BUANAACEH.COM, ACEH – Perpolitikan di Aceh kian memanas berbagai kekerasan dan pelanggarapun telah terjadi, berbagai cara selalu di lakukan oleh setiap pasangan calon serta Timnya, tujuannya untuk dapat meraih suara sebanyak-banyak mungkin, terkadang nama ulama selalu di sebutkan dalam setiap orasi politik di saat melakukan kampanye sehingga menimbulkan perbincangan di beberapa pengamat politik di Tanah serambi Mekah.
Salah satunya Dosen Muda Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan, di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Eka Januar,S.IP.,M.Soc.Sc, yang pernah mengemban Ilmu Masternya di Departemen of Political Science Universitas Kebangsaan Malasia (UKM), angkat bicara terhadap beberapa keputusan para Alim Ulama dalam mendukun Kandidat kepala Daerah di Aceh, melalui sebuah postingan di Media Sosial Eka Januar menyebutkan
Dalam satu pekan terakhir pasca Ulama Kharismatik Aceh “Abu Tumin” pimpinan Dayah Al-Madiinatuddiniyah Babussalam, Blang Bladeh, Kec.Jeumpa, Kabupaten.Bireuen menyatakan sikap mendukung Calon Gubernur Aceh Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah, ada segelintir orang yang terkesan mempermasalahkan sikap Abu Tumin tersebut.
Untuk pengetahun kita bersama, Dayah (pesantren) Al Madiinatuddiniyah Babussalam, Blangbladeh, Kec.Jeumpa, Kabupaten Bireuen, merupakan induk dari beberapa dayah salafiah di Aceh yang sudah mendidik santri sejak zaman Belanda, Bahkan jauh sebelum Negara republik Indonesia Merdeka.
Pada mulanya, Dayah tersebut didirikan oleh Tgk H.Imam Hanafiah pada tahun 1890, setelah Tgk. H. Imam Hanafiah meninggal Dunia, estafet kepemimpinan dayah tersebut dilanjutkan anaknya Tgk H,Mahmudsyah, semenjak Tgk Mahmudsyah meninggal hingga sekarang dayah Al Madiinatuddiniyah dipimpin anaknya yaitu Tgk. H. Muhammad Amin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Tumin.
Dayah Al Madiinatuddiniyah Babussalam berciri khas pengajian ilmu Fiqih, Tauhid, dan Tafsir dalam rentang waktu yang sudah mencapai 127 tahun mendidik generasi muda, dayah itu sudah dikenal luas dan telah ada belasan dayah lain yang merupakan cabang dari dayah tersebut.
Menurut Eka Januar, Pernyataan sikap Abu Tumin mengenai dukungannya telah beliau fikir secara mandalam, dan dinamika ini boleh jadi disebabkan kekhawatiran beliau mengenai kondisi politik di Aceh dewasa ini yang kian tidak menentu. Karena sejak zaman orde baru belum pernah beliau menyatakan sikap politik sejelas ini,
Eka Januar berpandangan sosok sekaliber Abu Tumin bukanlah mendukung pasangan calon karena iming-iming materi, apalagi imbalan Proyek, Proposal bantuan jika calon yang didukung bisa keluar sebagai pemenang, seperti yang sering terjadi dewasa ini (Politik Transaksional)
JANGAN PANIK. Kalau kita melihat perkembangan politik dinegara lain keterlibatan ulama dalam politik merupakan hal yang biasa, oleh karena itu tidak perlu menanggapi secara berlebihan (panik) apalagi sampai susah tidur. Sebagai salah satu contoh. di Malaysia pernah ada Almarhum Nik Aziz atau di kalangan masyarakat Malaysia dikenal dengan nama Tuan Guru Dato’ Bentara Setia Haji Nik Abdul Aziz Bin Nik Mat, beliau adalah seorang tokoh agama dan tokoh politik oposisi di Malaysia. Ia menjabat sebagai kepala menteri negara bagian Kelantan sejak tahun 1990 hingga 2013, beliau juga pernah menjadi Mursyid ‘Amm atau Pengarah Umum Partai Islam Se-Malaysia (PAS) walaupun Nik Aziz terlibat dalam kancah perpolitikan praktis yang namun kharismatik beliau tidak pernah pudar bahkan ia menjadi tokoh agma dan politik yang sangat berpengaruh di negeri bagian Kelantan khususnya dan di Negara Malaysia umumnya sehingga ia menjadi sosok yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan politik.
Dengan kondisi politik Aceh yang kian kacau disebabkan ambisi dan nafsu yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok menurut pandangan penulis peran ulama sangat diperlukan untuk mengarahkan ummah menuju jalan kebajikan, sungguh sangat ironi melihat kondisi Aceh pasca damai dimana moral dan etika generasi muda mengalami degradasi yang luar biasa, pengaruh sabu-sabu dan narkoba sejenisnya telah maracuni generasi muda sampai kepelosok-pelosok desa. Bahkan penjara yang ada di Aceh manyoritas dipenuhi oleh mereka yang ditangkap gara-gara memakai, pengedar atau sebagai bandar narkoba.
POLITIK ITU MULIA. Tujuan daripada politik adalah mencapai kemaslahatan dan kemuliaan bukan saling caci maki atau saling bunuh membunuh, seperti yang dipraktekkan dewasa ini, kita semua tentunya berharap Aceh akan terus damai dan mencapai kemajuannya, oleh karena itu semua perselisihan akan berakhir sampai tanggal 15 Februari 2017 yaitu tanggal dimana pemilukada serentak digelar, setelah itu siapapun yang terpilih sebagai Gubernur, Bupati/Walikota adalah pemimpin kita semua rakyat Aceh bukan pemimpin sekelompok orang. Mari sama-sama kita menjaga Aceh untuk generasi dan anak cucu kita kedepan. Wallahu`alam.










