ACEH SINGKIL, BuanaIndonesia.com – Sudah satu tahun mengindap Tumor Ganas, Priandi bocah, bocah 10 tahun asal Aceh Singkil belum operasi di Medan.
Kondisi Priandi sangat miris dan menyayat hati. Keluarga miskin Majely dan Nyai Farida warga Desa tanjung Betik, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh (NAD). Putra pertama dari hasil perkawinan mereka dua belas tahun silam, kini menderita penyakit Tumor Ganas.
Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih, seperti itulah peribahasa yang sekarang ini dirasakan seorang kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh, namun naas tidak bisa terhindarkan lagi, putra pertama mereka periandi usia 10tahun yang menderita penyakit tumor ganas semenjak setahun lalu.
Kini sepertinya mereka harus menerima kenyataan itu dengan tegar dan lapang dada, pasalnya karena keterbatasan ekonomi dalam keluarga mereka sehingga pengobatan anak mereka harus menggunakan kartu BPJS.
Menurut Majely sang ayah, awalnya mereka tidak pernah menyangka kalau tonjolan kecil sebesar biji pete di leher sebelah kiri priandi putra pertamanya akan berakibat fatal, setelah sebulan tonjolan tersebut mulai membesar, dan merekapun membawa Putra pertamanya untuk di periksa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Singkil, setelah dokter di Rumah Sakit tersebut melakukan pemeriksaan, priandi dinyatakan mengindap Kelenjar Getah Bening. Lalu dengan keterbatasan Alat dan Medis pihak Rumah Sakit Umum Daerah Singkil Terpaksa merujuk priandi ke Rumah Mata Prisca Medan Sumatra Utara, walau sudah mendapatkan surat rujukan dari pihak Rumah Sakit, pria yang berprofesi sebagai buruh ini harus berfikir panjang untuk membawa putranya berobat ke Medan, alasannya buat biaya makan sehari-hari mereka tidak mencukupi, apa lagi biaya makan selama mereka menjalani pengobatan di Sumatra Utara nantinya, itu yang ada di benak keluarga miskin tersebut, begitulah keterangan mereka pada personil dari YAYASAN ADVOKASI RAKYAT (YARA) di pimpin Bunjamin, saat menyambangi ke kediaman mereka, sabtu, 24 September 2016.
Setelah mendapatkan saran dan sedikit bantuan dana dari personil YARA, pihak Keluarga serta pihak Sekolah tempat priandi menimba Ilmu, Majely mengambil sikap untuk mengobati Putra pertamanya salah satu Rumah sakit yang ada di Medan Sumatra Utara.
Setelah sampai di Rumah Sakit Mata Prisca Medan pihak Dokter tidak langsung mengambil tindakan, karna pihak dokter tersebut mengatakan bila dioperasi sangat kecil kemungkinan jiwa priandi bisa terselamatkan, walaupun pihak keluarga sudah dengan resiko yang dialami oleh putranya ketika di operasi, Majely mengatakan siap menerima apapun resikonya, tetapi Dokter di rumah sakit tersebut tetap tidak mau melakukan operasi dan menyarankan priandi untuk di bawa ke Rumah sakit RSUP ADAM MALIK Medan.

Dengan berbekal keyakinan, merekapun menuruti saran Dokter di Mata prisca dan membawa priandi ke RSUP ADAM MALIK Medan. Sesampai disana Priandi juga tetap tidak ada tindakan medis
” mungkin karena kami orang miskin mereka tidak mau melakukan operasi, ungkap Majely dengan nada sedih.








