BUANAACEH.COM, ACEH UTARA – Kerusakan jembatan aramko di Dusun Pantei Bahagia, Gampon Alue Drien, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, telah menghambat aktivitas warga setempat. Petani kesulitan mengangkut hasil panen, sementara para orang tua khawatir, setiap hari anak-anak melintasi jalan yang mengancam keselamatan mereka.
Menurutu warga kepada Buanaaceh, Rabu (18/11) Jalan Lhok Drien – Pantei Pisang, merupakan jalur akses ke sejumlah gampong pedalaman Sawang. Diantaranya, Lhok Drien, Alue Seukei, Pante Pisang, Krueng Tuan dan Dusun Pantei Bahagia. “Melalui jalan ini, kami keluar masuk ke Sawang (Ibu Kota Kecamatan-red),” jelas, Ruslan,35, jalan tersebut dibangun sekitar 10 tahun lalu melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).
Faisal menambahkan, kerusakan jembatan terjadi akhir tahun 2014. “Namun sampai sekarang belum ada dana untuk membangun jembatan itu lagi,” jelasnya. Akibatnya, warga tidak bebas lagi mengangkut hasil perkebunan seperti, pala, kelapa sawit, karet dan hasil panen berbagai jenis tanaman hortikultura. Mereka terpaksa melalui, Jalan Simpang KKA-Simpang Rambong. Jarak harus ditempuh melalui jalan provinsi sekitar 45 kilo meter. Sedangkan melalui Jalan Alue Drien – Pantei Pisang, hanya sekitar 16 km.
Jembatan aramko di Dusun Pantei Bahagia, juga kerap dilintasi para murid SD Negeri-20 Sawang. Mereka terpaksa berjalan kaki, supaya bisa menyeberangi lubang bekas jembatan yang jebol. “Ketika jembatan jebol, anak-anak sulit melintasinya,” tambah Faisal. Sehingga warga telah memohon kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara. Namun karena alasan terbatas anggaran penanggulangan bencana, sehingga bantuan tidak terealisasi.
Untuk menghindari terjadi kecelakaan, Faisal bersama warga lainnya telah menimbun lubang tersebut. Sungai yang melintasi badan jalan juga tertimbun, air hanya mengalir di bawah bekas jembatan. Kondisi tersebut membahayakan pengguna jalan, bila terjadi longsor. “Kalau debit air sungai tinggi, timbunan di atas badan jalan juga akan runtuh,” sebut warga lainnya. Sehingga mereka mengharapkan Pemkab Aceh Utara segera memperbaiki jembatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga, Edi Anwar menjelaskan, dana pembangunan untuk tanggap darurat tidak tersedia. Sehingga untuk anggaran pembangunan jembatan harus melalui pembahasan APBK. Pemkab Aceh Utara akan membahasnya dalam APBK.








