BUANAINDONESIA CO.ID, ACEH – Kepala Desa Belegen Mulia (Belgia) Kec.Sp.Kiri Kota Subulussalam Bahrin Tumangger. Mengatakan, kegiatan pelatihan pengayaman rotan bagi kaum ibu telah masuk dalam APBDes 2017 selasa
“Kegiatan tersebut diikuti 20 orang kaum ibu selama 24 hari dan instruktur berjumlah 2org dengan pagu anggaran 100 juta rupiah.Terkait isu yang berkembang bahwa pelatihan pengayaman rotan itu tidak ada di rembukkan didesa,
ketika dikomfirmasi terkait kegiatan pelatihan pengayaman rotan bagi kaum ibu didesanya mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah masuk dalam APBDes 2017 selasa (03/10).
Menurut Sekdesnya Nuraini Daulay memang kegiatan itu tidak pernah dirapatkan tetapi pernah dibacakan pada Musrembang 2016 dan sepertinya semua yang hadir setuju.Kegiatan yang lain seperti pelatihan menjahit,pelatihan otomotif, pelatihan tata rias pengantin telah di ajukan tetapi ditolak warga. “Sehingga kita laksanakanlah pelatihan penganyaman rotan ini”. ujar Nuraini.
Bahrin Tumangger mengatakan sesuai dengan permendes thn 2016 bahwa dana desa untuk pemberdayaan masyarakat dialokasikan sebesar 60 persen dari pagu dana APBN. Sehingga pada tahun ini kegiatan pelatihan penganyaman rotan ditingkatkan anggarannya menjadi 100juta dari sebelumnya 30jt pada tahun 2016.Hal ini kita lakukan agar dapat meningkatkan kwalitas SDM kaum ibu di desa kita.
Masih menurut Keuchik Bahrin Tumangger peralatan dan perlengkapan yang kita beli tersebut usai kegiatan pelatihan akan diambil kembali menjadi aset desa.Sehingga bisa digunakan oleh kaum ibu yang sudah dilatih tersebut.Dan dapat digunakan lagi pada tahun yang akan datang.Seperti Compresor complit beserta selang-selangnya,alat tembak (gun) ada tiga jenis dll nya.Mengenai nilai produk yang dihasilkan selama pelatihan akan diambil desa jadi aset desa ujar Bahrin.
Menurut seorang warga desa tersebut berinisial R bahwa kegiatan pelatihan penganyaman rotan dilaksanakan pada koperasi kerajinan rotan milik Sekdes desa Belegen Mulia yaitu Nuraini Daulay tanpa ada rapat didesa.Sehingga kami pun menolak hal tersebut.Terindikasi menguntungkan satu orang saja.Pada tahun 2016 juga pernah diadakan pelatihan yang sama tapi tidak ada hasilnya.”Produk yang dihasilkan selama pelatihan nilai jualnya untuk siapa kamipun tidak tahu.Sudah itu peralatan dan perlengkapan yang dibeli nantinya setelah pelatihan untuk siapa,ini juga tidak transparan”.Sebaiknya pelatihan ini berkelanjutan, setelah tahun ini pelatihan, maka tahun depan harusnya dibantu kaum ibu tersebut modal dan peralatan, agar kaum ibu yang sudah berlatih bisa memproduksi jadi kegiatan rumah tangga.Mengapa setiap tahun hanya pelatihan.Menurut R patut diduga pelatihan ini syarat KKN.








