Wanita Inikah Bab yang Hilang Dari Sejarah Teuku Umar ?

64.873 dibaca
Lokasi ini yang dipercaya sebagai makam istri pertama dari Pahlawan Nasional Teuku Umar, bernama Cut Nyak Meurah Puteh. Wanita ini merupakan bab yang hilang dari sejarah pahlawan Aceh, Teuku Umar.

BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA  – Ada yang berbeda dari kegiatan rutin Jumat bersih yang digelar polisi dari Polres Aceh Jaya kali ini. Jumat bersih kali ini dilakukan disebuah makam di Desa Rigah, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya . Tampak disana Kapolres Aceh Jaya, AKBP Eko Puwanto dan Kasdim Mayor Inf Wawan Hermawan yang mewakili Dandim Aceh Jaya, Letkol Kav Haerus Shaleh.

Menariknya, lokasi makam itu ternyata merupakan makam keluarga Teuku Umar. Yang lebih menarik lagi ada sebuah makam yang diduga kuat merupakan makam istri pertama dari Pahlawan nasional Teuku Umar bernama Cut Nyak Meurah Puteh. Sementara yang beredar selama ini istri pertama Teuku Umar adalah Cut Nyak Sofiah padahal Cut Nyak Sofiah merupakan ibu mertua dari Tengku Umar.

Amatan koresponden kami di Aceh Jaya, Khadafi pada Jumat, 23 Februari 2018,  disana tampak tentara dan Polisi, bersama masyarakat bersinergis membersihkan lokasi makam yang terdiri dari keluarga istri Teuku Umar dan pejuang Aceh lain.

koresponden kami coba menemui beberapa pihak yang kompeten terkait ini.  Sekretaris G_Map’S (Gerakan Masyarakat Aceh Jaya Peduli Sejarah), Mirdan Dahri, menduga kuat makam ini adalah makam Cut Nyak Meurah Puteh. Cut Nyak Sofiah merupakan Ibu mertua Teuku Umar, bukan istri pertama sebagaimana banyak disebut selama ini. Cut Nyak Meurah Puteh lah istri pertama dari Teuku Umar. Selain makam Cut Nyak Meurah Puteh, disana juga ada  beberapa makam lain yang dipercaya sebagai pejuang – pejuang aceh yang tewas saat terjadinya pertempuran antara Belanda dan Aceh di Lhok Timon, Rigah.

“ Selama ini, yang kita tau sebut Mirdan, bahwa istri pertama Teuku Umar, Cut Nyah Sofiah. Ternyata bukan, istri pertamanya adalah Cut Nyak Meurah Puteh. Saat berusia 20 tahun, menurut referensi yang kami dapat dan sedang ditelusuri, Teuku Umar, menikahi Cut Nyak Meurah Puteh, anak dari seorang Uleebalang,” kata Mirdan.

Mirdan menambahkan Juga terkait cerita Hok Canton, 14 Juni 1886, milik Cho Ban Jo Hin di Singapura. Kapal berbendera Belanda yang di tawan Teuku Umar, di lepas pantai Rigah.

“Cerita ini semua nanti akan kita ungkap menjadi fakta,” ungkapnya.

Koresponden kami juga mendapati sejumlah fakta menarik yang mungkin tak banyak awam tahu soal sisi lain Teuku Umar, pahlawan Aceh nan sohor itu . Teuku Umar sendiri memiliki 4 istri, belakangan diketahui sebagai Cut Nyak Meurah Puteh,  Cut Mahligai, Cut Nyak Dhien dan satu istri lagi perempuan asal Pulau Raya, yang hingga saat ini belum diketahui secara pasti namanya.

Teuku Umar yang dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada tahun 1854, adalah anak seorang Uleebalang bernama Teuku Achmad Mahmud dari perkawinan dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Umar mempunyai dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Ketika perang Aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, umurnya baru menginjak 19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri, kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah diangkat sebagai keuchik gampong(kepala desa) di daerah DayaMeulaboh.

Dibagian inilah rantai sejarah itu putus. Fakta soal keberadaan Cut Nyak Meurah Puteh seolah menjadi bab yang hilang. Karena dari versi lain yang berbeda disebut, pada usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim.

Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dhien, puteri pamannya Teuku Nanta Setia. Suami Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga yang gugur pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun.

Mengutip wikipedia, pada akhir hayat Teuku Umar sangat begitu dramatis. Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapat laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, dan segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat diperbatasan Meulaboh. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat. Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.

Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir. Dengan gugurnya suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh

Bagaimana Menurut Anda?