
BUANAINDONESIA.CO.ID, BANDUNG – Rabu malam, 15 November 2017 publik kembali tertuju pada partai Golkar. Puluhan petugas KPK dikawal petugas kepolisian mendatangi rumah Setya Novanto di Jalan Wijaya 13 no 19 Jakarta Selatan. Tersiar kabar, Setnov akan dijemput paksa oleh KPK setelah ketua DPR RI tersebut 3 kali mangkir dari panggilan KPK. Lembaga anti rasuah itu merasa berkepentingan memanggil Setnov, selain telah ditetapkan sebagai tersangka, dirinya dianggap mengetahui banyak soal korupsi megaproyeksi, e KTP.
Kejadian malam ini menambah panjang episode drama di Partai berlambang pohon beringin itu. Sedikit banyaknya tentu akan mempengaruhi langkah Golkar di Pilkada serentak Jawa Barat, termasuk Pilgub Jabar 2018.
Cepi Alhumaedi, sekretaris Lembaga Kajian Aliansi Masyarakat Untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen ) mengatakan, rentetan kejadian – kejadian ini sedikit banyaknya akan mempengaruhi laju Golkar di Pilgub Jabar mendatang,
” Terkait pilgub misalnya, di saat sekarang, Golkar ini sedang benar – benar goyah. Ketuanya ( Setnov ) menjadi tersangka, kader Golkar yang digadang – gadang akan mendampingi Cagub Jabar ( Daniel Muttaqien) disebut – sebut dalam kasus gratifikasi dan yang tak kalah penting, internal partai itu sendiri terbelah. Ini akan menambah beban Ridwan Kamil ( RK ) , Cagub yang baru saja diberi rekomendasi Golkar. Citra Golkar sekarang mau tak mau, suka tak suka, akan mempengaruhi RL” kata Cepi.
Masih kata Cepi, ada baiknya calon yang diusung partai Golkar kembali berhitung ulang
” Konsekwensi logis yang harus diterima mereka ( calon kepala daerah yang akan diusung Golkar ) adalah stigma dari masyarakat. Siapkah mereka ? , mengingat ini akan menjadi episode yang sangat panjang, tidak akan reda dalam 1 atau 2 minggu, ” tambahnya.









