Musim Hujan, Baku Mutu Air Sungai Menurun Tajam

12.997 dilihat
tampak sungai yang Keruh (poto ab)

MUARAENIM, Buana Indonesia– Curah hujan tinggi yang terus mengguyur di kawasan hulu dan hilir, membuat debit air sungai Lematang Muara Enim meluap. Bahkan, warna air berubah menjadi coklat pekat dan sampah yang hanyut menumpuk di bantaran sungai.

Warga di sekitar bantaran sungai Lematang Awaludin mengatakan, sejak di guyur hujan malam sebelumnya, debit air sungai Lematang menjadi pasang. Akibanya, arus sungai ikut membawa tumpukan sampah dan limbah dari hulu ke hilir. Tak hanya itu, warna air juga menjadi sangat keruh dan lengket. Padahal, air sungai tersebut masih banyak di gunakan warga sekitar untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Utamanya mandi dan mencuci. “Ya, kalau air sungai pasang begini, tentunya banyak juga warga yang susah. Sebab, kalau seperti keluraga saya masih mengandalkan air sungai untuk mandi dan mencuci,” ujar Awaludin di Muara Enim, kemarin kamis (01/12/11)

Advertisement

Senada juga disampaikan Rohana, kendati sudah terbiasa dengan kondisi air pasang semacam ini, namun dirinya tetap merasa kesulitan. Terlebih bila air ikut keruh. Sebab, pakaian yang ia cuci di sungai biasanya akan terlihat lebih kusam. Selain itu, setiap selesai mandi badan juga terasa lebih lengket. Belum lagi, sampah yang ikut arus sangat banyak sehingga sungai terlihat sangat kotor.“Kalau minum, memang saya tidak pakai air sungai, tapi pakai air sumur atau isi ulang. Tapi kalau mencuci dan mandi biasanya di sungai. Tapi kalau sekarang kondisi air sedang tidak bagus, sampah menumpuk dan airnya juga lengket,” papar Rohana.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Kerusakan dan Pemeliharaan Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup (LBH) Kabupaten Muaraenim Eddy Irson menuturkan penguapan air sungai terjadi akibat hujan yang turun di bagian hulu dan hilir sungai. Akibatnya debit arus sungai menjadi meningkat dan arus air menjadi lambat dan menguap. Begitupula dengan tumpukan sampah yang mengalir selama musim pasang ini. Dimana, sampah-sampah  dan limbah-limbah yang berada disepanjang bantaran sungai ikut terbawa arus. Sementara, sedimen dan butir-butir tanah yang ada di sekitar sungai ikut terkisis oleh curah hujan dan air, sehingga membuat warna air menjadi keruh.

“Itulah mengapa setiap musim hujan air sungai menjadi pasang dan keruh. Terlebih kebiasaan masyarakat sekitar yang masih membuang sampah di sungai tentunya sangat berpengaruh dengan tingkat penguapan dan pencemaran air sungai. Baik berupa limbah rumah tangga ataupun industri,” ungkap Eddy

Menurut Eddy, secara berkala tim labolatorium BLH Muara Enim terus melakukan pengujian terhadap baku mutu air sungai Lematang. Dimana, hingga akhir November ini, hasil analisa menunjukan Total Suspended Solid (TSS) atau tingkat kekeruhaan air sungai ini menurun tajam dari batas normal. Yakni antara 104 mg/liter -200 mg/liter dari yang seharusnya 50 mg/liter. Analisa ini di lakukan pada tiga titik yakni Intake PDAM Jembatan Enim II, Hulu PLTU dan Hilir PLTU.

“Besaran angka baku mutu ini tergantung titik-titiknya. Umumnya, uji baku mutu akan menunjukan hasil yang lebih baik di bagian hulu sungai. Sebaliknya untuk hilir kualitas air cenderung lebih buruk,” papar Eddy

Untuk kadar minyak dan lemak, lanjut Eddy, berada pada kisaran 0,008 hingga I,900 mg/liter dari batas normal 1.  Untuk besi berada pada angka 0,380 dari ambang batas 0,3. Sedangkan, untuk ammonia, mangan dan lain-lain masih tergolong aman. “Untuk kadar minyak dan lemak justru akan mengalami penurunan saat debit air meningkat. Sebaliknya, pada musim kemarau kandungan ini akan jauh lebih tinggi,” terang Eddy.

Masih Menurut Eddy, sungai Lematang mengalir dalam batas lintas Kabupaten. Sehingga, pengelolaanya berada pada pihak provinsi. Sebelumnya, berdasarkan SK Gubernur Sumatera Selatan Nomor 16/2005 sungai Lematang berada pada kelas I. Namun, di lapangan kondisi ini dapat saja mengalami perubahan sewaktu-waktu. “Kalau saat ini, mungkin kondisi air sungai Lematang sedang turun tajam. Dan, di perkirakan berada diatara kelas II dan III,” ucap dia

Untuk itu, kata Eddy, diharapkan kepada masyarakat untuk dapat membatasi konsumsi air sungai. Misalnya hanya sebatas mandi dan mencuci saja.Sebab, dikhawatirkan kondisi air yang buruk akan mengandung bibit penyakit dan zat-zat berbahaya lainnya yang ikut hanyut terbawa arus.“Kami harap, jangan gunakan air sungai untuk minum dan memasak. Sebab, kita belum bisa menjamin air sungai ini benar-benar aman untuk di konsumsi,” imbuh dia

Advertisement