BUANAINDONESIA.CO.ID, Bogor – Badai politik tengah menghantui Partai Golkar. Dimulai dengan rekomendasi DPP Golkar ke Ridwan Kamil dan ‘meminggirkan’ Dedi Mulyadi, bergulirnya kasus Setya Novanto (Setnov), hingga disusul dengan munculnya petisi pemberhentian Setnov khususnya di Jawa Barat.
Lantas bagaimana Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor Tauhid J Tagor menyikapi badai yang tengah menghantui partai berlambang pohon beringin ini? Tauhid J Tagor nampaknya enjoy-enjoy saja.
“Pengaruhnya pasti ada. Tapi Golkar sebagai partai senior sudah pengalaman. Kami jalan aja. Ikuti prosesnya. Kami menunggu saja sampai praperadilan Setnov. Pak Idrus sekarang yang jadi Plt (pelaksana tugas),” katanya saat ditemui di Kantor DPD Golkar Kota Bogor, Senin 27 November 2017.
Tauhid J Tagor yang juga adik ipar Setya Novanto ini, mengaku belum ada komunikasi lebih lanjut dengan Setnov.
“Ga ada obrolan, komunikasi terakhir sih soal Golkar saja. Tapi begini ya, harus diingat, saya di Golkar jauh sebelum Setya Novanto, meski saudara saya. Tahun 1988-1989 saya sudah ikut Karakterdes, kebetulan saja dia jadi Ketum DPP Golkar dan saya jadi Ketua DPD,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Tauhid juga merespons terkait ramainya petisi yang ingin mengganti Setya Novanto khususnya disampaikan oleh kader-kader Golkar di Jabar dan terkait dukungan terhadap Ridwan Kamil.
“Kita ikutin saja, itu kan ranahnya DPP, Biarin mengalir saja, kami DPD Golkar Kota Bogor tetap fatsun, toh semua belum ada pendaftaran di KPU, kita lihat saja hasil akhirnya sampai 8-10 Januari mendatang. Kalau kemungkinan berubah itu pasti ada, tapi menurut saya kalau berubah-ubah jelek bagi Golkar. Dua-duanya (Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi) tokoh yang baik, hanya saja survei Ridwan Kamil lebih tinggi,” papar Tauhid.
EDITOR: WN









