ACEH UTARA, BuanaIndonesia.com – Sarana air bersih di Desa Gampong Peurupok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara dibiarkan terlantar. PPTK proyek mengaku sudah selesai mengerjakan seluruh item proyek WTP tersebut, namun perusahaan daerah menolak mengoperasikannya. Sementara PDAM Tirta Mon Pase mengatakan tidak bisa mengelola sarana air bersih karena lokasinya tidak sesuai.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek Sarana Air Bersih Paya Bakong, Zulfitriansyah, mengakui seluruh pembangunan sudah selesai dikerjakan pada akhir tahun 2014. Diantaranya, water intake, menara air, bak penampung dan gudang genset serta trafo. Selain itu melalui sumber dana yang sama, Pemerintah Aceh juga membangun pipa induk sekitar 13.000 meter. Sementara instalasi sambungan rumah sebanyak 200 SR tidak dikerjakan, sementara ketika ditanyakan mengenai trafo dan beberapa peralatan lainnya yang tidak tampak dilokasi, Zulfiriansyah mengatakan telah diamankan karena takut dicuri orang.
“Karena tidak dioperasikan, kita amakan supaya tidak hilang, sementara dana yang telah dihabiksan untuk proyek tersebut lebih dari 2 miliyar,” katanya.
Namun ketika ditanyakan mengapa belum digunakannya aset pemerintah yang telah selesai tiga tahun lalu itu, Zulfitriansyah mengaku tidak tahu.
“Kita tidak tau mengapa sampai sekarang tidak difungsikan,” tegasnya.
Lebih lanjut Zulfitriansyah mengatakan, PDAM Tirta Mon Pase telah meninjau langsung sarana air bersih di Desa Peurpok, namun perusahaan milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara itu belum juga mensuplai air bersih.
Sementara itu Sekeratis Dinas Ciptakarya Pemkab Aceh, Razali mengatakan, seluruh instalasi untuk 200 SR masih tersimpan di gudang dinas. Selain itu, berbagai peralatan lainnya juga disimpan pihak Dinas Ciptakarya, seperti trafo, Genset dan peralatam laboratorium.
Hal berbeda disampaikan Direktur PDAM Tirta Mon Pase, Zainuddin M Rasyid, tidak bisa mengoperasikan sarana air bersih di Paya Bakong karena air baku tidak cukup. Menurutnya, lokasi pembangunan proyek tidak sesuai, debit air sungai yang menjadi sumber air terlalu minim. Akibatnya, air baku tidak cukup untuk diproses menjadi air bersih kepada masyarakat. Selain berbagai peralatannya telah rusak, untuk menjalankan WTP juga butuh dana tidak sedikit.








