Suplai Air PDAM di Aceh Jaya Tersendat

14.378 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Pasokan air PAM untuk masyarakat di Aceh Jaya mengalami kendala. Ini terjadi sejak beberapa hari terakhir. 

Amatan media ini dibeberapa tempat, kemarin sampai dengan pagi ini. Air PAM belum mengalir dirumah – dirumah warga. Bahkan bukan hanya dirumah – rumah warga, tetapi beberapa lokasi kantor, seperti KIP, sekolah dan kantor lainnya yang menggunakan sumber air dari Blud PDAM Kabupaten Aceh Jaya mengalami kekeringan air.

Samsul, Kepala Blud PDAM, melalui pesan Whats Appnya kepada media ini, Rabu (25/7/2018) pagi saat dikonfirmasi, secara ringkas menjawab, trafo PLN ke PDAM terbakar. Solar kosong semua di SPBU kemaren. “InsyaaAllah hari ini lancar kembali”. tulisnya.

Saat media menanyakan perihal penyebab terbakarnya trafo dan kapan terjadinya, ia enggan menjawab. Hanya menambahkan, kalou masalah trafo, sebagusnya tanya ke PLN.

Sementara, Fadli, Manager PLN Area Aceh Jaya, saat ditanya melalui pesan singkat WhatshApp, membenarkan perihal terbakarnya trafo PLN ke PDAM, “Tetapi kemarin siang sudah nyala”, ujarnya.

Terpisah, bukan hanya air saja yang mati akibat susahnya solar didapatkan di Calang, Kabupaten Aceh Jaya. Amatan buanaindonesia di lokasi SPBU 14236495 di Desa Keutapang Selasa (24/7/2018) sejumlah supir truk terpakasa mengantri  di lokasi SPBU tersebut, menunggu masuknya pasokan solar dari Depot Aceh Barat.

Kelik (30) salah satu pengawas di SPBU saat disambangi mengatakan, diakuinya memang dalam bulan ini Bahan Bakar Minyak Solar susah didapat, sehingga menghambat aktifitas,

Menurut dia, aktifitas kendaraan saat ini meningkat, katanya. Dulu dari jalan lintas barat selatan, dari Aceh menuju Sumatera utara masih bisa dilewati. Tetapi sekarang ini, jalan di Daerah Pakpahan  terhambat akibat rusaknya jalan. Sehingga membuat kendaraan besar tidak dapat melewati jalan itu, sehingga harus memutar ke Banda Aceh, baru menuju lintas barat selatan,

“Faktor utama adalah kendaraan besar, tuturnya. Akibat aktifitas kendaraan besar meningkat, sedangkan ujung tombak SPBU untuk lintas barat selatan ada di Aceh Jaya, karena berada di tengah. Sejak meningkatnya aktifitas kendaraan besar di jalur ini, sehingga membuat Solar susah”. Katanya

Untuk pasokan solar sendiri, dia mengakuinya masih sesuai dengan permintaan tidak ada pengurangan apapun. Untuk perhari di SPBU ini, 8 Ton perhari. Saat pasokan minyak solar masuk, dalam waktu beberapa jam saja langsung habis diisi pengemudi kendaraan roda empat, baik besar maupun kecil. Kami tidak pernah memberikan solar ini kepada pekerjaan proyek,

Kami juga menyediakan bahan bakar Dexlite, dan ditawarkan kepada pengemudi. Tetapi banyak pengemudi kendaraan roda empat, besar dan kecil yang enggan menggunakan bahan bakar tersebut, disebabkan harga yang tidak terjangkau bagi mereka.

Sedangkan rata – rata bahan bakar yang diterima SPBU kami, di Desa Keutapang, Minyak Solar 8 ton, Dexlite 8 ton dan Pertalite 16 ton. Dia berharap bisa ada penambahan kuota Minyak Solar untuk Calang, tutupnya.

Bagaimana Menurut Anda?