
BUANAINDONESIA.CO.ID, BOGOR – Peta koalisi antar-partai politik di Kota Bogor untuk memunculkan pasangan bakal calon wali kota dan wakilnya pada Pilkada serentak 27 Juni 2018 makin mengerucut. Salah satu yang menjadi sorotan, bagaimana langkah selanjutnya pasangan petahana Wali Kota Bima Arya dan Wakil Wali Kota Usmar Hariman. Apakah akan terus jalan bareng atau cari pasangan baru?
Usmar Hariman mengakui sejauh ini belum mendapat jawaban dari Bima Arya. “Sampai detik ini belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh calon petahana (Bima). Belum memutuskan. Dari gesturnya atau bahasa tubuhnya juga belum ada,” ungkapnya.
Lantas bagaimana sikapnya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bogor?
” Demokrat tidak boleh tergantung itu, kami menyiapkan strategi lain. Dalam politik tidak ada kawan sejati. Karena menunggu itu lelah dan menjemukan, maka saya merajut beberapa kemungkinan,” tegas Usmar.
Beberapa kemungkinan yang dimaksudnya dibuktikan dengan langkah melakukan kunjungan balasan ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebuah pertemuan tertutup antara pucuk pimpinan Demokrat dan PKS Kota Bogor dilakukan di Kantor PKS, Selasa malam, 21 November 2017.
Usai pertemuan dengan PKS, Usmar mengatakan bahwa hasilnya 90 persen Demokrat dan PKS sepakat koalisi. Namun, belum memunculkan pembagian siap calon wali kota atau wakilnya.
“ Pembagian siapa yang akan dimunculkan calon wali kota atau wakilnya dari mana belum dimunculkan, kemungkinan ada dua partai lagi yang akan merapat,” kata Usmar.
Di antara dua partai yang dimaksud Usmar, Gerindra sudah dipastikan masuk gerbong koalisi karena sebelumnya sudah sepakat koalisi dengan PKS. PAN juga masih ada kemungkinan dalam waktu sepekan ke depan.
Sementara Ketua DPD PKS Kota Bogor, Atang Trisnanto, mengatakan, koalisi pertemuan dengan Demokrat sangat konstruktif dan menghasilkan sejumlah kesepakatan serta menawarkan alternatif kepemimpinan.
“ Hasil pertemuan sangat konstruktif, menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang segera ditindaklanjuti. Namanya apakah koalisi keumatan, kebangsaan, atau nama lain. Pertemuan ini hasilnya lebih menjanjikan dengan Demokrat dibanding PPP, terbukti dengan adanya kesimpulan. Tiga partai ini (PKS-Demokrat-Gerindra) lebih cepat menentukan kesimpulan, terlebih adanya kesamaan semangat di Pilgub Jawa Barat. Kalaupun nanti masuk PAN dengan calon petahana, PAN harus mengakomodir tiga partai ini yang sudah 90 persen berkoalisi,” bebernya.
Terkait posisi F1 atau F2, kata Atang, PKS menginginkan posisi terbaik.
“Tetapi apabila terjadi dinamika yang kemudian mengarah pada kesepakatan dengan hasil PKS mendapat porsi calon Wakil Wali Kota Bogor, tidak masalah. ” ujarnya








