Ada Dugaan Kades Pakiraman Salah Gunakan Anggaran, Camat Minta Laporan

14.370 dibaca

BUANAACEH.COM, ACEH SINGKIL – Camat Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, Ahmad SH, menegaskan, Seluruk kepala Desa wajib transparan dalam penggunaan Dana. Begitu juga dalam penggunaan Anggaran Pendapatan Belanja Kampung (APBKam). Selain itu Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) harus dibuat dan ditempelkan di papan pengumuman.

“Saya tidak mendukung Adanya penggelapan dan pengelabuan. Pekerjaan Harus dilaksanakan sesuai paket fisik yang ada, sesuai menurut ketentuan yang berlaku.” Tegas Camat, ketika dikonfirmasi awak media, menanggapi adanya dugaan, Kepala Desa Pakiraman tidak transparan dalam penggunaan dana desa. di ruang tunggu kantornya, Rabu (25/01/2017).

(Baca : Kades Pakiraman Diduga Gunakan Dana Desa Untuk Proyek Siluman)

https://ia.com/news/aceh/2017/01/22/kades-pakiraman-diduga-gunakan-dana-desa-untuk-proyek-siluman/

Bahkan, Ahmad meminta kepada masyarakat, untuk segera melapor kepada pihaknya, kalau ada oknum-oknum diwilayahnya yang melakukan penyelewengan dana. Ataupun didaerahnya terjadi penyimpangan. “Kalau ada yang menyimpang laporkan, saya sangat setuju”. Tambahnya dengan nada kesal.

Ketika disinggung terkait isu yang beredar dimasyarakat, bahwasanya kades disetir oleh mertua kandungnya (Bendahara Desa – Red), Ahmad membenarkannya, bahkan, Camat sempat mendengar bahwa  kegiatan paket fisik tahun 2016 ini, bendahara semata yang mengelola. Bendahara sendiri merupakan mertua kepala desa.”Itu bukan lagi isu,  saya sendiri bisa memperkirakan sedemikian,” tuturnya.

Menurut Ahmad, Jauh sebelumnya, Kepala Desa tersebut sudah diminta untuk memberhentikan mertuanya sebagai bendahara desa. Namun tidak digubris.
“Kita sudah pernah bilang jangan mertua mu yang jadi bendahara, nanti kamu sendiri kaku, kamu sendiri yang susah. Tapi kayanya tidak digubris”. Tandasnya.
Sementara itu, Mengenai perangkat desa yang buta huruf, lanjutnya. Itu tidak boleh, sebab, dalam aturan, minimal tamat SMA sederajat. “kalau tidak ada yang lain di desa itu, minimal bisa tulis baca, tapi kalau memang gak ada pilihan lain, baru buta huruf pun boleh.” Tukasnya.
Editor : Juansaya

Bagaimana Menurut Anda?