
MAKASSAR, Buanaindonesia- Penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional ikut menekan harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Harga TBS di kalangan petani berkisar Rp150 hingga Rp200 per kg. Dalam sepekan ini harga TBS sawit berusia 10 tahun ke atas, yang umumnya menghasilkan buah 8 kg per tandan, turun dari biasanya Rp1300 per kg menjadi Rp1150 per kg.
Penurunan harga ini disebabkan oleh panen sejumlah komoditas penghasil minyak nabati seperti biji bunga matahari, kedelai dan kelapa sawit di berbagai belahan dunia.”Meskipun harga turun, dampak terhadap pendapatan petani tidak terlalu signifikan. Para petani masih untung karena harga dasar di petani Rp800 per kg,” kata Philip F. Suwandi, Kepala Cabang Trimegah Securities Tbk, saat dimintai tanggapannya, Senin (3/10)
.
Dia memperkirakan memasuki November nanti harga TBS akan bertahan dikisaran Rp1.150 per kg hingga Rp1.300 per kg. Soalnya, hujan akan mulai turun secara merata pada bulan depan sehingga produksi berkurang. Meskipun harga TBS dan CPO turun di pasar internasional, namun hal itu tidak akan mempengaruhi harga minyak goreng.
Menurutnya, struktur pasar minyak goreng merupakan pasar oligopoli sehingga kalau ada penurunan harga TBS maupun CPO, harga akan tetap stabil, sementara kalau harga bahan baku naik mereka akan menaikkan harga.”Penurunan harga ini tidak akan berpengaruh secara langsung, apalagi kalau sifatnya hanya gejolak sementara,” kata Philip.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, menyebutkan, Bloomberg mencatat pada penutupan perdagangan Jumat (30/9) di bursa derivatif Malaysia, harga CPO untuk kontrak Oktober dan November mencapai titik terendah sepanjang penawaran tahun ini.Untuk pengiriman Oktober harga ditutup pada harga US$ 917,12 per metrik ton dan untuk pengiriman November dicatat sebesar US$ 909,6 per metrik ton. (upeks)







