PALEMBANG, buanaindonesia.com- Melambungnya harga daging sapi dipasaran yang menembus angka Rp. 150 ribu perkilo mendapat sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Sumsel. Bahkan, komisi II DPRD Sumsel akan segera melakukan koordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusinya.
Ketua Komisi II (DPRD) Sumsel, Budiarto Marsul kepada wartawan mengatakan, kenaikan dan kelangkaan daging sapi dipasaran terjadi lantaran stok yang berkurang. Menurutnya, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemprop Sumsel dan dinas terkait untuk segera menjalin kerjasama dengan propinsi tetangga yang saat ini kelebihan stok daging sapi.
“Secepatnya kita akan memanggil dinas terkait agar segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi kelangkaan daging sapi dipasaran. Kita akan mendorong pemerintah agar segera meminta suplai daging kepada propinsi Lampung yang saat ini kelebihan produksi daging untuk menyuplai Sumsel,” katanya.
Dijelaskannya, saat ini terjadi perebutan dengan kota besar lain yang juga butuh daging dari Lampung. Menurutnya, saat ini Jakarta juga mengambil daging dari Lampung, sehingga suplai untuk Sumsel menjadi berkurang.
“Untuk stok daging saat ini kita masih bergantung dengan Lampung, jadi kita harus koordinasi dengan Pemprov Lampung. Sementara kita DPRD hanya bisa mendorong, dan yang berhak mengambil kebijakan adalah pemerintah,” katanya seraya mengatakan, untuk jangka panjang pihaknya juga akan mendorong pemerintah merealisasikan program swasembada sapi.
Sementara itu berdasarkan pantauan, harga Daging Sapi di sejumlah pasar tradisonal di Sumatera Selatan (Sumsel) melambung hingga Rp 150 Ribu perkilogram dari harga sebelumnya hanya dikisaran Rp. 90 ribu per kilonya. Kondisi itu terjadi lantaran stok daging di sumsel berkurang. Akibatnya, dalam beberapa hari terakhir Sumsel mengalami kelangkaan Daging sapi.
Pedagang sapi di Pasar Tradisional Sekip Ujung Palembang, Mursal mengakui, pihaknya berencana mogok menjual daging sapi hingga 3 hari kedepan. “Kita baru mulai hari ini, terpaksa kami lakukan karena memang pedagang kini kesulitan mendapatkan pasokan dari Rumah Potong Hewan (RPH) Palembang,”ujarnya.
Dia mengatakan, jika dalam keadaan normal, seluruh pedagang bisa mendapatkan jatah sebanyak 30/kg setiap harinya. “Tapi sudah beberapa hari ini, kami tidak bisa membeli dengan alasan stok RPH sedang kosong dan harga melambung tinggi hingga mencapai Rp 150 perkilo,”ujarnya. (wardoyo)







