Empat Kali Gagal, Chaidir Tak Menyerah. Kini Ilmunya Melahirkan Petani Melon Milenial

935 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID ACEH– Di bawah terik matahari sore, Chaidir Saleh (62) mengamati dua perempuan muda yang sibuk menggemburkan tanah di dalam polybag. Sesekali ia memberi arahan, memastikan campuran sekam bakar dan pupuk kandang tercampur sempurna.

“Tanahnya cukup digemburkan bagian atas saja. Nanti difermentasi lagi supaya siap ditanami,” ucap Chaidir.

Advertisement

Pemandangan itu berlangsung di kebun Melon Golden Alisha miliknya yang berada tak jauh dari Stasiun Pengumpul Minyak (SP-7), Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Sulit membayangkan lelaki yang kini harus menjalani aktivitas dengan keterbatasan akibat stroke ringan itu pernah berkali-kali merasakan pahitnya kegagalan. Sebelum dikenal sebagai petani melon premium, Chaidir harus melewati perjalanan panjang yang penuh perjuangan.

Di atas lahan sekitar 1.200 meter persegi, ratusan tanaman Melon Golden Alisha tumbuh rapi di dalam polybag. Setiap batang dirawat dengan telaten. Daun dan ruas batang tertentu dipangkas agar nutrisi tanaman terpusat pada buah.

“Kalau batang dan daunnya dipangkas, buah lebih mudah dipantau. Kita bisa tahu bentuk dan jumlahnya,” katanya.

Chaidir mulai menanam melon sekitar tujuh tahun lalu. Namun, perjalanan itu sama sekali tidak mudah. Ia mengaku empat kali mengalami kegagalan. Tanaman rusak, hasil panen tidak sesuai harapan, bahkan pada panen pertamanya di tahun 2020 rasa melon yang dihasilkan masih hambar sehingga terpaksa dijual di bawah harga pasar.

Meski begitu, ia tidak menyerah. Baginya, keberhasilan pertama bukanlah soal keuntungan, melainkan ketika akhirnya mampu memanen melon hasil kerja kerasnya sendiri.

“Saya tetap bersyukur karena akhirnya bisa panen. Tinggal bagaimana mencari cara supaya kualitasnya lebih baik,” ujarnya.

Sejak saat itu, Chaidir terus belajar secara otodidak. Ia mencoba berbagai metode budidaya, mengamati setiap fase pertumbuhan tanaman, hingga menemukan satu kesimpulan sederhana: rasa manis melon tidak hanya ditentukan oleh bibit, tetapi juga oleh kesabaran.

Jika umumnya melon dipanen pada usia sekitar 55 hari, Chaidir memilih menunggu hingga 60 sampai 70 hari. Perawatan dan pemupukan juga dilakukan lebih disiplin sejak masa vegetatif hingga panen.

Usahanya membuahkan hasil. Melon Golden Alisha dari kebunnya memiliki rasa yang lebih manis dan mulai dikenal konsumen. Pesanan datang melalui media sosial hingga pusat perbelanjaan dan swalayan. Bahkan, ia kerap kewalahan memenuhi permintaan pasar.

Ketika usahanya mulai berkembang, cobaan kembali datang. Pada Desember 2024, Chaidir terserang stroke ringan yang membuatnya harus menggunakan kursi roda. Aktivitas berkebun sempat terhenti dan ia khawatir usahanya ikut berhenti.

Melihat kondisi tersebut, Pertamina EP Field Rantau melalui Program Smart Agriculture Melonesia berinisiatif menjaga agar pengalaman dan pengetahuan Chaidir tidak hilang begitu saja. Ia justru dipercaya menjadi mentor Kelompok Tani Melon Mutiara sekaligus pengajar di Sekolah Lapang Pertamina EP Field Rantau.

Di hadapan belasan petani muda, Chaidir membagikan pengalaman yang diperolehnya selama bertahun-tahun. Mulai dari teknik menghasilkan melon yang lebih manis hingga inovasi pengelolaan media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam.

Cara itu membuat biaya media tanam jauh lebih hemat. Jika satu polybag bernilai sekitar Rp8.000, penggunaan berulang membuat biaya per siklus budidaya hanya sekitar Rp400 hingga Rp500, jauh lebih efisien dibanding metode konvensional yang umumnya hanya memanfaatkan media tanam dua hingga empat kali.

Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Field Rantau untuk mendorong lahirnya petani-petani muda.

“Bapak Chaidir memiliki pengalaman panjang sebagai petani melon. Karena itu beliau menjadi mentor dalam Sekolah Lapang yang akan berlangsung selama 12 kali pertemuan,” kata Iwan.

Menurutnya, regenerasi petani menjadi kebutuhan penting agar sektor pertanian terus berkembang. Anak-anak muda perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu melihat pertanian sebagai usaha yang menjanjikan.

“Program ini bukan sekadar CSR, tetapi upaya nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Kami berharap Melon Golden menjadi ikon baru kebanggaan Aceh Tamiang,” ujarnya.

Bagi Chaidir, berbagi ilmu menjadi cara terbaik membalas semua perjalanan hidup yang pernah ia lalui. Empat kali gagal tidak membuatnya berhenti bertani. Kini, pengalaman itu justru menjadi bekal untuk membimbing generasi muda agar berani memulai dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

Advertisement