Terkena Penyakit Aneh, Gadis Ini Terancam Tidak Bisa Mengikuti Ujian Nasional

2.313 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Nova Rahayu lahir pada 18 November 2000 di Kampung Palahan, RT 03 RT 01 Desa Margalaksana, Kecamatan Bungbulang, Garut. Ayahnya Igun Agus Dadi dan ibunya Heni Marlina. Nova merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Sayang, ketiga kakaknya meninggal sewaktu kecil, sehingga kini ia menjadi anak tertua di keluarganya.

Nova berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya saat ini bekerja sebagai pengumpul barang rongsokan (pekerjaan yang beberapa bulan ia tekuni supaya bisa dekat dengan sang anak, Nova), sedangkan ibunya hanya mengurus rumah tangga (sebelumnya pernah bekerja sebagai TKW di Abu Dhabi).

Saat ini Nova tercatat sebagai siswa kelas XII di Sekolah Menengah Atas (SMA). Seperti halnya teman sebayanya, Nova seharusnya tengah sibuk manghadapi bekal ujian menjelang Ujian Nasional (UN). Sayang, penyakit yang dideritanya semenjak September tahun lalu, membuatnya terancam tidak dapat mengikuti ujian. Kini Nova hanya bisa terbaring di rumahnya yang sederhana di Bungbulang, Garut.

Peristiwa itu bermula di September 2017. Sepulang sekolah, Nova hujan-hujanan. Malamnya Nova mengeluhkan kakinya yang terasa pegal dan membengkak. Orang tua Nova kemudian memanggil tukang pijat.

Saat dipijat, ternyata tidak hanya di bagian kaki, tetapi hampir seluruh bagian tubuhnya terasa pegal. Tidak disangka, besoknya seluruh tubuh Nova (terutama bagian perut) jadi membengkak.

Memasuki Oktober, keadaan Nova semakin parah. Orang tua Nova membawanya ke RSUD dr. Slamet Garut. Nova sempat melakukan cek darah dan tes urin. Hasil diagnose dokter menyebutkan bahwa Nova menderita bocor ginjal (sedikit atau kecil) dan lambung. Nova disarankan untuk melakukan rawat inap.

Keadaan keuangan keluarga membuat orang tua Nova terpaksa tidak mengikuti saran dokter. Nova kembali dibawa pulang ke rumahnya. Berselang beberapa hari, keadaan Nova semakin mengkhawatirkan. Tubuhnya terus membengkak, dari semula beratnya berkisar 40 kg, saat ini (3 Maret 2018) menjadi 67 kg. Tidak hanya itu, saat menangis, kantung mata Nova juga ikut membengkak hingga berwarna kehitaman.

Selain bengkak, di bagian kaki juga kerap dijumpai sejumlah luka kecil yang mengeluarkan darah bening. Luka itu sulit sekali sembuh. Darah bening yang keluar sulit dihentikan. Kondisi tersebut berlangsung berminggu-minggu. Akibatnya, Ujian Tengah Semester (UTS) pun harus dilakukannya di rumah.

Upaya mengobati penyakit terus dilakukan orang tua Nova. Desember, Nova kembali dibawa berobat. Kali ini Nova berobat ke klinik yang ada di wilayah Bungbulang. Dokter yang memeriksa kembali mendiagnosa penyakit yang sama, yaitu ginjal dan lambung. Karena masih penasaran, Nova dibawa ke dokter yang berbeda (masih di wilayah Bungbulang), hasilnya tetap sama.

Lagi-lagi, kondisi ekonomi yang membuat pengobatan Nova tidak dilakukan secara tuntas. Pengobatan lebih sering dilakukan dengan mengandalkan obat-obat tradisional, hanya mengandalkan informasi alakadarnya di sekitar tempat tinggalnya.

Atas saran kerabatnya, di Januari 2018, Nova dibawa ke pengobatan alternatif di Pangalengan. Di sana, Nova didiagnosa tidak hanya menderita ginjal, tetapi juga lever. Nova disarankan berobat secara rutin. Namun, lagi-lagi persoalan biaya menjadi kendala.

Hingga saat ini Nova masih terbaring di rumahnya. Tubuhnya layaknya perempuan yang tengah mengandung sembilan bulan. Sejak semester dua, Nova tidak bisa lagi ke sekolah, padahal beberapa hari lagi ia harus mengikuti ujian. Mulai dari ujian praktik, ujian simulasi, ujian sekolah, sampai ujian sekolah.

”Setiap pagi, anak saya hanya dapat memandangi sepatu dan seragam sekolah yang sudah lama tidak dapat dipakainya, karena ukuran kakinya semakin membesar,” tutur Heni Herlina, ibunda Nova.

Orangtua Nova berharap anaknya dapat ditangani medis secara baik, sehingga penyakitnya diketahui dengan pasti. Namun ketiadaan biaya, lagi-lagi menjadi kendala. Perlu diketahui keluarga Nova tidak mempunyai kartu BPJS. Akibatnya, seluruh biaya pengobatan harus ditanggung oleh pihak keluarga.

 

Editor  : NA