Penjualan Senjata Buatan Israel Berada di Asia-Pasifik

3.127 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, JAKARTA- India konsumen terbesar dalam pembelian senjata Israel tahun lalu, di tengah peningkatan penjualan ke kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan, menurut Jerusalem Post.

Ekspor militer Israel meningkat 41 persen secara keseluruhan pada tahun 2017, tahun ketiga dimana mengalami peningkatan ekspor berturut-turut dalam sektor pertahanan dan keuntungan tersebut sekitar $9,2 milyar.

Distribusi penjualan terbesarnya sekitar 58 persen berada di Asia-Pasifik, dengan tiga pelanggan teratas Israel semuanya berasal dari India yang melonjak ke depan dengan pembelian sebesar $715 juta, Vietnam $142 juta dan Azerbaijan $137 juta.

Penjualan ke Eropa masih menyumbang 21 persen dari pendapatan penjualan senjata, dengan Amerika Utara sebesar 14 persen dan Afrika dan Amerika Latin membentuk sisa tujuh persen.

Mayoritas ekspor Israel terdiri dari pertahanan udara, sistem radar dan amunisi, dikembangkan dan sering diuji oleh militer Israel dalam serangan di wilayah Palestina.

Bulan lalu, India membatalkan pembelian dua perusahaan senjata Israel, Aerospace Industries dan Rafael Advanced Defense Systems Ltd, yang sebelumnya telah masuk daftar hitam sejak 2006 karena dugaan suap.

Penjualan senjata Israel ke Asia juga mendapat sorotan mengingat fakta bahwa Israel terus menjual senjata ke Myanmar, meskipun ada kecaman internasional atas tindakan keras negara itu terhadap minoritas Muslim Rohingya. AS dan Uni Eropa telah menerapkan embargo senjata di negara Asia Selatan setelah laporan PBB bahwa para tentara melakukan pembersihan etnis.

Persenjataan dilaporkan dijual ke Myanmar termasuk lebih dari 100 tank, senjata dan kapal militer yang telah digunakan untuk mengawasi perbatasan negara dan melakukan banyak tindakan kekerasan terhadap Rohingya.

Menanggapi petisi yang diajukan oleh beberapa pengacara hak asasi manusia terkemuka September lalu, Israel mengeluarkan perintah pembungkaman terhadap Pengadilan Tinggi negara itu yang sekarang akan dipaksa untuk merahasiakan rincian putusannya pada petisi menentang penjualan senjata ke Myanmar.

Yair Auron, yang mendukung kampanye menentang penjualan, mengatakan bahwa pasokan senjata Israel ke rezim seperti Myanmar harus dibandingkan dengan pengiriman senjata ke Nazi Jerman selama Holocaust.

sumber: tigapilarnews.com