Ini Sejarah Dan Tempat Wisata Aceh Jaya, yang Kurang Terpublikasi

28.060 dibaca

BUANAINDONESIA.COM, ACEH – Kabupaten Aceh Jaya mempunyai beberapa lokasi titik destinasi wisata yang  dapat diandalkan. Sayangnya lokasi wisata tersebut kurang dipublikasikan, ujar M. Nasir selaku masyarakat, juga sebagai pemerhati wisata, sejarah Aceh Jaya. Sabtu 25 Maret 2017.Iklan jual ruko

Padahal, dengan adanya kunjungan masyarakat pada tempat  wisata tersebut akan meningkatkan pemasukan, paling tidak untuk masyarakat gampong dan sekitar.

Pemerintah setempat, khususnya intansi terkait dalam hal pariwisata harus jeli melihat peluang ini. Karena sebut Nasir, banyak tempat wisata disini seperti kurang diperhatikan.

Seperti contoh, sebut Nasir, konservasi penyu di Kecamatan Panga, mungkin bisa saja orang beranggapan itu tidak penting.

Padahal dengan adanya tempat konservasi penyu tersebut, sudah berapa banyak jumlah tukik/anak penyu yang terselamatkan, dan dapat berkembang biak, ujar Nasir.

Setahu Nasir, ada beberapa destinasi Wisata Aceh Jaya, yang dapat diandalkan, dan mempunyai nilai tersendiri, ungkap ia, seperti wisata bahari, wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah

Nasir menyebutkan, untuk wisata bahari, Pasi Saka (Pantai Gula) termasuk tempat yang indah, warna pasirnya putih seperti gula. Sambung Nasir, ada Lhok Glumpang dengan suguhan keindahan alam pesisir Samudera Hindia yang sangat indah.

Jelas Nasir dulunya, saat aceh jaya, masih berada dibawah kabupaten Aceh Barat, sebelum konflik Aceh dan Tsunami melanda, tempat tersebut sering menjadi tempat tujuan rekreasi masyarakat. Apalagi ucap M.Nasir, ditempat tersebut pernah ada sebuah Replica Kapal Hoc Canton, kenangnya.

Cerita Nasir, tentang Kapal Hoc Canton ini, mempunyai nilai sejarah luar biasa dalam sisi perjuangan, dan itu masuk sebagai salah satu destinasi dalam wisata sejarah, tentang perjuangan masa lampau.

Lanjut diceritakan, seperti yang dikutip dan dibaca pada salah satu buku dan cerita sejarah, terkait penyanderan Kapal Hoc Canton, di laut Rigah, dan Kapal Uap SS Nicero di laut teunom.

Cerita Nasir kepada Buanaindonesia, “Kisah Tipu Aceh di Nicero dan Hoc Canton”,

“Prang ngon taki, Khanduri Ngon Doa”, pameo dalam masyarakat Aceh ini yang dikenal sebagai hadihmaja menjadi filosofi perang di Aceh, beberapa peristiwa besar pernah terjadi.

“Ya, perang itu dengan tipu muslihat, yang akhirnya kesuksesan akan selalu diakhiri dengan kenduri dan doa”

Adalah peristiwa penyerangan kapal Nicero dan Hoc Canton sebagai dua dari sekian banyak peristiwa suksesnya tipu muslihat perang yang dimainkan pejuang Aceh.

Bermula ketika Nicero, sebuah kapal berbendera Inggris terdampar di Teunom.

Raja Teunom yang sedang gencarnya berperang dengan Belanda merampas kapal tersebut, awak kapalnya juga disandera.

Sebuah tuntutan diajukan kepada Inggris, kapal dan sandera akan dibebaskan jika Inggris membayar tebusan 10.000 dolar.

Teuku Umar yang saat itu sudah memihak kepada Belanda melalui taktik perang tipu Aceh, ditugaskan untuk melakukan pembebasan kapal dan sandera.

Teuku Umar meyakinkan Belanda bahwa Raja Teunom memiliki pasukan yang kuat, karena itu Inggris tidak berani menghadapi pasukan Raja Teunom, maka meminta bantuan Belanda.

Dalam uapayanya meyakinkan Belanda, sebenarnya Teuku Umar sedang membuat skenario besar. Ia menyatakan untuk merebut kembali kapal dan membebaskan sandera diperlukan pasukan pilihan dan persenjatan lengkap hingga mampu berperang salam waktu lama. Belanda mengiyakannya.

Teuku Umar bersama 32 tentara Belanda dan beberapa orang panglima, berangkat dari Kutaraja ke Aceh Barat dengan kapal Bengkulen.

Di tengah pelayaran, semua tentara Belanda yang menyertainya dibunuh di atas kapal. Seluruh senjata dan amunisi dirampas. Lanjut Nasir, dua tahun setelah peristiwa Nicero, peristiwa serupa kembali terjadi.

Kali ini menerpa kapal Hoc Canton, kapal dengan Kapten Hansen, warga Negara Denmark yang mendapat izin berlayar di perairan Aceh dari pemerintah Kolonial Belanda.

Sebagai mana yang dikutip dari Muhammad Said, menyebut Hansen sebagai pisau bermata dua. Ia memanfaatkan izin pelayaran untuk menyeludupkan sejata kepada pejuang Aceh di samping bisnis membeli rempah-rempah.

Ia sangat lihai berlayar, bahkan untuk mengelabui patroli Belanda, ia mampu berlayar dalam gelap tanpa menghidupkan satu pun lampu di kapalnya.

Namun, pada sisi lain Hansen juga tertarik dengan tawaran imbalan dari Belanda yang masih berlaku, yakni 25.000 dolar untuk menangkap Teuku Umar hidup atau mati.

Pada 12 Juni 1886, Hansen bersama Roaura berangkat ke Reugaih dengan kapal Hoc Canton.

Alasannya, mereka ingin mengambil kapal The Eagle yang berlabuh di Reugaih (red-Rigah), tapi sebenarnya Hasen dan Roaura ingin menjebak Teuku Umar. Setelah berlayar selama tiga hari, pada 15 Juni 1886, Hoc Canton melepas jangkar di perairan Reugaih.

Mula-mula mereka membeli lada dari kelompok Teuku Umar, setelah semua lada dimuat ke kapal, Hansen memberi syarat bahwa pembayaran akan dilakukan di atas kapal.

E Roaura yang sudah sangat dikenal di kalangan pejuang Aceh sebagai penyeludup senjata menjumpai Teuku Umar di darat. Ia mengatakan Hansen meminta Teuku Umar harus naik ke kapal Hoc Canton untuk menyelesaikan transaksi dagang tersebut.

Syarat itu ditolak Teuku Umar, tapi Hansen tetap bersikeras, tiga kali utusan Teuku Umar datang ke kapal ditolak Hansen.

Kesabaran Teuku Umar habis, sebuah tak-tik dirancang, bagaimana pun harga lada yang sudah dimuat ke kapal Hoc Canton harus dibayar.

Teuku Umar sendiri akan naik ke kapal itu untuk mengambil uang dengan segala resiko. Baginya uang itu sangat penting untuk kebutuhan logistik perang.

Teuku Umar meminjam kapal The Eagle pada Raoura, kapal yang sudah lama berlabuh di Reugaih untuk merapat dan naik ke Hoc Canton.

Tapi ketika Teuku Umar naik, Hansen memerintahkan anak buahnya untuk menangkapnya. Suami Cut Nyak Dhien itu akan dibawa ke Kutaraja untuk diserahkan kepada Belanda. Imbalan 25.000 dolar sudah terbayang di matanya.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya, semua anak buah kapal sudah lebih dulu disergap oleh 40 pejuang Aceh. Sebelum Teuku Umar naik ke kapal, ia telah menyusun skenario penyergapan kapal Hoc Canton, 40 pejuang Aceh sudah menyelinap ke sana pada malam hari.

Hansen yang mencoba melarikan diri akhirnya ditembak. Kepala juru mudi Lanbker yang berkebangsaan Jerman juga tewas bersama masinis kepala Robert Mc Gulloch.

Sementara istri Hansen bersama masiis kedua John Fay dan enam awak kapal Hoc Canton disandera. Keenam awak kapal itu merupakan pria Melayu dan Tionghoa.

Teuku Umar kemudian memerintahkan beberapa orang untuk menjaga kapal itu. Semua isi kapal disita, diantaranya: dua meriam, enam bedil model snider, lima pistol, serta uang tunai 5.000 dolar.

Peristiwa Nicero dan Hoc Canton selain membuat pukulan telak bagi Belanda, juga menjadikan pemerintah kolonial itu, di Aceh hilang wibawa di mata Internasional. Apa lagi ketika dua peristiwa itu dimuat di koran Penang Gazatte.

Asosiasi dagang Penang Association mengadakan rapat khusus dan mengeluarkan dua resolusi bagi Belanda di Aceh, yakni mengambil langkah cepat untuk membebaskan Jhon Fay, dan mendesak pemerintah Inggris untuk menyelesaikan kasus Kapten Hansen.

Keputusan itu diambil setelah rapat asosiasi tersebut berkesimpilan bahwa Belanda tidak mampu menguasai keadaan di Aceh.

Belanda makin berang. Gubernur Militer Hindia Belanda di Kutaraja Jenderal Van Teijn memimpin langsung beberapa kapal dan ratusan pasukan menuju Aceh Barat. (sekarang Aceh Jaya)

Reugaih akan dibumi hanguskan. Namun Teuku Umar tidak gentar. Ia balik mengultimatum Belanda, bila Reugaih diserang maka para tawanan akan dihukum mati.

Jenderal Van Teinj benar-benar gentar dengan ancaman itu. Ia memerintahkan semua kapal perang kembali ke Uleelheu. Belanda akan mengupayakan jalan diplomasi untuk menyelesaikan persoalan Hoc Canton.

Rakyat Reugaih bersorak ketika militer Belanda dan kapal-kapal perang itu kembali ke Kutaraja.

Sementara Teuku Umar membawa tawanannya ke pedalaman. Nyonya Hansen diminta untuk menulis surat kepada Belanda, bahwa mereka akan dibebaskan jika Belanda bersedia membayar uang tebusan 40.000 dolar.

Sampai dua bulan lebih kemudian persoalan itu bekum juga selesai. Belanda yang mulanya akan menghadiahi 25.000 dolar bagi siapa saja yang mampu menangkap Teuku Umar hidup atau mati, kini dipaksa untuk membayar 40.000 dolar kepada Teuku Umar. Namun Belanda hanya menyanggupi 25.000 dolar saja.

Teuku Umar benar-benar mendapat “hadiah” atas kepalanya sendiri.

Uang tebusan itu diserahkan kepada Teuku Umar pada September 1886 dan para sandera dibebaskan. Teuku Umar mempercayakan Nyak Priang tokoh yang masyarakat setempat sebagai perantara dengan Belanda untuk menjumpai Nyonya Hansen yang ditawan dalam rumah Teungku H Darwis Reugaih.

Kata Nasir, ini hanya sedikit cerita sejarah  yang dibaca dan diketahuinya, banyak cerita sejarah lain yang harus sama-sama kita telusuri, khususnya di Aceh Jaya.

Tambah Nasir kepada media ini, terkait tempat-tempat wisata lainnya di aceh jaya, yang mana itu sangat layak untuk dikunujungi, seperti Pulau Reusam yang berada di Samudera Hindia, keindahan Gunung Geurutee. Untuk wisata alamnya, ada air terjun dan arung jeram di wilayah Teunom, tempat konservasi Gajah di Ulu Masen, Arung Jeuram dan banyak tempat-tempat lainnya yang harus dikunjungi.

Harap M. Nasir, destinasi wisata ini dapat dikelola langsung oleh masyarakat, bersama Pemkab Aceh Jaya. Dengan demikian ekonomi masyarakat akan terangkat, adanya pendapatan, serta terbukanya lapangan kerja. Sehingga pariwisata dapat menjadi sektor andalan, serta dikenal baik Lokal, Nasional dan Luar Negeri. Karena, ucap Nasir, Belanda dan Inggris, mempunyai cerita sejarah  yang luar biasa di Aceh Jaya, demikian, tutupnya

Bagaimana Menurut Anda?