Eko Wisata Mangrove Gampong Baroe Sayeung, Aceh Jaya, Ada Spot Buaya

35.383 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Hakikatnya, tanaman bakau berfungsi untuk melindungi daratan dari gelombang laut dan mengurangi abrasi atau pengikisan tanah oleh air laut. Selain itu hutan mangrove tersebut memiliki peranan penting terhadap keseimbangan ekosistem yang ada di Aceh Jaya. 

Seiring itu kemudian bermunculah eko wisata mangrove. Yang dimulai pasca tsunami, dengan melakukan penanaman mangrove di Gampong Baroe Sayeun tahun 2006, sehingga di lokasi tersebut tumbuh sangat bagus.

Abdul Hadi kepada media ini, mengatakan, Dengan adanya tanaman bakau tersebut, habitat ikan, kerang, udang dan kepiting berkembang pesat sehingga menjadi sumber pencaharian nelayan sungai di desa sampai saat ini

“Tanaman mangrove ini tumbuh subur, sehingga pada tahun 2012, PMI (Palang Merah Indonesia) bersama Pemkab dan PKSPL/IPB Bogor (Pusat Kajian Pesisir Laut dan Pantai) melakukan penanaman mangrove hingga tahun 2014”, Kata Hadi.

Selaku kader PMI di kabupaten, dia melihat penanaman manggrove sangat penting, serta mempunyai peluang ekonomi bagi desa, dengan mendirikan eko wisata.

“Berawal dari duduk-duduk bersama masyarakat, memikirkan program pengembangan peningkatan ekonomi warga, sehingga tercetuslah sebuah ide program untuk pengembangan desa wisata. Bernama Eko Wisata Manggrove Gampong Baroe Sayeung, berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lalu tahun 2017, kami bersama Aparatur Gampong mencoba merealisasikan masuk sebagai program baru desa, menjadi tempat lokasi wisata mangrove”, cerita dia.

Dengan adanya eko wisata mangrove, tujuannya dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar dan mengurangi pengangguran yang ada di desa. Dan memperkenalkan desa sebagai destinasi wisata di wilayah pantai barat – selatan, aceh, tuturnya.

Hal ini didasari tergeraknya hati pengelola ekowisata manggrove untuk mengajak anak-anak muda usia sekolah dan masyarakat pada umumnya untuk bersama-sama menyadari betapa pentingnya keseimbangan alam, dalam hal ini peduli akan hutan mangrove.

Ekowisata mangrove dengan luas lahan 100 hektar, terletak di Gampong Baroe Sayeung, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, mempunyai enam titik spot, memancing, edukasi mangrove, wisata mangrove, kuliner mangrove, budidaya ikan, kepiting dan spot buaya.

Terkait kuliner manggrove, Hadi mengatakan, membuat makanan berbahan buah mangrove, diolah menjadi sirup, dodol, bolu dan poding.

Sedangkan untuk spot buaya dengan luas lima hektar, pengunjung dapat melihat langsung habitat buaya yang ada tempat ini, tetapi setelah penangkaran buaya selesai dikerjakan, kata dia.

Menurut Abdul Hadi, untuk eko wisata mangrove di Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Jaya yang kedua setelah Kuala Langsa. Tetapi untuk di Langsa lebih mengarah kepada wisatanya, tidak seperti yang ada di eko wisata mangrove Gampong Baroe Sayeung, papar dia.

Selama berdirinya eko wisata mangrove di Gampong Baroe Sayeung, sudah ada beberapa wisatawan manca negara yang berkunjung kemari, bukan hanya lokal saja, sebutnya.

Seperti dari Malaysia, Syanid Rajaq (31) pengusaha properti yang mempunyai komunitas mancing Asia – Tenggara, bertempat di Kuala Lumpur, sudah pernah menjajal lokasi spot memancing disini.

Syanid mengaku puas dengan hasil pancingan di lokasi spot tersebut, dia juga menagatakan turut mempromosikan eko wisata mangrove ini kepada rekan – rekannya, khsusunya kepada komunitas memancingnya, ujar Syanid fia Whatshaap, kepada media.

Bulan Febuari ini, rencananya akan datang berkunjung wisatawan dari Australia dan Jepang, tambah dia.

Beberapa waktu lalu ditempat ini juga di kunjungi oleh Ketua PB PMI Pusat, Letjen (Purnawirawan) H. Sumarsono bersama rombongan di dampingi PMI Provinsi Aceh dan Kabupaten .

Selaku Ketua eko wisata mangrove, dan juga kader PMI, dia merasa puas, karena PMI pusat mendukung penuh program yang dilakukan ini. Eko wisata mangrove akan diundang dalam seminar nasional tanggal 7-8 Maret 2018 di Jakarta, pungkasnya.

Sementara, Ketua PB PMI Pusat, Marsoeno saat dihubungi, dia mengatakan akan mempromosikan wisata mangrove Gampong Baroe Sayeung di tingkat Asia. Siap membawa berbagai penelitian dari negara lain ke lokasi ini, kata Marsoeno.

Pesan dia, tim eko wisata mangrove bersama SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) harus konsisten, keterbukaan dan dapat menerima kedatangan tamu-tamu dari luar dengan sikap ramah, sesuai aturan dan konsep yang berlaku.

Syukriadi (26) bendahara eko wisata mangrove menambahkan, wisata ini dapat segera terealisasikan sesuai dengan plane pembangunan dalam eko wisata mangrove.

Kedepannya, kata dia, kami akan menyediakan fasilitas akses awal jalan dan dermaga yang dibangun berada dekat dengan jalan raya, untuk memudahkan pengunjung. Ditambah dengan bangunan edukasi mangrove serta penangkaran buaya.

Dan kepada Geuchik terpilih nantinya, bisa menjadikan program ini sebagai program andalan, demi kemajuan gampong kita, kata Syukri.

Dia optimis eko wisata mangrove ini dapat bekembang dan berjalan sesuai harapan masyarakat dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain, dan tetap tidak melanggar dalam aturan syariat.

Semoga dengan dibentuknya lembaga swadaya masyarakat ekowisata ini akan membuka cara pandang baru masyarakat tentang mangrove dan keberadaan satwa di dalamnya dalam hubunganya dengan kehidupan manusia, tutup dia.

Bagaimana Menurut Anda?