
BUANAINDONESIA.CO.ID, LHOKSEUMAWE – Partai ke-39 cabang olahraga tinju Prakualifikasi Pekan Olahraga Aceh (PORA) 2017 di Lhokseumawe berlangsung berdarah-darah. Petinju Aceh Selatan yang turun di kelas 60 Kg, Doili Heriyandi mengalami luka serius dibagian kepala usai berbenturan dengan petinju Kota Sabang, Wahyu Saputra di babak penyisihan, Jumat malam 10 November 2017.
Tampil di sudut biru, petinju Aceh Selatan tampil spartan dan masif menyerang. Pukulan demi pukulan terus dilayangkan Doili dan beberapa diantaranya tepat sasaran. Beberapa kali terlihat Wahyu Saputra berupaya merangkul Doili untuk menghindari pukulan.
Ratusan penonton yang memadati arena Ring buatan di terminal Labi-labi, Keude Aceh, mulai meneriakan yel-yel mendukung petinju di sudut biru.
Memasuki ronde kedua kondisi masih serupa, Doili masih terlihat lebih unggul dari lawannya. Hingga insiden kecelakaan menimpa petinju terbaik Aceh Selatan dipertengahan ronde ini.
Usai melepaskan beberapa pukulan keras, petinju Sabang berupaya merangkul Doili. Begitu keduanya melepas rangkulan, Doili terlihat memegang kepalanya yang mengucurkan darah segar. Kontan saja, kondisi ini mendapat respon riuh ratusan penonton. Pasalnya, petinju Aceh Selatan itu tidak dalam posisi tertekan atau dipukul.
Tim medis kemudian merekomendasikan keputusan pertandingan tidak bisa dilanjutkan akibat luka robek yang dialami Doili. Wasit yang bertugas akhirnya memilih petinju Sabang dengan kemenangan Referee Stops Contest (RSC) berdasarkan pertimbangan tim medis.
Dokter Ring, dr Yusuf menyebutkan, petinju Aceh Selatan itu mengalami luka robek di kepala kiri sepanjang 3 cm dengan kedalaman hampir 1 cm serta menghasilkan 4 kali jahitan. Luka juga dinyatakan berada persis di pembuluh darah.
” Dia tidak bisa ikut pertandingan lagi. Jikapun menang, besok dia juga tidak bisa main lagi. Keputusan ini kita ambil untuk menghindari luka yang lebih parah” ujarnya.
Beberapa penonton dan ofisial tim menyesalkan kejadian ini dan menganggap petinju asal Sabang itu sengaja melakukan benturan karena merasa terdesak oleh serangan apik petinju Aceh Selatan.
Wasit yang bertugas membantah luka yang dialami Doili berasal dari faktor kesengajaan. Ia mengatakan insiden itu terjadi pada saat kedua petinju saling melepaskan rangkulan.
” Saya melihat kejadian itu tidak disengaja. Pada saat merangkul itu, pas mau wiping (melepaskan diri dari rangkulan-red) berbenturan kepala” ujar wasit, Irwan Turbo.
Menurut Turbo, petinju Aceh Selatan ini masih memiliki peluang dipanggil kembali pada event selanjutnya, yakni PORA. Pertimbangan ini didasarkan oleh karena Doili lebih unggul jumlah perolehan angka pada tarung ini.
“Kalau secara angka menang yang biru. Tadi ronde pertama selesai dan dihitung, dia menang 3-0. Dia juga masih ada peluang dipanggil lagi. Kita untuk mencukupi kuota, mana-mana yang bagus akan diadu kembali nanti” terang Turbo.
Senada dengan Turbo, Manajer Komisi Teknis Pertina Aceh, Juhaidi mengatakan hal yang sama. Didampingi Petinju Aceh kawakan yang juga anggota komite, Rahman Boga, ia membenarkan peluang bagi atlet Aceh Selatan itu masih terbuka diikutkan pada PORA tahun depan di Aceh Besar.
Secara aturan, kata dia, jika partai malam ini adalah laga final, kemenangan petinju ditentukan dengan jumlah angka. Namun, karena laga malam ini masih tahap penyisihan, maka keputusan lebih memihak pada petinju yang tidak mengalami cedera.
“Jika malam ini final, dihitung dan petinju Aceh Selatan yang menang. Tapi karena ini penyisihan maka menurut aturan yang merah menang karena alasan dia masih bisa melanjutkan pertandingan besok. Jika pun dimenangkan yang biru, dia juga tidak bisa main lagi besok karena ini (pertandingan-red) berlanjut. Itu alasannya kenapa petinju Sabang yang dimenangkan” ujar Boga.
Komite Teknis menyarankan ofisial tim Aceh Selatan untuk menyampaikan protes ke komite wasit bila mencurigai ada unsur kesengajaan.
“Silahkan protes ke wasit kalau merasa lawan sengaja melakukan kesalahan. Tapi harus ada rekaman Vidio. Jika terbukti benar, kami akan diskualifikasi yang menang tadi” terang Boga.
Sementara itu Wakil Ketua Pertina Aceh Selatan, Rustaman turut kecewa dengan hasil pertandingan. Ia mengklaim pihaknya lebih unggul daripada lawan, sehingga hasil ini merugikan pihaknya.
” Saya kecewa dengan keputusan ini, akan tetapi kami tidak memiliki rekaman vidio untuk protes. Doili merupakan salah satu atlet andalan kami. Petinju kami tidak kalah, bahkan menang angka. Ini semata hanya keputusan tim medis” kata anggota DPR Kabupaten Aceh Selatan ini.
Ia pun berharap, Pertina Aceh dapat mempertimbangkan salah satu atlet terbaiknya itu untuk bisa tampil di PORA tahun depan.
“Saya dengar dari komite, petinju kami ini masih berpeluang untuk ikut PORA tahun depan. Hal ini saya rasa baik, agar PORA tahun depan diikuti oleh petinju-petinju bagus demi kualitas event itu sendiri” papar Rustam.







