MAA Gelar Adat dan Budaya Subulussalam Stand Penanggalan Curi Perhatian Khalayak

29.187 dibaca
MAA Gelar Adat dan Budaya Subulussalam Stand Penanggalan Curi Perhatian Khalayak
Pagelaran Adat Istiadat & Seni Budaya Subulussalam di lapangan Jl T. Umar kota Subulussalam Selasa (19/09/17)

BUANAINDONESIA.CO.ID, SUBILUSSALAM – Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Subulussalam laksanakan pagelaran adat dan seni budaya Subulussalam di lapangan Beringin Jl.T.Umar Kota Subulussalam selasa (19/09/17).

Acara dibuka Sekda Kota Subulussalam H.Damhuri SP MM. Dihadiri unsur Muspida Plus Kota Subulussalam dan warga yang antusias menyaksikan.

Rombongan Sekda disambut dengan tari asli Subulussalam yakni tari Dampeng dan tari Srindayung

Hasil pengamatan awak media ini dari lima stand kecamatan yang ada di kota Subulussalam, Stand Kec. Penanggalan banyak mencuri perhatian warga. Stand Kec Penanggalan menampilkan seni budaya dari lima suku yang ada di kecamatan tersebut Pakpak, Karo, Jawa, Batak Toba dan Nias. Mereka menampilkan gendang Sipitu asli Pakpak,Tari Kuda Lumpeng asal Jawa,Tari Landek dari Karo,Tari Tumatak asli Pakpak dan Menortor dari Batak Toba.

Sementara itu stand yang lainnya tidak menampilkan seni dan budaya dari suku suku yang ada dikecamatan tersebut,seperti halnya Kec. Sp. Kiri yang multi etnis dan merupakan pusat kota Subulussalam.

Ketua MAA Kota Subulussalam Anharudin SH MHum menyampaikan,ini kali perdana MAA melaksanakan gelar adat dan seni budaya diikuti lima kecamatan yang ada dengan jumlah peserta 250 orang.

Adat dan seni budaya yang akan ditampilkan adalah memerankan (seni peran) adat istiadat mengayunkan anak hingga meminang, memerankan turun sawah,pantun, hikayat, pencak silat, koleksi benda benda pusaka, tari tarian, alat musik dll.

Sementara itu Sekda Kota Subulussalam H. Damhuri yang membacakan pidato Walikota, menyampaikan bangga dan memberi apresiasi yang tinggi kepada MAA kota Subulussalam, karna telah melaksankan pagelaran seni budaya, dengan tujuan melestarikan seni dan budaya yang ada di kota Subulussalam. Dimana pada masa sekarang ini generasi kita sudah hampir meninggalkan bahkan melupakan adat mereka. Dan bahkan ada pencampuran adat budaya yang perlu kita jaga kemurnian adat tersebut, agar tidak rancu.Untuk itulah tugas kita bersama menjaganya. Karena perbedaan suku itulah membuat kita saling mengenal satu sama lain.Dan hal itu sesuai dengan Alquran tentang fitrah kita yang berbagai suku dan bangsa.

Sementara itu di Aceh sendiri ada 8 besar suku utama dan di Sumut ada 14 Suku besar. Sedangkan di Indonesia sendiri seperti diakui dunia terdiri dari beribu suku.Inilah kelebihan Indonesia dari negara lain yang diberikan Allah kepada kita ujar H.Damhuri.

Masih menurut Damhuri ada tujuh hal yang harus dilestarikan diantaranya bahasa. Indonesia memiliki 728 bahasa daerah sepuluh persen bahasa tersebut sudah hilang dari muka bumi. Jangan sampai kita mengalami seperti bangsa Aborigin di Australia yang hampir punah.Menurut sejarah yang telah dicatatkan negara bahwa bahasa asli Subulussalam adalah bahasa Singkil.

Menurut ahli jika sebuah bahasa penuturnya kurang dari seratus ribu orang maka akan dipastikan bahasa tersebut akan hilang. “Untuk itu tugas kita bersama terus mengembangkan bahasa daerah kita”, ujar Damhuri.

Damhuri juga menambahkan setelah bahasa, berikutnya yang harus dijaga adalah adat istiadat dan seni tari. “Tari adalah identitas kesukuan. Budaya Singkil ada sembilan tarian diantaranya tari Dampeng, Srindayung. Setelah tarian maka kuliner dan rumah adat juga wajib dilestarikan.Untuk marilah kita cintai adat istiadat dan seni budaya kita”. ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Sekda mewakili Walikota Subulussalam memberikan piagam seni budaya kepada H. Rajamansyah Ujung tokoh adat kota Subulussalam.

Bagaimana Menurut Anda?