Sorga dan neraka yang dianggap banyak kalangan sangat penting Ternyata tidak berlaku bagi Rabi’ah al-Adawiyah. Justru Sorga & Neraka Bagi Rabi’ah al-Adawiyah Adalah Tidak Penting
Sorga dan neraka yang dianggap banyak kalangan sangat penting, Ternyata tidak bagi Rabi’ah al-Adawiyah. Justru, Sorga & Neraka Bagi Rabi’ah al-Adawiyah Adalah Tidak Penting
Bagi Rabi’ah al-Adawiyah, Yang terpenting adalah keridhoan Allah. Dia merasa senang, apa bila semua yang dilakukan bisa membuat Allah ridho.
Sorga dan neraka bagi Rabi’ah al-Adawiyah Adalah Tidak Penting. bahkan, sorga dan neraka yang dianggap banyak kalangan penting itu, malah justru dikhawatirkannya, bisa menjadi hijab, atau penghalang hubungan antara dia dengan Tuhannya, yaitu Allah.
Di banyak kisah menceritakan tentang ketaatan Rabi’ah al-Adawiyah. Diceritakan, ketaatan Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah tidak diragukan lagi.
Bahkan, hubungan antara Rabi’ah al-Adawiyah Dengan Allah sudah mencapai tingkatan mahabbah, atau Cinta. Sehingga wajar, apabila sorga dan neraka dikhawatirkannya akan jadi Dinding penghalang.
Diceritakan suatu ketika Rabia hendak memasak, namun satu-satunya bawang yang ada hilang. Tapi, tiba-tiba ada seekor burung membawa bawang. akan tetapi, Rabi’ah enggan mengambilnya. dengan pertimbangannya, hawatir iakan jadi tipu daya atau godaan yang bisa menghanyutkan ia kedalam sesuatu. termasuk, hadiah karomah. sebab yang dia harapkan buka pemberian hadiah berupa karomah tapi Allah itu sendiri. Robiah hanya berharap Allah semata bukan sesuatu yang diberikan Allah.
Salah satu Imam Musbikin dalam tulisannya dari Miftahul Asror mengungkapkan, bahwa pernah suatu saat Rabi’ah al-Adawiyah terlihat sedang berlarian di seputaran Kota Basrah, dengan membawa satu ember berisikan air dan sebuah obor dengan api menyala-nyala ditangannya.
Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah ini membuat orang yang melihat tercengang. Sehingga sontak membuat aktivitas masyarakat berhenti untuk melihat Rabi’ah al-‘Adawiyah. Yang saat itu sedang mengitari kota Basrah, sembari membawa sebuah ember berisi air dan api.
Salah seseorang warga Kota Basrah penuh dengan rasa penasaran memberanikan diri menanyakan “Wahai Rabi’ah! Alasan apa yang kemudian menjadikanmu perbuat demikian?”.
Mendengar pertanyaan itu, sontak Rabi’ah al-Adawiyah memberhentikan langkahnya. Dan menjawab “Aku hendak menuangkan air dalam ember yang kubawa ini ke dalam neraka dan mengobarkan api di dalam surga!”.
“Mengapa demikian?”, tanya seseorang dengan penuh kebingungan.
“Ya! Aku ingin menuangkan air ke dalam api neraka dan mengobarkan api di surga sehingga kedua selubung hancur dan hilang dan tidak lagi ada orang yang menyembah Tuhan-Nya karena takut akan pedihnya siksaan api neraka dan mengharapkan nikmatnya surga atas segala ibadahnya”, jawab Rabi’ah al-‘Adawiyah.
“Surga dan neraka itu tidak penting! Dengan hilangnya kedua selubung ini, orang akan beribadah semata-mata demi keindahan-Nya yang abadi”, lanjut Rabi’ah al’Adawiyah.
Mendengar hal tersebut, orang yang tadinya bertanya hanya bisa terdiam. Sesaat setelah itu, Rabi’ah al-Adawiyah pun merapalkan sebuah doa dengan penuh haru.
“Ya Allah! Apabila diriku menyembah-Mu hanya karena takut akan pedihnya siksaan api neraka yang tiada habisnya, bakarlah habis seluruh tubuh ini di dalamnya. Dan apabila diriku menyembah-Mu karena mengharap nikmatnya kehidupan surga, maka campakkanlah diriku saat berada di dalamnya. Namun, jika diriku beribada semata-mata demi Engkau ya Allah, maka janganlah Engkau sesekali enggan untuk memperlihatkan keindahan-Mu yang abadi kepada diriku”, ucap Rabi’ah al-‘Adawiyah.
Dikutif dari Wikipedia, Rabiah Al-Adawiyah dikenal juga dengan nama Rabi’ah Basri. seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan kecintaannya terhadap Allah.
Ia juga dikenal sebagai seorang sufi wanita yang zuhud, yaitu tidak tertarik kepada kehidupan duniawi, sehingga ia mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah.
Sufi adalah orang yang mempelajari bidang ilmu Tasawuf atau ketuhanan.
Rabi’ah diperkirakan lahir antara tahun 713 – 717 Masehi, atau 95 – 99 Hijriah, di kota Basrah, Irak. meninggal sekitar tahun 801 Masehi / 185 Hijriah. Nama lengkapnya adalah Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah.
Rabiah merupakan sufi wanita beraliran Sunni pada masa dinasti Umayyah yang menjadi pemimpin dari murid-murid perempuan dan zahidah, yang mengabdikan dirinya untuk penelitian hukum kesucian yang sangat takut dan taat kepada Tuhan
Rabi’ah Al-Adawiyah dijuluki sebagai “The Mother of the Grand Master” atau Ibu Para Sufi Besar karena kezuhudannya.Ia juga menjadi panutan para ahli sufi lain seperti Ibnu al-Faridh dan Dhun Nun al-Misri.
Kezuhudan Rabi’ah juga dikenal hingga ke Eropa. Hal ini membuat banyak cendikiawan Eropa meneliti pemikiran Rabi’ah dan menulis riwayat hidupnya, seperti Margareth Smith, Masignon, dan Nicholoson.
Sementara itu Dr Pahrudin Faiz dalam sebuah pengajian di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta yang dapat dilihat di akun YouTube menerangkan bahwa didunia tasauf Rabi’ah al-Adawiyah dikenal dengan pencetus gagasan baru atau tren baru tentang Cara Berkomunikasi sama Allah.
Dikatakannya, Para sufi sebelumnya berinteraksi sama Allah baru sampe jalur atau tingkatan khoup (selalu takut keliru sehingga membuat Allah marah) dan Roja (selalu berharap) sementara Rabi’ah al-Adawiyah memperkenalkan jalur berkomunikasi dengan Allah melalui Mahabah atau Cinta
Bahkan Kecintaan Robiah kepada Allah tidak diragukan lagi. Karna banyak cerita mengisahkan kecintaannya kepada Allah ini membuat dia menolak banyak orang yang akan melamarnya.
Robiah pernah berujar bahwa yang buat hidupnya gelisah hanyalah keridhoan Allah. Sehingga walaupun ditengah kemiskinan bahkan tidak punya suami juga tidak membuat gelisah.
Dikisahkan bahwa Robiah ini bahkan setiap malam selalu bermesraan dengan Allah, karrnanya jarang tidur. Sehingga saat dia tertidur ketika dia terbangun dirinya seakan menyesal.
Karna menyesal itu lalu ia berkata kepada jiwanya. untuk tidak tidur sehingga tidak sedikitpun waktu yang terliwatkan saat bersama Allah atau saat berhadapan sama Allah.” Ulas Fahrudin.
Untuk diketahui bahwa menurut wkipedia Sufi adalah penyebutan untuk orang-orang yang mendalami sufisme atau ilmu tasawwuf. Secara umum istilah “sufi” dikatakan berasal dari kata suf yang artinya kain wol, merujuk kepada jubah atau khirqah yang biasa dikenakan para Sufi di masa awal.
Namun, tidak semua Sufi mengenakan jubah, sehingga ada juga yang berpendapat bahwa kata ini berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Pendapat lain mengatakan kata ini berasal shafa yang berarti “kemurnian”. Hal ini menaruh penekanan pada sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.
Untuk lebih lengkapnya tentang kajiannya Rabi’ah al-Adawiyah bisa di tonton di YouTube dibawan ini.








