Banjir adalah bencana alam yang juga kodratnya alam diatas permukaan bumi disebabkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri yang secara semberono menebang hutan. Ketika hujan lebat tiba, maka air yang mengalir lewat pegunungan dengan mudah merambat ke permukaan yang paling rendah, karena tanpa rintangan yang berarti. Air bah yang mengalir ke sungai dan meluap di sekitar DAS (Daerah Alir Sungai) ke rumah- rumah warga. Itu merupakan pendapat ahli Beologi ( ilmu alam) yang tidak bisa dibantah karena penelitian yang akurat dengan berbagai alibi oleh ilmuan tersebut. Tetapi bagaimana menurut Islam?
Sebagai contoh yang paling spele tapi populer, ketika ahli sejarah dunia, Darwin, mengemukakan pendapatnya lewat ilmiah dan kajian yang cukup akurat juga lewat penelitian ketika menemukan kerangka kera (monyet) yang dalam istilahnya “Manusia Kera Berjalan Tegak”. Maka Darwin berkesimpulan bahwa Manusia Berasal Dari Kera (monyet). Dengan kata lain, Endatu Manusia ( kita) berasal dari keturunan monyet. Kita adalah cucu- cucunya monyet. Teori Darwin ini diakui oleh Badan Kajian Ilmiah Internasional dan tidak ada yang mampu membantahnya. Lalu bagaimana dengan Islam?
Dua contoh diatas adalah barang bukti kajian ilmiah mereka dengan tanpa melihat SARA. Mereka berpedoman pada riset lewat berbagai penelitian dan kajian. Namun yang perlu kita uraikan disini adalah berdasarkan akidah kita sebagai Muslim yang berpedoman pada Hadist dan Al Quran.
Pada masa Nabi Nuh AS, juga pernah terjadi banjir besar yang menghanyutkan seluruh makhluk hidup dan harta benda bagi yang tidak beriman kepada Allah dan Nabi Nuh AS. Tapi selamat bagi yang mau ikut nabi Nuh dan Naik ke Bahtera (Perahu Besar) yang telah disiapkan nabi Nuh jauh hari sebelum banjir tiba.
Kedua, Al quran juga menjelaskan bahwa ketika Allah telah menciptakan langit, Bumi,Planet- Planet angkasa, Syurga dan Neraka serta para Malaikat, Bumi ini kekosongan penduduknya. Allah memerintahkan malaikat (Eizrail) mengambil segumpal tanah dengan tujuan untuk dijadikan khalifah (pemimpin) di atas permukaan bumi karena kala itu bumi masih kekosongan penduduknya. Dan manusia pertama yang diciptakan Allah untuk menempati Bumi adalah Nabi Adam AS, walau pada awal-awal penciptaan Nabi Adam berada di Syurga. Intinya Endatu (nenek) manusia ( versi Islam) bukan MONYET tetapi Nabi ADAM AS.
Dari dua argumen diatas adalah bahan kajian kita selaku ummat Islam untuk berfikir, merenung dan bertindak. Terutama menyikapi persoalan Banjir Yang Kini Melanda Aceh Jaya, berpedoman pada ahli ilmu bumi atau pada akidah kita selaku ummat Islam.
Jika berpedoman pada akidah kita selaku orang islam, mari merenungi lewat berbagai pengalaman yang telah terjadi di Aceh Jaya khususnya dan Aceh secara keseluruhan. Tahun 2004 Aceh dilanda mushibah Tsunami dan Aceh Jaya merupakan puncaknya Tsunami. Berapa puluh ribu masyarakat Aceh Jaya yang jadi korban dan malah ada yang tidak ketemu manyatnya sampai sekarang. Soal harta benda dan bangunan tidak perlu ditanyakan lagi. Itu memang mushibah besar. Tapi adakah kita sadari kalau itu bukan sekedar meletus gunung dibawah laut (menurut ahli ilmu bumi) tapi juga sebuah teguran dari Allah atas kelakuan kita yang telah lupa.
Lalu sekarang. Mulai hari meninggalnya H.Darimi, (awal Tahun 2016 ini) yang sering disapa Abu Mesjid Sabang Lamno, kabupaten Aceh Jaya, hujan memang tidak pernah henti di Aceh Jaya. Di daerah lain di Aceh kemarau gersang, sawah -sawah tidak bisa ditanami padi karena tiada air, namun di Aceh Jaya kelebihan air karena hujan lebat. Malah pada keuneunong tujoh (istilah lain iklim di Aceh) biasanya kemarau tapi di Aceh Jaya di landa banjir.
Baru saja kemaren banjir besar melanda sejumlah kecamatan di Aceh Jaya, (yang konon banjir seperti ini cuma terjadi di Aceh Jaya pada tahun 1978), mulai Lamno, (kutup utara) kabupaten Aceh Jaya sampai ke Teunom yang merupakan daerah (kutup selatan) dalam peta Aceh Jaya, hari ini banjir kembali melanda beberapa daerah yaitu Patek dan Sekitarnya. Pertanda apakah ini?
Seandainya banjir ini merupakan UJIAN dari Allah, maka kuatkan iman kami. Seandainya banjir ini merupakan TEGURAN dari Allah, maka ma’afkan kami…
Tapi seandainya banjir ini merupakan KUTUKAN dari Allah, maka ampunilah kami Ya…RABBI. Hanya pada MU kami memohon dan kepada MU pula kami kembali.










