BUANAINDONESIA, ACEH – Peningkatan Jalan di desa Penuntungan Kecamatan Penangggalan Kota Subulussalam menuai kebingungan warga setempat. Pasalnya, peningkatan Jalan Kampong dari Rt 2 sampai Rt 4, tersebut diduga tidak masuk dalam pembahasan Muserenbang desa sebelumnya. Selain itu, harga material yang ditetapkan dinilai terlampau tinggi. Yaitu Rp 150 Ribu/kubik. Padahal, harga di daerah itu hanya berkiras Rp 250/mobil.
“Yang masuk dalam Musrembang desa adalah ruas jalan Rt 9 menuju Rt 7. termasuk dalam APBDes. Selain itu, harga material untuk peningkatan jalan itu dinilai terlampau tinggi. Padahal Harga 1 Dumptruk Sirtu, di kota Subulussalam hanya Rp 250 ribu rupiah, satu Dumptruk berisi 3 kubik pasir”. Kata salah Satu warga setempat.
Selain harga materialnya dinilai tinggi, Kata warga ini, jumlah material yang digunakan juga dinilai janggal. Sebab, peningkatan jalan sepanjang 1 Km menghabiskan 800 m3.
Kepala Desa Kholid yang dikomfirmasi Buana Indonesia terkait hal ini membantah kalau peningkatan jalan itu tidak masuk dalam Muserenbang Desa. Menurut Kholid, Pembangunan peningkatan jalan tersebut sudah masuk dalam musyawarah desa. Dan Konsultan yang membuat RAB serta gambar sudah di verifikasi.
Namun Kholid terdiam dan terlihat lemas saat ditanya tentang tingginya harga Sirtu, yang mencapai Rp 150 ribu/kubik, telah masuk dalam APBDes 2016, yang tentunya sudah di verifikasi terlebih dahulu dan mendapat persetujuannya.
Kholid juga lebih banyak diam saat ditanya mengenai pembangunan jembatan lae Sikerbo yang semestinya dibangun dari titik 0. Walau, pada akhirnya dia mengakui. Bahwa pembangunan jembatan itu menggunakan abudmen lama. Dengan alasan dana abudmen tersebut dipergunakan untuk penggalian parit dilokasi itu.
Untuk diketahui bahwa Pembangunan Jembatan Lae Sikerbo di RT 9, mengunakan abudmen yang lama, padahal dalam rencana musyawarah desa dan di APBDes pekerjaan dimulai dari nol.
Serta bahan material semen yang digunakan untuk bangun jembatan itu mencapai 637 sak dengan harga satuan 72 ribu.










