Menyedihkan, TKW Aceh Curhat Pada Gubernur

13.830 dibaca
Menyedihkan, TKW Aceh Curhat Pada Gubernur
TKW Aceh Saat Curhat Pada Gubernur

BUANAACEH.COM, BANDA ACEH – Salah satu tenaga kerja wanita (TKW) asal Aceh terlihat duduk terpaku di depan Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Wajahnya berkali-kali menoleh ke belakang. Terlihat jelas raut ketakutan tergambar di wajahnya. Wahyuni, perempuan asal Pante Raja, Kabupaten Pidie Jaya itu masih terlihat mengalami trauma berat. Bagaimana tidak, dirinya mengaku dibuang ke tengah jalan oleh majikannya di Malaysia.

“Ia ditemukan oleh polisi Diraja Malaysia dan dibawa ke KBRI di Kuala Lumpur,” ungkap Suriati yang juga seorang TKW asal Aceh saat ditemui di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (18/10/2016).

Hanya itu informasi yang diketahui soal Wahyuni. Selebihnya tidak ada yang mengetahui. Saat pertama kali menginjakkan kaki kembali ke bumi serambi mekkah, wanita ini lebih banyak menoleh ke belakang. Bahkan, saat berjalan ditemani oleh seorang perempuan yang mendampinginya, Wahyuni berkali-kali menengok ke belakang.

Gubernur Zaini yang merasa prihatin meminta agar Wahyuni diperiksa kejiwaannya di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh. Setelah dinyatakan sehat dan normal kembali, dia baru dibawa pulang ke kampung halamannya.

“Jangan takut lagi ya, ini sudah sampai ke Aceh sudah sampai kampung halaman,” tutur pria yang akrab disapa Abu Doto itu penuh prihatin.

Namun apa hendak dikata, tetap saja seperti itu tidak ada reaksi apapun yang diperlihatkan Wahyuni.

Kepala Dinas Sosial Aceh Al-Hudri, mengatakan, sesuai dengan arahan Gubernur pihaknya akan segera membawa Wahyuni ke Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh. Jika kejiwaannya sudah stabil kembali, baru dibawa pulang ke kampung halamannya.

“Kita pulihkan dulu pemikirannya. Setelah itu nanti kita hubungi keluarganya,” ujar Al-Hudri.

Tidak hanya Wahyuni, Nasib yang tidak mengenakan juga dialami Suriati, perempuan yang berasal Gampong Aree, Kecamatan Delima, Pidie. Meski tidak menerima kekerasan fisik, namun ia mendapat perlakuan tidak baik dari majikannya.

Suriati mengakui selama 4,5 bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sering dimarahi. Gajinya pun tak kunjung dibayar. “Saat pertama kerja saya dijanjikan digaji 600 ringgit Malaysia per bulan,” ucap Suriati.

Wanita ini mengatakan dirinya menerima pekerjaan sebagai pembantu karena tidak ada pilihan lain. Padahal, ia meminta pada agennya agar dicari pekerjaan di kilang. Ia sebetulnya tidak sanggup bekerja sebagai pembantu. Selama 4,5 bulan, Suriati harus bertahan di rumah seorang majikan di Selangor, Malaysia. Ia bekerja setiap hari, namun menyedihkan ia tidak menerima gaji sama sekali.

“Setelah saya minta-minta terus akhirnya dikasih 1000 ringgit pada bulan ke empat. Cuma itu sekali saya gajian,”tuturnya dengan penuh kepiluan.

Suriati mengaku dirinya tidak sanggup bertahan dengan keadaan tersebut. Lantas ia mencoba lari dari rumah majikannya dan hendak mencari pekerjaan lagi. Namun, malangnya saat dalam perjalanan, ia ditemukan adik majikannya. Suriati kembali dibawa pulang ke tempat semula.

Perempuan yang merantau ke Malaysia sejak November 2015 itu kembali memutar otak untuk lari. Setelah beberapa hari pasca pelarian pertama, Suriati mencoba kabur lagi. Kali ini berhasil. Ia kemudian bekerja apa saja yang penting mendapatkan rezeki.“Setelah saya lari itu, kemudian ada yang bilang kalau mau pulang kampung saya disuruh ke KBRI di Kuala Lumpur. Saya mengumpulkan uang dan kemudian naik mobil ke Kuala Lumpur,” ungkap Suriati.

Tiba di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), ia diterima dengan baik. Suriati kemudian ditampung di sana selama tiga minggu sebelum akhirnya dibawa pulang ke Aceh. Ia dijemput oleh Kepala Dinas Sosial Aceh, Al-Hudri. Selain itu, ternyata ada dua TKW lain yang dibawa pulang hari ini yaitu Mariani dan Wahyuni.

Suriati mengaku, dirinya mengadu nasib ke Malaysia karena tergiur bayaran gaji di sana. Perempuan lulusan Sekolah Dasar (SD) ini berangkat menuju ke negeri tetangga dengan menggunakan paspor melancong.

Ia ditemani seorang agen asal Aceh Utara. Saat awal-awal menginjak kaki di Malaysia, Suriati dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Ia bertahan selama dua minggu pada majikan pertama. Sebenarnya, tidak ada masalah selama bekerja di sana. Perlakuannya pun sangat manusiawi.“Tapi saya tidak suka kerja jadi pembantu. Makanya saya minta keluar dan cari pekerjaan lain,” jelas Suriati.

Namun, setelah keluar dari majikan pertama itulah, nasib tidak baik dialami Suriati. Nasib hampir sama dialami Mariani. Selama dua bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana, ia kerap dicaci maki. Gajinya pun tidak pernah dibayar. “Saya pergi ke Malaysia pakai paspor melancong juga. Di sana sebagai pembantu rumah tangga,” kata perempuan asal Bireuen.

Ketiga perempuan tersebut hari ini tiba kembali di tanah kelahirannya. Mereka mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintangsiang tadi, Selasa(18/10/2016).

Sebelum dibawa pulang ke kampung halaman masing-masing, ketiganya bertemu dengan gubernur di Pendopo Gubernur. Abu Doto yang langsung menyambut para TKW itu di Tanah memberikan petuah dan untuk ketiganya.

Menurut Kadinsos Aceh Al-Hudri, Pemerintah Aceh mendapat informasi tentang keberadaan para TKW ini beberapa waktu lalu. Setelah semua dokumen selesai diurus, baru hari ini mereka dapat dibawa pulang.“Kita dihubungi oleh KBRI Kuala Lumpur. Sebenarnya ada enam TKW di sana. Tapi karena baru tiga ini yang siap dokumennya, makanya baru tiga kita bawa pulang,” kata Al-Hudri.

Bagaimana Menurut Anda?