BUANAINDONESIA.CO.ID, RIAU – Kunjungan Ruri Jumar Saef, Tim Nawacita Presiden RI ke Dumai-Riau, Rabu (23/11/2017) disambut antusias oleh ratusan masyarakat adat dan Majelis Lembaga Adat Melayu Riau di Dumai.
KedatanganTim Nawacita untuk mendengarkan langsung permasalahan dan harapan masyarakat adat riau, khususnya Dumai dan melihat sejauh mana pencapaian pembangunan dan kerjasama regional telah menyentuh masyarakat yang berada pada pesisir selat malaka, untuk kemudian dapat memberikan pengarahan guna menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat.
Tim Nawacita tiba dikota Dumai sekitar jam 09:30 pagi yang langsung disambut Ketua MKA Datuk Fadlah Nurbidin, Direktur RiDI Patrik Tatang, dan Ketua DKA Datuk Zainal Efendi beserta rombongan LAMR dibandara Pinang kampai, untuk kemudian langusng bersilahturahmi dengan Walikota Dumai Drs Zulkifli AS dirumah dinasnya untuk berdialog mengenai pembangunan Kota Dumai.
Kunjungan dilanjutkan ke Balai Adat LAMR Dumai sekitar jam 14:00 WIB. Sambutan dibuka dengan pemberian Tanjak Melayu disertai alunan musik Kompang dan Pertunjukan Silat oleh Pagar Negeri yang dilanjutkan dengan pembukaan acara oleh Ketua Umum LAMR Dumai.
“Kami sangat berterimakasih atas kunjungan Tim Nawacita Presiden RI yang diwakili oleh Tuan Ruri yang telah menyempatkan waktu untuk melihat, mendengarkan dan menyerap aspirasi yang kami sampaikan,” ujar Datuk Seri Syarudin Husin, Ketua Umum LAMR Dumai.
Ketua Umum LAMR DUmai menyampaikan beberapa permasalahan masyarakat Dumai yaitu soal banjir yang melanda rumah-rumah masyarakat 2 kali dalam sebulan dimana diperlukan normalisasi sungai dumai, pembuatan waduk/embung turap. “Dumai mengalami banjir ROB yang berasal dari naiknya permukaan air laut ke darat, dulu hanya 2 tahun sekali terjadi, sekarang sebulan 2 kali, masyarakat kami sangat menderita dengan keadaan ini,” katanya.
“Untuk mengatasi seringnya kecelakaan maut di jalan purnama, diperlukan pembangunan jalan lingkar parit kitang, dan juga pembuatan jalan dari Dumai ke Sinaboi agar masyarakat yang ada di Batu Teritip tidak terisolir karena minimnya akses jalan, kami merasakan ironi mengingat Dumai sudah lama ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional tapi masih ada wilayah yang terisolir”, ujarnya.
Dumai juga belum memiliki Stadion Olah Raga dan Kawasan Wisata Pantai juga masih minim. “Bagaimana masyarakat bisa mendapatkan hiburan dikotanya sendiri sementara Dumai adalah kota pesisir pantai tapi kita tidak memiliki objek wisata pantai yang mamadai,” tambahnya.
“Dan yang membuat kami tambah sedih, ikon adat kami yaitu situs Putri Tujuh tidak bisa diakses oleh masyarakat karena berada dalam kilang Pertamina Dumai, kami mohon agar akses dapat dibuka”. Tambahnya.
Secara tegas Ketua LAMR menyampaikan bahwa Dumai adalah kota pelabuhan, industri, perdagangan, dan transit internasional. Banyak pabrik besar multi nasional mengolah produknya di Dumai dan mengekspornya ke manca negara, banyak warga tempatan yang menganggur, APBD yang kecil membutuhkan Dana Bagi Hasil CPO dari Pusat, warga tempatan kurang merasakan manfaat eknomi atas keberadaan perusahaan-perusahaan besar kelas dunia yang ada di Dumai ini, apalagi sumber daya alam minyak bumi dan kayu di Riau semakin menipis. “Kami mohon petunjuk dan solusi kepada Presiden RI atas masalah ekonomi masyarakat ini, jangan kami menjadi penonton dinegeri sendiri” katanya.
Salah satu program nawacita Presiden RI berfokus untuk mewujudkan kemandirian eknomi masyarakat dengan mengoptimalkan potensi daerah yang ada tanpa menghilangkan jati diri masyarakat setempat. “Kemandirian ekonomi untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat adat dan umumnya di Riau, melalui Koperasi dan BUMDes, maka hak-hak ekonomi masyarakat dapat digerakkan dan disinergikan dengan perusahaan-perusahaan yang ada di daerah setempat,” kata Ruri.
Tim Nawacita memberikan pengarahan dan masukan agar masyarakat menggunakan koperasi primer dan sekunder agar dapat menerima dan mengelola dana CSR dari perusahaan-perusahaan besar yang ada, maka hak-hak ekonomi masyarakat dijamin dan dilindungi oleh peraturan perundang-udangan. “Perusahaan yang beroperasi dan mendapat keuntungan harus bisa membantu perbaikan kehidupan warga setempat, baik masalah tenaga kerja tempatan, maupun kerjasama ekonomi IKM UMKM dan Dana CSR yang tepat sasaran,”
Ruri Jumar Saef juga mengingatkan kemana arah yang akan ditempuh LAMR kedepannya, dengan semakin tipisnya minyak bumi dan kayu, LAMR perlu menggali potensi lainnya di Riau dan Dumai khususnya, salah satunya adalah pariwisata karena berdekatan dengan Malaka. “Dumai dapat mejadi daerah transit wisata internasional, hal ini akan menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara berkesinambungan,” ujar Ruri.
“Saat ini kesadaran masyarakat adat melayu riau sangat tinggi untuk mengoptimalkan potensi daerah guna menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat adat melayu riau,” demikian disampaikan Datuk Fadhlah Nurbidin.
Ucapan terima tasih disampaikan oleh Datuk Seri Syarudin beserta Datuk-Datuk Majelis LAMR Kota Dumai atas pengarahan dan masukan Tim Nawacita. Dan pada kesempatan terpisah Datuk Seri Syahril Abubakar selaku Ketua Umum LAMR Provinsi Riau menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya dan berterima kasih terhadap komitment Presiden RI Bapak Joko Widodo membangun jalan Tol Pekanbaru-Dumai, dan pengembalian lahan seluas 1,2 juta hektar kepada Masyarakat Adat Riau. “Semoga dari 1,2 juta hektar ini akan menjadikan kami masyrakat yang sejahtera dan adil tanpa merubah karakter dan budaya kami adat melayu payung negeri, dan kami dari LAMR Provinsi Riau lagi bermusyawarah untuk memberikan gelar adat kepada Presiden Joko Widodo sebagai terima kasih dan bentuk penghormatan kami,” kata Datuk Seri Syahril Abubakar.








