Presiden Jokowi Membuka Pertemuan Konferensi Ulama Trilateral di Istana Bogor

3.904 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, Jakarta- Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah membuka pada hari Jumat Konferensi Ulama Trilateral di Istana Bogor, yang melibatkan para ulama Indonesia, Afghanistan dan Pakistan. Jumat, 11 Mei 2018.

Acara sehari penuh, yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), diberi tema “Islam sebagai Rahmatan lil Alamin: Perdamaian dan Stabilitas di Afghanistan”.

“Pertemuan ini adalah bagian dari komitmen Indonesia untuk mempromosikan peran ulama [dalam menciptakan perdamaian],” kata Jokowi saat upacara pembukaan pada Jumat pagi. “Kami tahu upaya kami untuk menciptakan perdamaian tidak pernah mudah, tetapi sebagai orang beriman, kita harus percaya pada bantuan dari Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak boleh kehilangan harapan atau menyerah.”

Dia menambahkan bahwa para ulama bisa lebih baik mempromosikan perdamaian, karena mereka adalah figur model yang diikuti oleh kebanyakan pengikut Muslim dan didengarkan, dan juga memiliki otoritas “untuk membentuk citra Muslim”.

Dalam sambutannya, Presiden juga menekankan bahwa perdamaian dan stabilitas di Afghanistan adalah tujuan lama Indonesia, sehingga dia “mengutuk keras” relokasi yang direncanakan dari Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Saya mendesak negara-negara lain untuk tidak mengikuti langkah (AS), yang telah mengganggu proses perdamaian,” kata Jokowi, menambahkan bahwa Palestina berada di “napas masing-masing orang Indonesia.”

Awal tahun ini, Jokowi bertemu dengan mitranya dari Afghanistan Ashraf Ghaniand, serta presiden Pakistan Mamnoon Hussain dan Perdana Menteri Shahid Abbasi, di negara masing-masing untuk mengusulkan agar mereka mengadakan konferensi ulama trilateral di Indonesia, yang mereka sepakati.

Para wakil ulama dari ketiga negara itu diharapkan membahas peran mereka dalam menabur benih-benih perdamaian dan stabilitas di Afghanistan. Agenda mereka meliputi lima masalah kunci perdamaian dan persahabatan di bawah Islam, ekstremisme keras, aitidal (toleransi), peran pembangunan perdamaian ulama, dan peran negara dalam upaya perdamaian.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan menutup rapat pada Jumat malam.

Sumber: Tigapilarnews.com