaksanakan FGD (Focus Group Discusion), yang dilakukan hari ini.

Kata Yudi, untuk menampung sumbang saran serta laporan-laporan lainnya mengenai temuan tersebut.

Sehingga lanjut dia, dapat menjadi dukungan bagi Dinas terkait dalam menindak lanjuti Sarkofagus tersebut dengan menurunkan tim eksvasi ke lokasi sebagai usaha menemukan data-data peninggalan masa lampau tersebut.”Rencananya akan dilakukan pada bulan 10 ini”, papar Yudi Andika.

Temuan atas dugaan Sarkofagus akan menjadi “sejarah baru” atas peninggalan-peninggalan kebudayaan masa lampau serta manusia-manusia pendukung kebudayaan di Kabupaten Aceh Jaya, tutup Yudi Andika.

Sementara David Adens, salah satu peserta acara, juga sebagai masyarakat pecinta sejarah di Aceh Jaya menyampaikan, penelitian yang dilaksanakan saat ini, jangan hanya sebatas Sarkofagus saja.

Menurut dia, masih banyak temuan-temuan lainnya terkait sejarah masa lampau yang masih tersimpan dan belum terungkap di wilayah ini.”Hal ini perlu keseriusan kita serta dukungan dari pemerintah setempat”, tegas David.

Bila perlu, bagi peserta didik, jangan hanya pembekalan pelajaran terkait sejarah nasional saja yang diberikan, tetapi tentang sejarah dan khasanah budaya lokal kita juga harus ditonjolkan, kata dia.

Aceh Jaya adalah gerbang menuju Barat-Selatan, dahulunya terdapat cukup banyak Bandar-Bandar (Pelabuhan) Besar di wilayah ini.

Kita semua pernah tahu, tentang megahnya cerita sebuah kerajaan di Teunom, yang mana Raja Teunom tersebut tercatat dalam memori catatan kaum penjajah, serta dunia mengakuinya, bukan hanya sebuah cerita hikayat, ataupun legenda, imbuh dia.

Si mata biru lamno menjadi sebuah nilai sejarah yang tidak dapat dihapus dalam ingatan kita. Karena Dunia punya sejarah yang luar biasa di sini.

Juga termasuk Cerita Sabe Ops, di Krueng Sabee, yang makamnya berada di Gampong Geunie, Kecamatan Krueng Sabee, tambah David, masuk dalam sebuah catatan buku, tetapi hal ini tidak terpublhis.

Selain itu ada, T. Raja Laeili, Kapal Nicero, di Kecamatan Panga. Kapal Hock Canton di laut Rigaih terkait penyanderaan yang dilakukan oleh Teuku Umar, yang saat itu menghebohkan dunia, sebut ia.

Gunung Geurute, siapa sangka di salah satu tempat tersebut, pernah menjadi tempat singgah atau tempat peristirahatan Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama.

Diharapkan khususnya kepada Dinas terkait baik Provinsi, maupun Kabupaten, kegiatan yang dilakukan saat ini tidak hanya sekarang saja, tetapi ini dapat berkelanjutan, untuk mengungkap tentang peninggalan masa lampau yang di Aceh Jaya, khususnya, tutup David Adens.

Bagaimana Menurut Anda?